Bhayangkara Indonesia News
Menjunjung Kebenaran, Keadilan Dan Kemanusiaan
Rabu, 01 Juli 2026
Selasa, 30 Juni 2026
KAPOLRI KUKUHKAN KENAIKAN PANGKAT EMPAT PEJABAT BNN
Jakarta - Sebanyak empat pejabat
BNN RI memperoleh kenaikan pangkat dalam upacara Korps Raport yang dipimpin
oleh Kapolri Listyo Sigit Prabowo di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, pada
Selasa (30/6).
Dalam Korps Raport tersebut tiga
pejabat utama BNN resmi menyandang pangkat bintang dua atau Inspektur Jenderal
Polisi (Irjen Pol) dan satu pejabat mendapatkan pangkat bintang satu Brigadir
Jenderal Polisi (Brigjen Pol).
Ketiga jenderal yang mendapatkan
kenaikan pangkat bintang dua yakni Inspektur Utama BNN RI, Dicky
Kusumawardhana, Deputi Pemberantasan BNN RI, Aswin Sipayung, serta Deputi
Pemberdayaan Masyarakat BNN RI, Aldrin M.P. Hutabarat. Sementara satu jenderal
yang menyandang pangkat bintang satu, yaitu Direktur Tindak Pidana Pencucian
Uang (TPPU) BNN, Budi Sartono.
Kenaikan pangkat para pejabat
BNN tersebut menjadi bentuk kepercayaan sekaligus penghargaan atas pengabdian
para jenderal dalam memperkuat upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan
dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Kenaikan pangkat tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi jajaran BNN untuk terus meningkatkan profesionalisme, integritas, dan kualitas kepemimpinan dalam pelaksanaan tugas P4GN demi memberikan perlindungan yang optimal kepada masyarakat dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN
Senin, 29 Juni 2026
Kunjungi BNN RI, BMCC FH Universitas Brawijaya Pelajari Dinamika Penegakan Hukum dan Rehabilitasi Narkotika
JAKARTA ( 29/6/26 ) – Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia
(BNN RI) menerima kunjungan edukatif dari Brawijaya Moot Court Community (BMCC)
Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dalam program bertajuk "BMCC Visit
Goes to Jakarta". Pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat BNN RI ini
dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) interaktif. Diskusi kali ini
secara khusus membedah isu sensitif yang tengah berkembang di masyarakat, yaitu
“Penegakan Hukum Terhadap Penyalahgunaan Narkotika Berbasis Kesehatan"
Kegiatan yang dihadiri oleh pengurus dan anggota aktif BMCC ini
bertujuan untuk menyelaraskan perspektif akademis mahasiswa hukum dengan
realita implementasi kebijakan di lapangan. Khususnya, penanganan perkara
narkotika mulai dari tahap penyidikan, persidangan, hingga kebijakan
rehabilitasi medis dan sosial yang humanis.
Dalam sambutannya, Dr. Bina Ampera Bukit, M.Kes. Deputi Bidang
Rehabilitasi BNN RI menyambut hangat kehadiran para mahasiswa dan menekankan
pentingnya ruang dialog yang konstruktif. Dipaparkan bahwa isu pemanfaatan
narkotika untuk kepentingan medis terus berkembang dan memunculkan berbagai
sudut pandang seiring kemajuan ilmu pengetahuan.
"Di Indonesia, kebijakan mengenai narkotika medis masih
diatur secara ketat dalam peraturan perundang-undangan. Namun demikian,
dinamika kebutuhan pelayanan kesehatan, perkembangan penelitian ilmiah, serta
tuntutan terhadap pendekatan yang lebih berorientasi pada rehabilitasi
mendorong perlunya ruang diskusi yang konstruktif. Kita perlu melihat bagaimana
penegakan hukum dapat berjalan selaras dengan pendekatan kesehatan," ujar
Deputi Rehabilitasi.
Melalui sinergi semangat "War on Drugs for Humanity"
ini, BNN RI berharap FGD ini mampu membangun dialog komprehensif dari berbagai
sudut pandang—baik hukum, kesehatan, akademisi, maupun praktisi. Output-nya
diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang objektif dan berbasis bukti
dalam mendukung pengembangan kebijakan penanganan penyalahguna narkotika di
Indonesia.
Di sisi lain, bagi BMCC FH Universitas Brawijaya, observasi
langsung ini sangat krusial untuk membedah kompleksitas regulasi tindak pidana
narkotika. Isu ini sering kali menjadi materi krusial dalam berbagai kompetisi
peradilan semu tingkat nasional.
Dengan memahami langsung dinamika antara penegakan hukum yang
tegas dan pendekatan rehabilitatif dari otoritas terkait, para mahasiswa
diharapkan mampu menyusun argumen hukum yang lebih tajam, solutif, serta
memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap ancaman peredaran gelap
narkotika.
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan sertifikat apresiasi
dari BMCC kepada pihak BNN Pusat serta sesi tour ke Museum BNN untuk melihat
langsung proses hasil kerja Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan
Peredaran Gelap Narkotika (P4GN)
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL
Minggu, 28 Juni 2026
Kemenko Polkam Dorong Optimalisasi dan Penguatan Tata Kelola Ormas
Polkam, Bogor – Kemenko Polkam
bersama Kementerian dan Lembaga terkait membahas optimalisasi tata kelola dan
penguatan kelembagaan Organisasi Kemasyarakatan. Tujuannya untuk mendapatkan
masukan serta praktik baik yang terjadi di daerah, khususnya di Kota Bogor,
yang akan digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan langkah-langkah
strategis dalam optimalisasi dan penguatan tata Kelola Ormas.
"Berbagai pengalaman,
masukan, dan praktik baik yang dilaksanakan di daerah merupakan modal penting
dalam penyusunan kebijakan yang lebih efektif. Melalui rapat koordinasi ini,
kita ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang dirumuskan mampu menjawab
kebutuhan dan tantangan yang dihadapi daerah dalam pengelolaan organisasi
kemasyarakatan,” ujar Asisten Deputi Koordinasi Organisasi Kemasyarakatan
Kemenko Polkam, Wahyu Handoyo di Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/6/2026).
Wahyu menegaskan bahwa penguatan
tata kelola dan kelembagaan organisasi kemasyarakatan memerlukan sinergi dan
komitmen bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh
pemangku kepentingan agar pembinaan dan pengawasan ormas dapat berjalan secara
optimal. Ia juga menekankan pentingnya penguatan berbagai aspek tata kelola,
mulai dari proses pendaftaran, pendataan, hingga pelaporan kegiatan ormas, guna
mewujudkan tertib administrasi.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, yakni Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bogor beserta pejabat yang membidangi urusan organisasi kemasyarakatan. Turut hadir pula perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dalam forum tersebut, para peserta menyampaikan berbagai tantangan, masukan, serta praktik baik dalam upaya optimalisasi tata kelola dan penguatan kelembagaan organisasi kemasyarakatan (ormas), yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan di tingkat nasional.
*Kemenko Polkam RI
Selasa, 23 Juni 2026
Pilah sampah Dari Sumbernya
Memperingati HUT ke-499 Jakarta
dan menyongsong usia lima abad pada tahun depan, Pemprov DKI Jakarta terus
memperkuat Gerakan Pilah Sampah dari Sumber sebagai bagian dari upaya membangun
tata kelola sampah yang lebih baik.
Melalui kebiasaan memilah sampah
sejak dari sumbernya, beban pengangkutan dan pemrosesan akhir dapat dikurangi,
sementara sampah organik maupun anorganik masih dapat dimanfaatkan kembali
melalui berbagai bentuk pengolahan.
Gerakan ini membutuhkan partisipasi
seluruh elemen masyarakat, mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran,
pasar, tempat usaha, hingga lingkungan warga, untuk bersama-sama mewujudkan
Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
#jagajakartapilahsampah #jagajakarta #pilahsampahjakarta #jakartasadarsampah #DKIJakarta
Senin, 22 Juni 2026
City of London: Imperium Lama Pengendali Dunia
PATUNG naga
yang menandai gerbang City of London (CoL) sering ditafsirkan sebagai simbol
kekuasaan tersembunyi. Faktanya, lembaga-lembaga keuangan raksasa memang
memiliki pengaruh besar — karena mereka mengelola aset dalam jumlah luar biasa.
Dunia
keuangan adalah arena persaingan, bukan ruang komando tunggal. Uang memang
panas, karena itu harus dikelola dengan tenang, tertata, berkarakter,
memperhitungkan waktu dan mampu membangun fantasi. Maka, kepentingan utama
bukan soal uang, tapi “sesuatu” di balik uang.
Lebih dari Konspirasi:
Laboratorium kekuasaan Global
City
of London (CoL) bukan pusat pemerintahan bayangan. Ia adalah sesuatu yang nyata
— dan mungkin yang lebih penting: “ia adalah laboratorium kekuasaan ekonomi
global.”
Di
sini terbaca bahwa dalam dunia modern pun, kekuatan tidak selalu berbentuk
senjata, kursi parlemen atau podium politik. Kekuasaan tidak harus berdasarkan
elektoral. Justru kuatnya kekuasaan itu hadir dalam bentuk arus modal, regulasi
pasar, dan jejaring institusi lintas negara.
Square
Mile —istilah lain CoL— tidak menguasai dunia secara rahasia. Tetapi, dunia
memang bergerak mengikuti logika yang diproduksi dari tempat ini. Raja Inggris
pun tak berdaulat jika masuk ke area ini. Bukan sebagai penguasa, tetapi
sebagai tamu yang mengikuti protokol.
Pertanyaannya,
“Siapa di balik area sakral yang hanya seluas 2,9 km ini?”
Knight Templar
Kita
mundur sejenak ke masa silam. Sebelum ada nation-state (negara bangsa), dunia
dikuasai oleh kerajaan. Tapi, di masa itupun kedaulatan raja tergantung pada
masalah finansial. Kenapa? Biaya perang dan armada militer sangat mahal,
membangun istana dan menggaji para bangsawan serta pegawai juga mahal, dan
pajak rakyat tak pernah cukup. Lantas, apa solusinya? Utang! Siapa memberi
utang? Mereka para bankir dan pedagang yang berkumpul di pusat-pusat
perdagangan besar.
Nah,
di titik inilah Knight Templar, kesatria Perang Salib masuk. Abad ke-12,
Templar membangun markas di London bernama “The Temple” serta mendirikan
“Temple Church” pada tahun 1185. Mereka menciptakan semacam surat kredit.
Peziarah menitipkan uang di London, lalu menariknya di Yerusalem. Inilah bentuk
paling awal dari sistem perbankan lintas wilayah.
Ketika
Templar dibubarkan akibat tekanan politik dan finansial dari Raja Philip IV
dari Prancis, wilayahnya tidak otomatis hilang. Wilayah itu berubah menjadi
Inner Temple dan Middle Temple, itulah pusat profesi hukum Inggris Raya sampai
hari ini. Sekilas, apa benang merahnya? Bahwa sistem hukum dan sistem keuangan
sesungguhnya dibidani dari rahim yang sama.
Jelas,
Knight Tempar itu bukan hanya tentara dalam Perang Salib, ia juga arsitek
perbankan dan hukum global. Siklus ini membuktikan kekuasaan berproses
melahirkan otoritas keuangan, dan daya keuangan mampu memperkokoh, melemahkan,
atau bahkan menjatuhkan kekuasaan.
Contoh
kasus. Saat peperangan terjadi —dari perang kolonial hingga perang modern—
siapa yang membiayai? Sekali lagi, bukan sepenuhnya dibiayai pajak rakyat,
karena tak akan cukup — tapi utang ke bank atau ke pemilik modal finansial. Dan
negara yang berhutang harus membayarnya dari obligasi, bunga dan konsesi.
Tempo
doeloe, Raja berutang ke bank, kini negara pun berutang juga ke bank. Dengan
demikian, yang berubah hanya penguasa dan bentuk kekuasaannya: “sistemnya sama”.
Pertanyaannya bukan apakah itu konspirasi, namun pertanyaan cerdasnya ialah,
sistem mana dan siapa yang mengatur hidup kita? Jawabannya mengarah pada CoL.
Ia bukan negara, ataupun institusi – ia adalah sistem.
Gilirannya
tergambar, bahwa penguasa keuangan, termasuk industri perbankan — pada
hakikatnya adalah shadow government.
Contoh
lain. Ketika di abad pertengahan kerajaan masih ribut soal takhta dan darah
biru, perkumpulan bankir dan pedagang di Guildhall sudah menguasai uang. Mereka
memahami bahwa peperangan dan penyebaran armada membutuhkan biaya mahal, dan
pajak rakyat tak bakal cukup membiayainya. Maka terjadilah barter kekuasaan.
Raja menarik pinjaman utang, dan CoL dapat hak istimewa hukum yang tidak bisa
disentuh oleh kerajaan. Lalu hasilnya apa? Area 2,9 km itu seperti negara di
dalam negara di London — dengan polisi sendiri, sistem hukum sendiri, dan
sistem politik yang “tidak ada urusan sama sekali dengan elektoral atau
demokrasi”.
Demokrasi, HAM dan Standarisasi
Di
mata City of London, dunia ini bukan tentang negara, tetapi gambaran dari
perusahaan yang pusat syarafnya ada di Area 2,9 km, Square Mile. Demokrasi,
HAM, dan standarisasi serta ukuran reputasi diproduksi di sini. Jadi, selain ia
merupakan nilai atau sasaran, juga soal branding. Di balik branding itu
tersimpan kepentingan: “mendikte dunia dengan atau tanpa senjata”. Kalau ada
negara menolak sistem ini akan ada sanksi, kudeta, perang dan seterusnya. Semua
dilakukan atas nama sistem yang mereka bangun — sebagaimana jatuhnya Soekarno,
Soeharto, Saddam Husein di Irak, Moamar Gaddafi di Libya, Moh Morsi di Mesir,
Bashir al Assad di Syria dan lainnya.
Sejak
awal, tempat ini dibangun tidak untuk rakyat, bukan demi keadilan, tak pula
untuk (kedaulatan) suara publik, namun untuk uang, uang dan uang. Motif mereka
hanya satu: “keuntungan di atas kemanusiaan.”
Ketika
terjadi krisis ekonomi, inflasi, atau utang negara yang tak pernah lunas, itu
bukan kebetulan. Ini efek langsung kolaborasi antara CoL dengan
“kaki-kaki”-nya. Covid-19, misalnya, atau dokumen Epstein, kebijakan Trump, dan
krisis regional atau internasional — memang diciptakan.
Lagi-lagi,
di sini patut dipahami bahwa financial military industrial complex bersama
nilai-nilai atau isu yang menyertai di balik uang. Sayang, kita acapkali
membahas uang berhenti terbatas pada fungsinya saja.
Dulu,
Inggris menaklukkan dunia bukan semata armadanya kuat, namun karena kuat di
modal. Ya. Square Mile membiayai ekspansi Inggris menjalankan peperangan.
Koloni dijarah, pasar dikuasai. Bagi City of London, perang bukan soal
ideologi, tetapi investasi. Kerajaan menduduki wilayah, Square Mile dapat
bunga, kontrol pasar, dominasi sistem keuangan.
Inilah
kenapa, Kekaisaran Inggris (Pax Britannica) bisa menguasai dunia. Mereka
memiliki mesin uang tak terbatas. Pertanyaan menggelitik muncul, “Lantas, apa
tugas kerajaan Inggris hari ini?” Jawaban vulgarnya, ia sekadar “satpam” dari
sistem City of London. Maka CoL adalah produsen makna kehidupan yang sumbernya
dari uang. Di sini sistem dipelihara, standarisasi, disiplin, dan reputasi —
dibangun.
Ketika
muncul pertanyaan di publik, “Kenapa banyak negara maju dan kaya, tapi utangnya
juga sangat besar dan gila?” Jawabannya bukan di buku ekonomi sekolah,
jawabannya ada di Area 2,9 km, Square Mile di London. Karena ia bukan distrik
bisnis lazimnya, namun entitas amoral — yang menempatkan profit di atas nyawa
dan keadilan.
Lewat
bursa komoditas LME misalnya, mereka mengontrol emas, berlian, hingga tembaga
dari tanah negara-negara berdaulat lain. Contoh tambang di Grasberg, Papua,
logamnya diperdagangkan di bursa ini meski lingkungan Grasberg hancur dan HAM
diinjak-injak.
Bagi
mereka, transparansi itu sampah jika mengganggu likuiditas modal. Lewat pemodal
besar, mereka mengatur bursa. Ingat dana talangan 700 milyar dolar AS era GW
Bush dan Obama saat krisis keuangan global. Dana itu mengalir ke Wall Street
sehingga bursa ini diduduki pendemo (Occupy Wall Street, 17 September 2011
hingga November 2011).
Kenapa
semua itu bisa berlangsung hingga kini?
Hal
tersebut berawal dari Revolusi Agung 1688. Ketika itu para bankir dan pedagang
besar di London merasa letih dan kesal menyaksikan raja yang selalu gagal bayar
utang. Solusinya adalah memangkas kuasa raja, lalu mendirikan Bank of England
pada 1694. “Inilah titik balik paling jahat”.
Beban
utang para elit dipindahkan ke pundak rakyat. Utang negara diciptakan dan pajak
rakyat dijadikan jaminan. Jadi, setiap kali rakyat membayar pajak, tidak selalu
untuk infrastruktur misalnya, atau untuk pendidikan, kesehatan dll — namun buat
jaminan pemegang obligasi di Area 2,9 km ini. Lihat, di Indonesia hal itu
terjadi dengan istilah ruang fiskal sempit disebabkan bayar cicilan dan bunga
utang.
Penjajahan Sistem
Bagaimana
entitas CoL menjaga agar modus ini tetap stabil?
Pertama,
memakai tangan halus (soft power). Secara internal, di Parlemen Inggris ada
“City Rememberancer”, pejabat yang tugasnya mengawasi semua undang-undang dan
memastikan sistem CoL tetap aman.
Sedang
di luar, ia memakai tangan NGO, media massa dan yayasan-yayasan. Seperti kita
sebut di atas, misalnya, seperti WEF, NED, Open Sosiciety, Ford Foundation —
mereka menjual paket demokrasi, HAM, standarisasi keuangan; sedangkan Financial
Times, BBC, dan sejenisnya bertugas mengajari masyarakat global bahwa pasar
bebas itu mulia, netral dan lainnya. Padahal, fungsi sebenarnya adalah
“mendisiplinkan negara” yang keluar dari sistem ala Barat cq CoL.
Ya.
Negara boleh ganti presiden berkali-kali. Tapi jika berjalannya mengganggu
kepentingan Area 2,9 km maka akan dilabel otoriter, anti-demokrasi, melanggar
HAM, merusak lingkungan hidup dan lainnya.
Jadi,
demokrasi, HAM, transparansi dan standarisasi keuangan, serta pemeringkatan
kredit itu hanya untuk mendisiplinkan negara yang hendak mandiri. Jelas untuk
memastikan kepatuhan pada sistem mereka.
Kedua,
memakai tangan besi (hard power). Ini sudah terjadi di Irak, Libya dan lainnya.
Teraktual, lihatlah Venezuela. Sebanyak 31 ton emasnya disandera Bank of
England dengan dalih rezim tidak demokratis.
Sungguh
ironis. Emas milik negara berdaulat, namun yang menentukan boleh dipakai atau
tidak, justru bankir di London. CoL sudah menciptakan ekosistem dimana
kedaulatan negara hanya sampul luar. Di baliknya, ada intelijen Five eyes
militer NATO di bawah pimpinan Amerika Serikat (AS) — siap menjadi “satpam”
guna memastikan kekayaan dunia tetap bermuara di Squre Mile, Area 2,9 km.
Inilah penjajahan sistem, bukan lagi penjajahan wilayah sebagaimana terjadi di
era klasik.
Jika
kini terjadi keretakan hubungan antara AS dan NATO di bawah kepemimpinan Donald
Trump adalah soal keretakan elit. Trump bertahan atas energi fosil, elit lain
mendorong kehadiran energi terbarukan.
Trump
masuk kripto sebagai jalur masuk ke mata uang digital, elit tertentu masih
melihat bioteknologi masih belum kompatibel dengan uang digital. Trump memaksa
peningkatan belanja militer, yang lain bertahan. Trump berkiprah dengan tarif,
yang lain melihat, salah sendiri AS meninggalkan industrialisasi manufaktur dan
terlalu fokus pada teknologi informasi.
Tapi,
justru dengan dokumen Epstein dan kemunculan CoL, Trump sebenarnya dalam proses
digeser. Sebagai imperium lama, CoL tetap bertaring mendunia. Ini bukti, dunia
tergenggam oleh CoL, kelompok di balik Washington dan New York, serta pemain
inti Tel Aviv.
Akankah
makin busuk? Selama matahari terbit di Timur, jarum jam berputar dan proses itu
terus berjalan. Kemunafikan dan multiple suitable standards yang konsisten
justru menghantarnya ke puncak kebusukan.
*Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief
Pranoto
Sabtu, 20 Juni 2026
Apa Itu Intelijen Sumber Terbuka (OSINT)?
Dari semua subtipe intelijen ancaman ,
intelijen sumber terbuka (OSINT) mungkin yang paling banyak digunakan, dan itu
masuk akal. Lagipula, sebagian besar gratis, dan siapa yang bisa menolaknya?
Sayangnya, seperti halnya subtipe utama lainnya — intelijen
manusia, intelijen sinyal, dan intelijen geospasial, untuk menyebutkan beberapa
— intelijen sumber terbuka banyak disalahpahami dan disalahgunakan.
Penggunaan yang meluas dan semakin canggihnya OSINT tercermin
dalam proyeksi pasar. Bahkan, menurut laporan Future
Market Insikt, industri OSINT diprediksi akan mencapai angka fantastis $58
miliar pada tahun 2033, yang menyoroti semakin pentingnya dan integrasinya ke
berbagai sektor.
Jika Anda pernah bertanya pada diri sendiri, 'Apa kepanjangan
dari OSINT?', 'Apa itu intelijen sumber terbuka (OSINT)?', atau 'Apa arti
OSINT?', teruslah membaca untuk mengetahuinya.
Dalam postingan blog ini, kita akan membahas dasar-dasar
Intelijen Sumber Terbuka, atau OSINT , termasuk bagaimana
penggunaannya, serta alat dan teknik yang
dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisisnya. Kita akan membahas apa
itu OSINT, mengeksplorasi arti OSINT dan peran pentingnya dalam bidang
pengumpulan intelijen.
Poin-Poin Penting
·
Intelijen
sumber terbuka berasal dari data dan informasi yang tersedia untuk masyarakat
umum . Hal ini tidak
terbatas pada apa yang dapat ditemukan menggunakan Google, meskipun apa yang
disebut "web permukaan" merupakan komponen penting.
·
Sekalipun
intelijen sumber terbuka sangat berharga, kelebihan informasi merupakan masalah
yang nyata . Sebagian besar
alat dan teknik yang digunakan untuk melakukan inisiatif intelijen sumber
terbuka dirancang untuk membantu para profesional keamanan (atau pelaku
ancaman) memfokuskan upaya mereka pada area minat tertentu.
·
Ada
sisi gelap dari intelijen sumber terbuka: apa pun yang dapat ditemukan oleh
para profesional keamanan juga dapat ditemukan (dan digunakan) oleh pelaku
ancaman .
·
Memiliki
strategi dan kerangka kerja yang jelas untuk pengumpulan intelijen sumber
terbuka sangat penting —
sekadar mencari apa pun yang mungkin menarik atau berguna pasti akan
menyebabkan kelelahan.
·
Penggunaan
alat OSINT untuk menemukan dan melindungi data sensitif dari potensi penyerang
sangat penting untuk mengurangi
risiko ancaman keamanan siber.
Definisi OSINT
Sebelum kita membahas sumber dan aplikasi umum dari intelijen
sumber terbuka, penting untuk memahami apa sebenarnya itu.
Menurut hukum publik AS, intelijen sumber
terbuka:
·
Dihasilkan
dari informasi yang tersedia untuk umum.
·
Dikumpulkan,
dianalisis, dan disebarluaskan secara tepat waktu kepada audiens yang sesuai.
·
Menangani
persyaratan intelijen tertentu
Frasa penting yang perlu diperhatikan di sini adalah
"tersedia untuk umum."
Istilah “sumber terbuka” secara khusus merujuk pada informasi yang tersedia untuk konsumsi publik . Jika diperlukan keahlian, alat, atau teknik khusus untuk mengakses suatu informasi, maka informasi tersebut tidak dapat dianggap sebagai sumber terbuka.
Sejarah OSINT
Istilah OSINT merujuk pada praktik pengumpulan informasi
dari sumber yang tersedia untuk umum untuk digunakan dalam
konteks intelijen. Praktik ini telah ada sejak lama, tetapi era digitallah yang
benar-benar mendorong OSINT ke level yang berbeda.
Akar dasar OSINT terkait dengan pembentukan Foreign Broadcast Monitoring Service (FBMS) pada tahun
1941. Organisasi ini
diberi peran penting dalam meneliti komunikasi siaran internasional untuk
mengidentifikasi potensi aktivitas yang mencurigakan.
Menurut Asosiasi
Mantan Perwira Intelijen (AFIO): “Militer AS pertama kali mencetuskan
istilah OSINT pada akhir tahun 1980-an”. Perkembangan ini berawal dari
pengakuan bahwa reformasi intelijen diperlukan untuk secara efektif memenuhi
tuntutan informasi yang berubah dengan cepat, khususnya di tingkat medan
pertempuran taktis.
Awalnya, OSINT adalah alat yang digunakan terutama oleh badan
intelijen dan penegak hukum untuk mengumpulkan informasi yang tersedia untuk
umum guna membantu keamanan nasional dan investigasi kejahatan siber .
Metode yang digunakan memakan waktu, seringkali mengharuskan individu untuk
secara manual menyaring catatan publik, surat kabar, dan dokumen lain untuk
menemukan informasi yang relevan. Pengumpulan informasi secara manual ini
seringkali sulit karena banyaknya data yang harus disaring. Namun, seiring
perkembangan web, metode pengumpulan dan analisis data yang tersedia untuk umum
pun ikut berkembang .
Munculnya internet secara signifikan memperluas cara pengumpulan
informasi. Tiba-tiba, berbagai macam data menjadi tersedia untuk umum
dan mudah diakses secara online, mulai dari laporan pemerintah hingga makalah
akademis, dan segala sesuatu di antaranya . Situs web menjadi sumber
data utama bagi para praktisi OSINT. Perkembangan ini menyebabkan ledakan dalam
pembuatan alat OSINT yang
dirancang untuk mengotomatiskan proses pengumpulan dan analisis data. Alat-alat
ini dapat dengan cepat mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk
basis data yang dapat diakses publik, platform media sosial, dan banyak alat
lain yang tersedia di dunia digital.
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan bidang keamanan siber,
penerapan OSINT pun meluas. Para profesional keamanan siber mulai melihat nilai
dari penggunaan OSINT untuk mengidentifikasi kerentanan, menilai potensi
ancaman keamanan, dan memperkuat keamanan organisasi . Alat OSINT menjadi penting dalam
memantau server web yang dapat diakses publik, menganalisis metadata, dan
menilai kerentanan keamanan. Data yang dikumpulkan menjadi sangat berharga
dalam memahami postur keamanan suatu organisasi, mengidentifikasi potensi
ancaman, dan mengembangkan strategi untuk mengurangi risiko.
Salah satu tren penting adalah integrasi pembelajaran
mesin dan analitik dalam alat OSINT untuk meningkatkan proses identifikasi pola
dan tren dari data yang dikumpulkan . Integrasi ini tidak hanya
membuat alat OSINT lebih efektif tetapi juga memperluas jangkauan aplikasi di
mana alat tersebut dapat digunakan. Misalnya, peneliti keamanan sekarang
menggunakan OSINT untuk melakukan uji penetrasi, sementara bisnis
menggunakannya untuk mendapatkan wawasan tentang pesaing mereka dan lingkungan
pasar.
Selain itu, komunitas peneliti OSINT telah berkembang
dari waktu ke waktu, dengan forum, konferensi, dan kelompok yang terbentuk
untuk berbagi pengetahuan, membahas praktik terbaik, dan mengembangkan teknik
OSINT baru . Banyak alat OSINT, termasuk kerangka kerja seperti
Recon-ng, memiliki komunitas pengembang di platform seperti GitHub, yang
berupaya untuk meningkatkan, menyesuaikan, dan membuat modul untuk memperluas
kemampuan alat-alat ini. Upaya kolektif komunitas ini telah memainkan peran
penting dalam menyempurnakan praktik OSINT, menjadikannya komponen vital dalam
pengumpulan intelijen dan keamanan siber.
Bagaimana Cara Kerja Intelijen Sumber Terbuka
Setelah membahas dasar-dasar intelijen sumber terbuka, kita
dapat melihat bagaimana hal itu umumnya digunakan untuk keamanan siber .
Komunitas intelijen memainkan peran penting dalam memanfaatkan OSINT untuk
upaya keamanan nasional dan keamanan siber.
*Esteban Borges
Jumat, 19 Juni 2026
Kemenko Polkam Dorong Penguatan Sistem Pengawasan Maritim Nasional
Polkam, Batam – Kementerian
Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) mendorong penguatan
sistem pengawasan maritim nasional untuk menghadapi ancaman keamanan yang
semakin kompleks di wilayah perairan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Deputi
Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polkam, Dubes Mohammad K. Koba,
saat mengunjungi Maritime Command Center (MCC) Pusinfomar TNI di Kodaeral IV
Batam, Kepulauan Riau, Jumat (19/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Deputi
Pollugri menegaskan bahwa ancaman keamanan maritim kini tidak hanya terjadi di
permukaan laut, tetapi juga di bawah laut. Karena itu, Indonesia membutuhkan
sistem deteksi yang modern, terintegrasi, dan mampu membaca potensi ancaman
secara cepat.
"Kawasan maritim Indonesia
menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ancaman di permukaan maupun bawah
laut akan menjadi semakin penting sehingga membutuhkan sistem deteksi yang
modern, terintegrasi, dan adaptif terhadap perkembangan lingkungan
strategis," ujar Koba.
Menurutnya, penguatan pengawasan
maritim perlu dilakukan melalui pengembangan jaringan sensor dan perangkat
pendukung di sejumlah wilayah strategis. Perangkat tersebut mencakup radar,
kamera pengawas, kamera termal, serta Automatic Identification System (AIS).
Penguatan sistem tersebut
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengawasan maritim nasional, khususnya
di wilayah strategis.
Selain teknologi, Deputi
Pollugri juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Teknologi pengawasan harus didukung operator yang memiliki kemampuan memadai.
"Peningkatan kapasitas
sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi.
Keberadaan Maritime Command Center juga perlu diperluas untuk mendukung
keamanan dan diplomasi maritim secara optimal," katanya.
Kemenko Polkam menilai penguatan
sistem pengawasan maritim menjadi bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan
negara, mengantisipasi ancaman lintas batas, dan memperkuat posisi Indonesia
sebagai negara maritim.
Dalam kunjungan tersebut, hadir Wakil
Komandan Kodaeral IV Laksma TNI Ketut Budiantara, Asisten Deputi Kerja Sama
Asia Kemenko Polkam Nur Rokhmah Hidayah, staf Kemenko Polkam, serta staf
Kodaeral IV.
*Humas Kemenko Polkam RI
Kamis, 18 Juni 2026
Hadapi Ancaman El Nino, Menko Polkam Arahkan Desk Karhutla Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Pencegahan
Polkam, Jakarta – Kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) merupakan persoalan multidimensi yang berdampak
langsung terhadap ketahanan nasional. Dampaknya sangat luas mempengaruhi
masyarakat, bahkan hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangga akibat pencemaran
asap lintas batas.
“Maka dari itu, pengendalian
karhutla membutuhkan keterlibatan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan,
mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha,
akademisi, media, hingga masyarakat,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Politik
dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago saat membuka
Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Pengendalian Karhutla Tahun 2026
"Bersinergi untuk Negeri Menghadapi El Nino 2026 dan 2027" di Manggala
Wanabakti, Jakarta, Kamis (18/06/2026).
Menko Polkam mengapresiasi
berbagai capaian pengendalian karhutla selama tahun 2025, di antaranya
meningkatnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga, meningkatnya
kesiapsiagaan pemerintah daerah, serta semakin aktifnya dukungan TNI, Polri,
dan dunia usaha dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Menurut Menko Polkam, ancaman
karhutla masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia, terlebih saat memasuki
musim kemarau yang berpotensi dipengaruhi fenomena El Nino. Fenomena tersebut
berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, menurunkan curah hujan, meningkatkan
jumlah hotspot, serta memperbesar risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Kondisi ini harus menjadi
perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, karena itu, tema Rakorsus tahun
ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengendalian karhutla hanya dapat
dicapai melalui sinergi nasional yang kuat,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipatif,
pemerintah melakukan reaktivasi Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla Tahun
2026. Menurut Menko Polkam, desk tersebut akan menjalankan fungsi koordinasi,
sinkronisasi kebijakan, monitoring, dan evaluasi secara terpadu dari tingkat
pusat hingga daerah.
“Pendekatan yang digunakan bukan
lagi pendekatan sektoral, melainkan pendekatan kolaboratif nasional yang
menempatkan keselamatan masyarakat, perlindungan lingkungan hidup, dan
kepentingan negara sebagai prioritas utama,” ungkap Menko Djamari.
Dalam kesempatan tersebut, Menko
Polkam memberikan perhatian khusus kepada enam provinsi prioritas rawan
karhutla tahun 2026, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Keenam wilayah tersebut memiliki
tingkat kerawanan tinggi karena karakteristik lahan gambut, luasnya kawasan hutan
dan perkebunan, serta kondisi meteorologis yang berpotensi meningkatkan risiko
kebakaran pada musim kemarau.
“Kepada seluruh gubernur,
pangdam, kapolda, kepala daerah, BPBD, dan pemangku kepentingan terkait, agar
kesiapsiagaan ditingkatkan mulai saat ini melalui optimalisasi posko siaga,
patroli terpadu, penguatan sistem deteksi dini, kesiapan personel dan
peralatan, serta pelibatan dunia usaha dan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya
optimalisasi operasi udara dan peningkatan operasi pencegahan sebagai langkah
utama menghadapi musim kemarau tahun ini.
“Presiden memberikan perhatian
yang sangat besar terhadap pengendalian karhutla, karena itu, saya minta
seluruh jajaran terus meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi, dan
tidak menunggu sampai kebakaran terjadi,” ujarnya.
Menko Polkam menjelaskan bahwa
reaktivasi Desk Karhutla bertujuan memperkuat konsolidasi nasional, memperkuat
sinergi lintas sektor, meningkatkan kesiapsiagaan nasional menghadapi El Nino
2026–2027, memastikan kesiapan sumber daya nasional, serta membangun komitmen
bersama dalam pelaksanaan pengendalian karhutla.
Sebagai penutup, Menko Polkam
menetapkan tiga fokus nasional pengendalian karhutla tahun 2026, yakni mencegah
terjadinya kebakaran hutan dan lahan berskala besar, mencegah bencana asap
lintas wilayah maupun lintas negara, serta memperkuat sistem deteksi dini dan
respons cepat melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Jangan lengah, jangan lelah,
jangan bosan, dan jangan lesu. Ini persoalan bangsa yang berpengaruh luas pada
kehidupan bangsa di segala bidang, hingga kehormatan negara
Pada kesempatan yang sama,
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan bahwa penurunan luas karhutla
merupakan hasil kerja bersama lintas sektor. “Penurunan luas karhutla merupakan
keberhasilan dari meningkatnya kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.
Meruntuhkan ego sektoral antar K/L, pemerintah pusat dan daerah, dan kemampuan
untuk mengajak semua stakeholder untuk bersama-sama menanggulangi ini” ujarnya.
Ia pun menegaskan bahwa
tantangan ke depan dinilai tidak ringan, mengingat musim kemarau tahun 2026
diperkirakan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering, dan
adanya siklus El Nino. “Sehingga kebiasaan baik tidak boleh berhenti ketika
ancaman mereda. Kesiapsiagaan harus menhadi budaya kerja permen, bukan karena
respon sesaat ketika terjadi bencana,” tegasnya.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr. Tri Handoko Seto juga
menjelaskan bahwa kondisi El Nino saat ini masih berada pada kategori moderat
dan curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah. Namun demikian, intensitas
El Nino diperkirakan terus menguat mulai Juli hingga September 2026 seiring
meningkatnya suhu muka laut dan diprediksi mencapai puncaknya pada Oktober 2026
sebelum berangsur melemah pada November saat musim hujan mulai berlangsung.
“Bulan-bulan ke depan perlu
menjadi perhatian serius karena intensitas El Nino diperkirakan terus
meningkat. Oleh karena itu, kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan perlu
terus diperkuat sejak dini,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya mitigasi
terus dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk pembasahan lahan
dan pencegahan karhutla. Hingga saat ini telah dilaksanakan 141 hari operasi
dengan total 225 sortie penerbangan di berbagai wilayah prioritas karhutla.
Sementara itu, Wakil Gubernur
Kalimantan Tengah Edy Pratowo menyampaikan bahwa pentingnya optimalisasi
operasi darat, khususnya di wilayah-wilayah rawan karhutla yang berada jauh
dari aliran sungai dan sumber air utama. Menurutnya, penguatan pendukung
seperti embung dan kanal menjadi faktor penting dalam menjaga kelembapan lahan
gambut selama musim kemarau.
“Karhutla tidak hanya terjadi di
sekitar sungai, tetapi juga di tengah kawasan hutan yang jauh dari sumber air.
Karena itu, keberadaan embung, kanal, serta ketersediaan sumber air cadangan
menjadi sangat penting untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan di
lapangan,” ujarnya.
Hadir pada rakorsus tersebut Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, dan Wakil Menteri Kehutanan Rokhmad Marzuki, Gubernur Kalimantan Selatan, Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi , Asisten Operasi Panglima TNI, Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Sekretaris Daerah Sumatera Selatan, Danrem 101, Pangdam XXII/TB, Pangdam II, Pangdam XIX/TT, Wakapolda Riau, Danrem 042, perwakilan dari K/L terkait, dan pemerintah daerah.
Humas Kemenko Polkam RI
-
Menjunjung Kebenaran, Keadilan Dan Kemanusiaan The Partnership Building Of Divkum Polri PEMBINA Irjen.Pol. DR. Asep J Ahmadi, SH,...
-
Gilimanuk - Suasana antrean pemudik di Terminal Cargo tampak lebih nyaman setelah Brimob Gilimanuk melakukan penyiraman area menggunakan mob...







.jpg)


