Masa depan memang tidak ada yang
tahu. Siapa sangka, pemuda yang dulu harus berhadapan dengan jeruji besi karena
vokal melawan rezim Orde Baru, kini justru memegang palu pimpinan di salah satu
komisi paling berkuasa di Republik Indonesia.
Ia adalah Habiburokhman,
politikus kelahiran Metro, Lampung, yang resmi dilantik menjadi Ketua Komisi
III DPR RI periode 2024–2029. Namun, di balik jas rapi dan jabatan menterengnya
sekarang, tersimpan kisah panjang perjuangan yang penuh peluh dan air mata.
Pekik Perlawanan di Jalanan
Lampung
Tahun 1998 adalah saksi bisu
keberanian Habiburokhman. Saat masih menyandang status mahasiswa hukum di
Universitas Lampung (Unila), ia bukan tipe mahasiswa yang hanya duduk manis di
ruang kelas.
Sebagai pentolan aktivis, ia
berada di garis depan massa yang menuntut reformasi dan mundurnya Presiden
Soeharto. Karena sikap kritisnya yang tak bisa dibungkam, Habiburokhman sempat
beberapa kali ditangkap dan ditahan oleh pihak berwajib. Baginya saat itu,
risiko kehilangan kebebasan adalah harga yang pantas demi sebuah perubahan
bangsa.
Pendekar Hukum bagi Rakyat Kecil
Setelah era Reformasi, semangat
perlawanannya tidak padam, melainkan bertransformasi menjadi pembelaan hukum.
Pada 2005, ia mendirikan Serikat Pengacara Rakyat (SPR).
Lewat wadah ini, Habiburokhman kerap meluncurkan gugatan Class Action melawan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Ia dikenal sebagai advokat yang tak ragu pasang badan untuk urusan publik, meski di saat bersamaan ia juga membangun karier profesional yang sukses melalui kantor hukum Habiburokhman & Co di Menteng.
Tangan Dingin di Balik Kemenangan Tokoh Besar
Karier politiknya mulai melesat
sejak bergabung dengan Partai Gerindra pada 2010. Tak butuh waktu lama bagi
Prabowo Subianto untuk melihat bakatnya. Habiburokhman langsung dipercaya
menduduki posisi strategis sebagai Ketua Bidang Advokasi.
Dunia politik Indonesia pun
mencatat jejak "tangan dinginnya":
Ia adalah sosok di balik tim
advokasi Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI 2012.
Ia memimpin pergerakan hukum
untuk pasangan Anies-Sandi di 2017.
Hingga akhirnya, ia menjadi
tameng hukum utama bagi Prabowo Subianto dalam berbagai ajang Pilpres.
Menjadi Nakhoda Hukum dan
Keamanan
Kini, gelar Doktor Ilmu Hukum
dari Universitas Sebelas Maret (UNS) telah tersemat di namanya. Amanah yang ia
emban pun tak main-main. Sebagai Ketua Komisi III, ia membawahi urusan Hukum,
HAM, dan Keamanan.
Ia kini bermitra langsung dengan
lembaga-lembaga raksasa seperti Polri, Kejaksaan Agung, hingga KPK. Dari
seorang demonstran yang pernah diamankan petugas, kini ia menjadi sosok yang
ikut menentukan arah kebijakan keamanan dan penegakan hukum di tanah air.
Kisah Habiburokhman adalah
pengingat bahwa konsistensi dan pendidikan mampu membawa seseorang dari jalanan
menuju puncak kekuasaan. Dari "musuh" aparat, kini menjadi mitra
strategis negara.
*Wikipedia
#DPRRI #KomisiIII #Aktivis98 #Reformasi98 #PolitikIndonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar