Sabtu, 12 September 2026

Spesifikasi KRI Gajah Mada



Indonesia bakal segera memiliki kapal induk pertamanya yang dinamakan KRI Gadjah Mada. Kapal induk pertama Indonesia merupakan warisan dari tentara angkatan laut Italia, sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi. Lantas seperti apa spesifikasinya?

Spesifikasi KRI Gadjah Mada

Mengutip CNN, Giuseppe Garibaldi adalah kapal dek penerbangan pertama yang pernah dibangun untuk Angkatan Laut Italia. Kabarnya, kapal ini sudah melakukan upgrade besar di Taranto, Italia, sebelum diserahkan ke angkatan laut Indonesia.

Kapal induk yang meluncur pada 4 Juni 1983 ini dirancang dengan kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal (STOVL). Kendati fitur ini membatasi jenis pesawat yang bisa dibawa, Garibaldi tetap mampu mengangkut berbagai helikopter untuk misi serbu.

ITS Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dan mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam berkat sistem mesin penggeraknya. Bobotnya diperkirakan sekitar 13,8 ribu ton.

Kapal ini mampu menampung kru besar, sekitar 600 kru inti kapal, 230 personel grup udara, sekitar 100 personel komando, serta dalam kondisi tertentu dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan.


Kapal ini memilih sistem penggerak konfigurasi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang dibagi dalam dua ruang mesin terpisah demi faktor keselamatan. Mesin ini terdiri dari:

1. 4 Turbin GAS General Electric/Avio LM2500: Menghasilkan daya total hingga 82.000 shp untuk memutar dua poros baling-baling, mampu membawa kapal melaju hingga kecepatan 30 knot dengan jangkauan operasional sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot.

2. 6 Generator Mesin Diesel Grand Motori Trieste B230/12: Digunakan untuk memasok kebutuhan listrik cadangan dan operasional seluruh sistem radar, navigasi, serta instrumen kapal melalui konsol terintegrasi SEPA 7614.

Sebagai kapal induk yang juga mewarisi karakteristik kapal penjelajah, Garibadli memiliki sistem pertahanan diri yang terbilang sangat kuat. Sistem persenjataan dan sensor kapal ini di antaranya:

1. Pertahanan udara: Dilengkapi dengan 2 peluncur rudal delapan sel Selenia 'Albatros' yang menampung 48 rudal Aspide untuk menangkal ancaman udara jarak menengah.

2. Anti-kapal permukaan: Awalnya dipasang 8 peluncur rudal anti-kapal OTOMAT MK-2 di buritan, tapi dilepas pada tahun 2003 untuk memperluas geladak penerbangan.

3. Sistem pertahanan titik (CIWS): Memiliki 3 meriam ganda Breda 40mm/70 yang terintegrasi dengan sistem pertahanan Dardo untuk merontokkan rudal yang lolos dari pertahanan utama, dengan jangkauan tembak hingga 4 km terhadap sasaran udara.

4. Sistem anti-kapal selam: Dipasang 2 tabung peluncur torpedo tiga laras jenis ILAS-3 (kaliber 324mm) yang menggunakan torpedo ringan Mk 46 atau A-244.


*Red


Jumat, 11 September 2026

Komandan Coboy Celana Jeans Di Operasi Seroja

Dalam sejarah militer Indonesia, operasi militer besar yang tak akan dilupakan adalah operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1975. Berbagai kisah operasi di negara yang sekarang bernama Timor Lorosai sudah menjadi legenda namun dari semua operasi di wilayah tersebut adalah operasi Flamboyan yang menjadi pijakan awal keterlibatan Indonesia dalam konflik di Timor Timur ini dan yang menjadi pemimpin operasi tersebut adalah seorang petarung dari satuan pasukan khusus Angkatan Darat yakni Dading Kalbuadi.

Dading Kalbuadi akan diingat sebagai komandan coboy karena dalam sebaran internet dengan kata kunci operasi Seroja akan terdapat foto seorang pria dengan topi coboy dan menggunakan kaos sedang memimpin operasi. Ya itu foto Dading Kalbuadi yang saat itu sedang memimpin operasi Flamboyan.

Operasi ini adalah operasi rahasia Klandestin dengan cara pendekatan budaya dan militer lokal. Ia diperintahkan langsung oleh Benny Moerdani yang kala itu menjabat wakil kepala BAKIN, Kepala Pusat Intelijen Strategis dengan pangkat Mayor Jenderal.

Umur Dading sebenarnya lebih senior dari Benny Moerdani namun Benny lebih dulu melesat usai mendapat Bintang Sakti pasca operasi di Irian Barat. Mereka bersahabat sejak dulu saat masih sama sama di RPKAD. Keduanya melalui berbagai medan operasi tempur bersama diberbagai operasi mulai dari operasi penumpasan PKI hingga DI/TII.

Dading nyaris kehilangan nyawa akibat lehernya terkena pecahan mortir dalam sebuah operasi penumpasan PRRI/PERMESTA di Riau namun ia selamat.

Saat diperintah berangkat memimpin operasi, Benny Moerdani berujar bahwa ini mungkin operasi tanpa kemungkinan pulang alias one way ticket.

"Sudah Ben, tak apa-apa. Saya kerjakan tapi tolong titip keluarga saya kalau nanti saya tidak kembali", jawab Dading pada sahabatnya.

Dading memimpin pasukannya masuk ke Timor-Timur tanpa seragam militer. Mereka mengenakan celana jeans dan kaos oblong itu sebab pasukan ini di sebut The Blue Jeans Soldiers.

Dalam beberapa foto saat Dading di Timor-Timur terlihat dengan mengenakan topi coboy dan kaos oblong ditutup dengan jaket sipil namun menyandang pistol di pinggang.

Saat foto itu diambil, Dading baru berpangkat kolonel dengan jabatannya adalah Komandan Grup 2 Komando Pasukan Sandi Yudha atau Kopasus yang kita kenal sekarang.

Menjelang serangan besar ke Timor Timur yang kelak dikenal dengan operasi Seroja, tugas Dading dengan timnya adalah menguasai Balibo, pintu gerbang Timor Timur di sisi utara karena kelak Balibo akan jadi pijakan awal ABRI untuk masuk ke Timor Timur.

Tanggal 7 Desember 1975, ibu kota Timur Timur yakni Dili diserbu serentak dari darat laut dan udara. Perlahan tapi pasti Timur Timur dikuasai Indonesia.

Operasi flamboyan melambungkan nama Dading Kalbuadi meski sudah malang melintang di berbagai operasi tempur, tapi bagi Dading tak ada yang lebih berkesan ketimbang operasi Timur Timur.

Memang selama ini walau sudah lama di militer namun nama Dading Kalbuadi jarang terdengar hingga operasi Flamboyan terdengar.

Usai operasi di Timtim, Dading diangkat menjadi Panglima Komando Daerah Pertahanan dan Keamanan Timur Timur dengan pangkat Brigadir Jenderal. Dading baru meninggalkan Timur Timur sekitar tahun 1978.

Dia dipindah tugaskan ke Bali menjadi Panglima Kodam Udayana.

Lalu ia diangkat menjadi Kepala Staff Umum ABRI dan ini adalah jabatan militer terakhir yang ia sandang lalu jabatan sipil yang di pegang Dading adalah Inspektorat General Departemen Pertahanan.

Pangkat terakhir Dading adalah Letnan Jenderal dan sebagai prajurit lapangan, Dading lebih suka memimpin di lapangan tempur.

Saat Timor Timur merdeka pada tahun 1999, tepatnya pada 30 Agustus 1999 dan di Oktober tepatnya pada 10 Oktober 1999 Letnan Jenderal TNI (Purn) Dading Kalbuadi berpulang.

 

*Benrus

 

Kamis, 10 September 2026

Sesmenko Polkam Pimpin Rapat Koordinasi Terkait Pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 Tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)


Jakarta -Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Sesmenko Polkam) Letjen TNI Mochammad Hasan memimpin Rapat Koordinasi terkait pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Jakarta, Rabu (9/9/2026).


Rakor ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan sinergi kementerian/lembaga dalam pencegahan, pengendalian, serta penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Langkah terpadu diperlukan untuk memastikan penanganan Karhutla berjalan efektif dan berkelanjutan.

Kemenko Polkam terus mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan pengendalian Karhutla yang lebih optimal, sekaligus melindungi masyarakat, lingkungan, dan kepentingan nasional.

Selain secara offline, rapat koordinasi ini juga dilaksanakan secara online yang menghadirkan perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan. Rapat turut dihadiri Deputi Bidang Perundang-undangan dan Administrasi Hukum Kemensetneg Lydia Silvanna Djaman, Plt. Sesmenko Pangan Kasan, Sestama BRIN Nur Tri Aries Suestiningtyas, Jam Pidum Leonardo Eben Ezer Simanjuntak, Waka Bareskrim Polri Irjen Pol. Nunung Syaifuddin, Danpuspom TNI Marsma TNI Bambang Suseno, perwakilan Kemendagri, perwakilan Bakom, serta perwakilan Kementerian dan Lembaga terkait.

#KemenkoPolkam

#SesmenkoPolkam

Rabu, 09 September 2026

PERINGATAN MAULID NABI: KEPALA BNN RI AJAK JAJARAN TELADANI SIFAT RASULULLAH DALAM BERTUGAS

Jakarta - Semangat meneladani akhlak Rasulullah mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar BNN, pada Selasa (8/9), di Masjid At-Taubah BNN, Cawang, Jakarta Timur. Tidak hanya sekadar peringatan keagamaan, kegiatan tersebut menjadi sarana refleksi bagi seluruh jajaran BNN untuk memperkuat nilai spiritual dalam menghadirkan pengabdian bermanfaat bagi masyarakat.

Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, dalam kesempatan tersebut mengingatkan seluruh jajarannya untuk menjadikan kejujuran, integritas, dan amanah sebagai fondasi dalam melaksanakan tugas. Ia menilai upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) merupakan bagian dari implementasi nilai amar ma’ruf nahi munkar.

“Saya mengajak seluruh jajaran BNN untuk terus meneladani sifat-sifat yang diajarkan Rasulullah dalam setiap pelaksanaan tugas, jadikan amanah yang diberikan negara sebagai tanggung jawab yang kelak akan Kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujarnya.

Selain menekankan pentingnya integritas, Kepala BNN RI juga mendorong jajarannya untuk bekerja secara cerdas, terus berinovasi, dan tidak kenal lelah dalam menyampaikan informasi mengenai bahaya narkotika kepada seluruh lapisan masyarakat.

Menurutnya, nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW harus tercermin dalam setiap langkah pengabdian, termasuk dalam upaya BNN memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat dari ancaman narkotika.

Sementara itu, Al Habib Rifky bin Hasan Alaydrus dalam ceramahnya menyampaikan bahwa keberadaan BNN memiliki peran penting dalam menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.

Tugas BNN diungkapkan Sang Habib tidak hanya berkaitan dengan upaya memberantas narkotika, tetapi juga merangkul dan membantu mereka yang terdampak penyalahgunaan narkotika agar dapat kembali pulih, sehat, dan diterima di tengah masyarakat.

“Dengan bekerja di BNN, Kita bisa mengajak dan merangkul orang untuk pulih,” tuturnya.

Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang pentingnya menghadirkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama. Keluarga besar BNN melalui momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diharapkan semakin teguh dalam menjalankan amanah untuk mewujudkan Indonesia Bersinar. 

#warondrugsforhumanity

BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN

Selasa, 08 September 2026

Jakarta Kurang RTH

Di balik wajah taman-taman kota yang tampak rapi dan tertata, Jakarta masih menghadapi persoalan mendasar terkait ketersediaan dan kualitas ruang terbuka hijau (RTH).

Di tengah kepadatan bangunan dan aktivitas urban yang kian intens, ruang hijau yang seharusnya menjadi penyangga ekologis justru belum berfungsi optimal.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian akademik, luas RTH di Jakarta saat ini baru mencapai sekitar 5,31 persen dari total wilayah.

Angka tersebut masih jauh dari amanat Undang-Undang Penataan Ruang yang menetapkan minimal 30 persen RTH untuk kawasan perkotaan.

Defisit ini berdampak langsung pada fungsi taman kota, khususnya di Jakarta Pusat, yang belum mampu bekerja maksimal sebagai penyeimbang ekologis di tengah kepadatan urban yang ekstrem.

Pengamat lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai persoalan RTH di Jakarta bukan semata soal keterbatasan jumlah, melainkan juga kualitas serta orientasi perancangannya.

Banyak taman kota yang secara visual tampak hijau dan tertata, tetapi secara ekologis justru lebih menyerupai ruang keras yang didominasi beton dan perkerasan.

“Dari hasil penelitian, fungsi taman-taman kota di Jakarta sebagai penyangga ekologis masih jauh dari optimal. Banyak taman dirancang seperti ruang publik pusat kota, bukan sebagai sistem ekologis hidup,” kata Mahawan dalam kajian akademiknya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (21/1/2026).

Taman tampak hijau, tetapi panas

Mahawan mencontohkan hasil penelitian di kawasan Kalijodo, Jakarta Barat. Meski kerap dipersepsikan sebagai ruang terbuka hijau baru, kawasan tersebut ternyata hanya memiliki sekitar 48 persen tutupan vegetasi. Sisanya didominasi beton dan perkerasan.

Padahal, secara ekologis, taman kota baru dapat bekerja efektif apabila 80 hingga 90 persen lahannya berupa vegetasi hidup.

Ketimpangan tersebut berdampak langsung pada kenyamanan termal. Indeks kenyamanan termal di Kalijodo tercatat sebesar 30,75, yang masuk dalam kategori sangat tidak nyaman.

Artinya, ruang yang secara visual terlihat “hijau” tetap gagal menurunkan suhu dan menciptakan iklim mikro yang sehat.

“Ini menunjukkan taman tidak cukup hanya dinilai dari tampilan visual. Jika vegetasinya minim, fungsi ekologisnya juga gagal,” ujar Mahawan.

Sebaliknya, penelitian di Hutan Kota Srengseng menunjukkan hasil berbeda. Area dengan kanopi pohon yang rapat mampu menurunkan suhu udara hingga 2,44 derajat Celsius dibandingkan area sekitarnya.

Temuan tersebut menegaskan taman kota memiliki potensi besar dalam menurunkan panas perkotaan dan memperbaiki kualitas udara, asalkan dirancang sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar ruang estetika.

Ketimpangan RTH kian terasa di Jakarta Pusat

Defisit RTH semakin terasa di Jakarta Pusat, wilayah dengan kepadatan penduduk, bangunan, dan aktivitas ekonomi tertinggi di DKI Jakarta.

Dengan keterbatasan lahan, keberadaan taman-taman kota di kawasan ini kerap menjadi satu-satunya ruang hijau yang dapat diakses warga.

Namun, menurut Mahawan, minimnya luas dan sebaran taman justru menciptakan ketimpangan ekologis antarkawasan.

Wilayah tertentu menikmati akses ruang hijau dan suhu yang lebih sejuk, sementara kawasan lain berubah menjadi kantong panas dan polusi.

“Ketika taman hanya terkonsentrasi di lokasi tertentu, ruang hijau tidak lagi berfungsi sebagai sistem penyangga kota, tetapi hanya ornamen spasial,” ujar dia.

Kota pun menjadi terfragmentasi secara ekologis. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada lingkungan fisik, tetapi juga pada kualitas hidup warga, mulai dari meningkatnya suhu udara, menurunnya kualitas udara, hingga terbatasnya ruang pemulihan psikologis.

Estetika mengalahkan fungsi ekologi

Mahawan menilai orientasi pembangunan taman di Jakarta selama ini terlalu menitikberatkan aspek estetika.

Desain taman kerap diarahkan pada keindahan visual instan dan kepentingan representasi kota, bukan pada fungsi ekologis jangka panjang.

Salah satu tesis Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia mencatat adanya pertukaran kepentingan dalam perencanaan RTH, di mana konservasi lingkungan dikorbankan demi tampilan yang menarik secara kasat mata.

Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan model zonasi taman dengan komposisi maksimal 20 persen zona estetika dan aktivitas, serta 80 persen zona ekologis.

Dalam analisis prioritas desain tersebut, vegetasi memperoleh bobot tertinggi, melampaui fasilitas duduk, jalur pedestrian, maupun ornamen visual.

Hal ini menegaskan bahwa inti ruang hijau bukan semata keindahan bentuk, melainkan fungsinya bagi lingkungan.

“Ketika desain tidak mengikuti prinsip ekologis, taman bisa ramai secara sosial, tetapi panas dan melelahkan secara lingkungan,” kata Mahawan.

Aktivitas sosial dan tekanan non-lingkungan

Keberadaan pedagang kaki lima (PKL), parkir kendaraan, hingga kegiatan komersial kerap mewarnai taman kota.

Menurut Mahawan, aktivitas tersebut bukanlah persoalan selama dikelola melalui zonasi yang jelas. Namun, tanpa pengaturan yang tegas, aktivitas non-lingkungan berpotensi menggerus fungsi ekologis taman.

Penelitian di Hutan Kota Srengseng menunjukkan kebisingan, kepadatan, dan pergerakan kendaraan dapat menurunkan kenyamanan ekologis kawasan.

Tanah menjadi padat, daya resap air berkurang, vegetasi tersisih, dan kualitas udara lokal memburuk.

“Jika tidak dikendalikan, taman perlahan berubah menjadi ruang transaksi dan parkir, bukan lagi ruang pulih bagi manusia dan lingkungan,” ujar dia.

Agar taman tak sekadar pajangan kota

Mahawan menegaskan, jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin taman benar-benar berfungsi sebagai infrastruktur ekologis, paradigma pembangunan perlu bergeser dari sekadar revitalisasi visual menuju restorasi ekologis perkotaan.

Standar vegetasi minimal 80 hingga 90 persen perlu dijadikan prasyarat dalam desain taman. Area perkerasan harus dikurangi dan digantikan dengan tanah resapan, kanopi pohon, serta vegetasi berlapis.

Indikator seperti suhu permukaan dan indeks kenyamanan termal juga perlu dijadikan tolok ukur kinerja taman, bukan semata kebersihan atau jumlah pengunjung.

Selain itu, defisit RTH Jakarta, khususnya di Jakarta Pusat, perlu dikejar melalui pengembangan taman-taman kecil, koridor hijau, serta jalur pejalan kaki berpohon.

“Dari sisi ilmu pengetahuan, kota yang layak huni bukanlah kota yang sekadar indah dipotret, tetapi kota yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan ekosistemnya,” ujar Mahawan.

Kondisi taman di Jakarta Pusat

Sebelumnya, Kompas.com menelusuri sejumlah taman dan ruang terbuka hijau di Jakarta Pusat, seperti Taman Menteng, Taman Suropati, Taman Situ Lembang, dan Lapangan Banteng, di tengah cuaca hujan.

Di Taman Menteng, fasilitas tampak terawat. Rumah kaca ikonik berdiri bersih, tempat sampah tematik tersedia, dan jalur pedestrian relatif aman meski licin saat hujan.

Lula (29), pekerja kantoran di kawasan Menteng, mengaku rutin singgah di taman tersebut sepulang kerja.

“Buat kami yang kerja dekat sini, taman ini bukan sekadar pajangan, tapi tempat istirahat yang benar-benar kepakai,” ujar dia.

Namun, Lula juga menyoroti minimnya bangku beratap yang membuat pengunjung enggan berlama-lama saat hujan.

Berbeda dengan Taman Menteng, Taman Suropati tampak lebih sunyi. Pepohonan besar menciptakan kesan teduh, tetapi akses yang berada di tengah lingkar jalan membuat taman ini kurang ramah bagi pengunjung dari luar kawasan.

Dimas (27), warga sekitar, menilai Taman Suropati lebih berfungsi sebagai ruang hijau ketimbang ruang rekreasi keluarga.

“Kayaknya memang difungsikan buat ruang hijau saja, bukan buat taman yang ramai,” kata dia.

Sementara itu, Lapangan Banteng tampil megah dengan monumen ikonik dan jalur pejalan kaki yang lebar. Namun, minimnya vegetasi bertajuk rapat membuat fungsi peneduh masih terbatas di sejumlah area terbuka.

Perspektif Tata Kota: Taman Masih Jadi Estetika

Pengamat tata kota M. Aziz Muslim menilai keberadaan taman dan RTH di Jakarta sejatinya memiliki urgensi ekologis dan sosial yang besar.

Ruang hijau berperan dalam menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida, menjaga air tanah, serta membantu menurunkan suhu akibat pemanasan global.

Namun, Aziz mengakui distribusi dan luas taman di Jakarta masih jauh dari ideal.

“Kalau merujuk undang-undang penataan ruang, semestinya RTH itu 30 persen. Jakarta saat ini masih jauh dari angka itu,” ujarnya saat dihubungi.

Menurut Aziz, harga lahan yang mahal dan lemahnya pengawasan tata ruang membuat pemenuhan RTH menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Akibatnya, banyak taman lebih berfungsi sebagai elemen estetika ketimbang ruang publik aktif yang inklusif dan mudah diakses.

Dengan luas RTH yang baru mencapai 5,31 persen, tantangan Jakarta ke depan bukan hanya membangun taman baru, tetapi memastikan setiap jengkal ruang hijau benar-benar hidup, bekerja secara ekologis, dan memberi manfaat nyata bagi warganya.

Sumber : Kompas

 

Menko Polkam : Pentingnya Deteksi Dini Pencegahan TPPO

Jakarta - Kemenko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan pentingnya memperkuat deteksi dini dalam mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Identifikasi perlu dilakukan sejak tahap perekrutan, keberangkatan, perbatasan, hingga tempat kerja, termasuk mengantisipasi pemanfaatan kanal digital oleh jaringan pelaku.

Perkembangan modus TPPO, mulai dari pengiriman pekerja migran secara nonprosedural, eksploitasi seksual dan anak, perekrutan melalui media sosial, hingga online scam, menuntut respons pemerintah yang semakin adaptif. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah perkara yang ditindak, tetapi juga dari kemampuan negara memutus jaringan dan pendanaan pelaku serta memastikan korban mendapatkan perlindungan dan pemulihan.

Dalam Rakor Gugus Tugas PP TPPO di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Selasa (8/9/2026), Menko Polkam mendorong pembangunan basis data nasional yang interoperabel untuk mendukung koordinasi dan pengambilan kebijakan yang lebih tepat. Rakor turut dihadiri Menko PMK Pratikno selaku Ketua II GT PP TPPO, Menteri PPPA Arifah Fauzi, serta perwakilan kementerian/lembaga terkait untuk memperkuat sinergi penanganan TPPO secara nasional.

#KemenkoPolkam

#MenkoPolkam

 

Selamat Memperingati Hari Literasi Dunia

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami, berpikir kritis, memilah informasi, dan mengambil keputusan yang tepat.
Karena dengan literasi, kita membuka jendela pengetahuan, memperluas wawasan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

#HariLiterasiDunia
#WARONDRUGSFORHUMANITY


Biro Humas dan Protokol BNN

 

Senin, 07 September 2026

Presiden Prabowo Pimpin Ratas Penanganan Bencana, Tegaskan Mitigasi dan Kesiapsiagaan Nasional

Jakarta - Presiden RI Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (07/09/2026). Rapat digelar untuk mengevaluasi langkah penanganan sejumlah bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, mulai dari pascagempa di Flores, aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Mengingat posisi Indonesia yang berada di kawasan cincin api yang menuntut kesiapsiagaan menghadapi bencana setiap saat, Presiden menilai kapasitas mitigasi nasional perlu terus diperkuat, slah satunya melalui peningkatan alokasi anggaran.

Terkait kebakaran hutan dan lahan, Presiden meminta jajarannya untuk beralih dari pola reaktif menuju antisipatif, salah satunya melalui perencanaan kesiapsiagaan sarana dan peralatan harus telah tersedia sebelum kejadian serta penyusunan master plan mitigasi yang menyeluruh dan masif.

​Dalam rapat tersebut, Presiden juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di seluruh kabupaten terdampak gempa Flores terus berjalan.

​Sumber: BPMI Setpres

#KemensetnegRI

#RilisPresiden

 

Minggu, 06 September 2026

Waspada Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Mari lindungi diri, keluarga, dan lingkungan terhadap abu vulkanik. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk:

- Menggunakan masker dengan benar hingga menutupi hidung, mulut, dan dagu.
- Menutup pintu, jendela, ventilasi, dan sumber masuknya udara.
- Membatasi aktivitas di luar ruangan.
- Membasahi abu dan jangan disapu kering.
- Memantau informasi dan arahan dari instansi berwenang.

Tetap waspada, jaga kesehatan, dan utamakan keselamatan.

#KemenkoPolkam
 

Sabtu, 05 September 2026

Menko Polkam RI Melantik dan Mengambil Sumpah Jabatan Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat serta Staf Ahli Menko Polkam Bidang Ideologi dan Konstitusi

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago melantik dan mengambil sumpah jabatan Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat serta Staf Ahli Menko Polkam Bidang Ideologi dan Konstitusi di Jakarta, (3/9/20026). Menko juga melepas Irjen Pol. (Purn.) Asep Jenal Ahmadi yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kemenko Polkam.

Pejabat yang dilantik yakni Irjen Pol. Desman Sujaya Tarigan sebagai Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kemenko Polkam dan Brigjen Pol. Andi Muhammad Dicky Pastika Gading sebagai Staf Ahli Menko Polkam Bidang Ideologi dan Konstitusi.

Pelantikan ini turut dihadiri Wamenko Polkam Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, para pimpinan tinggi Kemenko Polkam, rohaniwan, dan staf Kemenko Polkam.

#KemenkoPolkam

#MenkoPolkam



 

Spesifikasi KRI Gajah Mada

Indonesia bakal segera memiliki kapal induk pertamanya yang dinamakan KRI Gadjah Mada. Kapal induk pertama Indonesia merupakan warisan dari ...