Rabu, 14 Oktober 2026

1 Abad Sebelum Mandala Gajah Mada Konsep Mandala Nusantara Telah Dilaksanakan Oleh Singosari

Keinginan menyatukan Nusantara, cakrawala mandala dwipantara, sudah dimiliki Raja Kertanagara (1268-1292) hampir seabad sebelum Gajah Mada menyatakan Sumpah Palapa.Gagasan politik Raja Singhasari itulah yang menginspirasi Sang Mahapatih untuk bersumpah menyatukan Nusantara di bawah Majapahit.

“Gajah Mada meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh dwipantara atau Nusantara yang awalnya telah dirintis Kertanagara,” tulis Agus Aris Mundandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Gajah Mada Biografi Politik.

Menurut Agus, Sumpah Palapa dapat dianggap sebagai pernyataan politik. Apa yang dinyatakan Gajah Mada itu adalah tujuan pemerintahan yang harus dicapai agar Majapahit disegani di seluruh Nusantara.

Spirit Kejayaan

Di antara raja-raja Singhasari, Kertanagara yang pertama memiliki pandangan politik ke luar Jawa.

Raja terakhir dan terbesar Singhasari itu tergerak untuk menjadikan Singhasari sebagai kerajaan besar.

“ Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, semangat Kertanagara ini bisa dimengerti karena setiap raja memiliki impian menjadikan kerajaannya yang terbesar  “.

“Glory itu menjadi spirit,” kata Dwi ketika dihubungi penulis.

Pandangan luas Kertanagara itu didukung basis politik dan militer yang dibangun sejak masa ayahnya, Raja Wisnuwardhana.

Prasasti Mulamalurung (1255) menyebut saat itu administrasi pemerintahan dibagi ke dalam delapan nagari. Masing-masing anggota keluarga mendapat kekuasaan sebagai vasal.

“Dikokohkan secara birokrasi militer. Ini politik berbagi kekuasaan agar benturan politik di lingkungan keluarga bisa diminimalkan,” jelas Dwi.

Kertanagara kemudian meluaskan wawasan politik itu. Cita-citanya ditingkatkan dari menyatukan Jawa menjadi Nusantara.

“Sehingga sebutan politiknya dari cakrawala mandala Jawa era pemerintahan bersama Wisnuwardhana dan Narasinghamurti, menjadi cakrawala mandala dwipantara,” lanjut Dwi.

Kertanagara dinobatkan menjadi raja muda ketika ayahnya masih memerintah Singhasari pada 1254.

Baru pada 1269, dia mengeluarkan prasasti tanpa menyebut makamangalya ayahnya, yang artinya “di bawah pengawasan”.

Enam tahun kemudian, dia mengirim tentaranya untuk ekspedisi ke Malayu (Pamalayu).

Untuk mempererat hubungan dengan kerajaan di Sumatera itu, pada 1286 dia mengirim hadiah arca Buddha Amoghapasa.

Empat orang pejabat tinggi dari Jawa memimpin penempatannya di Dharmasraya.

Pada arca itu, Buddha Amoghapasa terpahat bersama 14 pengiringnya dan tujuh permata (saptaratna).

Semuanya dilukiskan pada alas arca, berupa kuda, cakra, permaisuri, ratna, menteri, hulubalang, dan gajah.

Saptaratna merupakan lambang seorang cakrawartin, merujuk pada sosok penguasa jagad yang ideal.

Kemungkinan Kertanagara pun benar-benar mengirimkan seorang putri, dua orang pejabat, seekor gajah, seekor kuda, senjata cakra, dan permata kepada Raja Mauliwarmadewa.

Arca itu kemudian ditemukan kembali di daerah Sungai Langsat dekat Sijunjung di daerah hulu Sungai Batanghari.

“Semoga hadiah ini membuat gembira segenap rakyat di Bhumi Malayu, termasuk brahmana, ksatrya, waisya, sudra dan terutama pusat segenap para arya, Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa,” ungkap tulisan dalam Prasasti Padang Roco pada bagian alas arca itu.

Prasasti Padang Roco ditulis dengan aksara Jawa Kuno memakai Bahasa Melayu Kuno dan Sanskerta.

Lewat prasasti itu juga diketahui, kedudukan Kertanagara lebih tinggi dibanding Raja Malayu.

Kertanagara memakai gelar Maharajadhiraja. Sementara Mauliwarmadewa memakai Maharaja.

“Walaupun dalam Nagarakrtagama disebut ekspedisi itu menundukkan, menurut saya ini semacam MoU sebagai mitra sejajar,” jelas Dwi.

Pada 1284, pergerakan Kertanagara makin meluas dengan menaklukkan Bali. Rajanya ditawan dan dibawa ke Singhasari.

Setelah itu, sebagaimana tertulis dalam Negarakrtagama, Kertanagara menundukkan Pahang di Malaysia, Gurun (pulau di wilayah timur Nusantara), Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan.

“Tidak perlu disebutkan lagi Sunda dan Madura, karena seluruh Pulau Jawa tunduk di bawah kekuasaan Kertanagara,” tulis Prapanca dalam Nagarakrtagama.

Bisa dibilang, Prapanca ingin mengatakan, seluruh wilayah Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Nusantara bagian timur, dan seluruh Pulau Jawa kala itu sudah dikuasai Kertanagara.

Ungkapan ini juga muncul dalam prasasti yang ada di belakang arca Camundi dari Desa Ardimulyo, Malang.

Prasasti dari tahun 1292 itu mengatakan arca Bhattari Camundi ditahbiskan sewaktu Sri Maharaja menang di seluruh wilayah dan menundukkan semua pulau lainnya.

“Entah benar atau secara simbolis,” tulis Sejarah Nasional Indonesia II.

Setelahnya Kertanagara mengadakan hubungan dengan Champa. Petunjuk adanya hubungan itu terdapat dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari tahun 1306.

Disebutkan di sana seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Dia adalah adik Kertanagara yang menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307).

Gajah Mada Ngalap Berkah

Setelah jatuhnya Singhasari, hubungan dengan berbagai wilayah luar Jawa tidak lagi berkembang.

Majapahit pada awalnya belum memperhatikan wilayah lain di Nusantara. Raden Wijaya terlalu sibuk dengan berbagai pemberontakan dan intrik politik internal Majapahit. Begitu pula pada masa pemerintahan raja kedua, Jayanagara.

Sebagai langkah awal setelah mengucapkan Sumpah Palapa, Gajah Mada mendirikan bangunan suci keagamaan (caitya) bagi Kertanagara yang dikaguminya. Baru kemudian dia mengembangkan pemikiran tentang dwipantara mandala.

Prasasti Gajah Mada (1351) memberikan petunjuk bahwa Gajah Mada mendirikan catya bagi Kertanagara.

Sebagai Sang Mahamantrimukya atau Mahamantri yang terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri.

Dia juga berhak memberi titah untuk membangun catya bagi tokoh yang telah meninggal.

Kertanagara gugur di istananya beserta patihnya Mpu Raganatha dan para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang.

Candi Jawi banyak dikaitkan sebagai pendharmaan Kertanagara. Candi ini diperkirakan dibangun setelah upacara Sraddha, 12 tahun setelah Kertanagara meninggal pada 1292.

Menurut Agus, cantya yang dibangun atas perintah Gajah Mada sangat mungkin adalah Candi Singhasari. Pasalnya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman candi itu.

Ada dua alasan mengapa Gajah Mada memuliakan Kertanagara di Candi Singhasari.

Pertama, dia ingin mencari acuan legitimasi pembuktian Sumpah Palapa.

Kedua, dengan membangun catya, seakan Gajah Mada sedang ngalap berkah atau minta restu kepada Kertanagara yang telah bersatu dengan dewa-dewa.

“Baginya, tokoh Kertanagara adalah raja besar yang patut dijadikan teladan, layak mendapatkan pemujaan dan pemuliaan walaupun dia telah tiada,” kata Agus.

Dalam Prasasti Gajah Mada juga terdapat julukan lain bagi Sang Mahapatih, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara. Nama itu mungkin sekadar gelar, namun bisa juga dipandang sebagai nama resminya.

Jirnnodhara artinya pembangun sesuatu yang baru atau pemugar sesuatu yang telah runtuh atau rusak.

Dalam arti harfiah, Gajah Mada adalah pembangun Candi Singhasari. Namun, dia juga pemugar dan penerus gagasan Kertanagara dalam dwipantara mandala.

“Gagasan itu seakan lenyap setelah kematian Kertanagara, tertutup oleh berbagai peristiwa susul-menyusul di Tanah Jawa bagian timur,” ujar Agus.

Tak hanya oleh Gajah Mada, Kertanagara pun dikenang dalam Nagarakrtagama sebagai raja yang termasyur namanya.

“Di antara para raja lampau tak ada yang setara dengannya,” kata Prapanca. “Paham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama, adil, teguh, dan Jinabrata dan tawakal kepada laku utama, itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung.”


*Sumber : Yayasan Suluh Nuswantara Bakti

Selasa, 13 Oktober 2026

Kemeko Polkam Terima Tim Ahli Karhutla Dari Brazil

Jakarta - Kemenko Polkam Jenderal (Purn.) Dudung Abdurachman menerima Tim Ahli Penanganan Kebakaran Hutan dari Brazil yang didampingi oleh Duta Besar Indonesia untuk Negara Brazil, Andhika Chrisnayudhanto, di Kantor Kemenko Polkam, Selasa (13/10/2026).

Pertemuan membahas potensi pemanfaatan teknologi cairan pemadam asal Brasil sebagai salah satu alternatif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk upaya mempercepat pemadaman dan menghambat penyebaran api.

Pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman serta menjajaki penguatan kerja sama dalam penanggulangan karhutla.

*Kemenko Polkam RI

Senin, 12 Oktober 2026

Kapolda Jawa Timur Irjen.Pol. Dekananto : Pemberantasan Narkoba Salah Satu Prioritas Utama Di Wilayah Jawa Timur

Surabaya - Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Dekananto Eko Purwono mengatakan, pemberantasan peredaran obat keras menjadi salah satu prioritas dalam pelaksanaan tugas kepolisian di wilayah Jawa Timur.

"Salah satu atensi saya adalah peredaran obat keras daftar G. Saya pastikan Jawa Timur harus bersih dari obat-obatan tersebut karena penyalahgunaannya dapat menjadi salah satu pemicu kenakalan remaja, tawuran, dan gangguan kamtibmas lainnya," kata Dekananto di Mapolda Jatim, Surabaya, Minggu (11/10/2026).

Menurutnya, penyalahgunaan obat keras perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak buruk terhadap generasi muda dan berpotensi memicu berbagai persoalan sosial maupun gangguan kamtibmas.

Data Polda Jatim mencatat, Direktorat Reserse Narkoba bersama polres jajaran menyita sebanyak
1.079.746 butir obat keras dalam pengungkapan kasus narkoba selama Juli hingga September 2026.

Sebelumnya, dalam laporan pengungkapan kasus sepanjang semester pertama 2026 yang disampaikan pada Juni, Polda Jatim mencatat penyitaan sebanyak
3.653.382 butir obat keras berbahaya.

Dengan demikian, berdasarkan kedua laporan tersebut, total obat keras yang disita selama Januari hingga September 2026 mencapai
4.733.128 butir atau lebih dari 4,7 juta butir.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya tantangan dalam upaya menekan peredaran obat keras ilegal. Polda Jatim bersama jajaran berkomitmen melanjutkan penindakan untuk mencegah penyalahgunaan obat-obatan yang dapat membahayakan masyarakat.

Selain menekankan pemberantasan obat keras, Irjen.Pol. Dekananto juga berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian yang humanis, profesional, dan terbuka terhadap kritik masyarakat.

Ia mengajak masyarakat menyampaikan masukan apabila menemukan tindakan atau pelayanan kepolisian yang dinilai kurang tepat. Menurutnya, kritik tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja seluruh jajaran Polda Jatim.

"Apabila saya dan seluruh jajaran Polda Jawa Timur melakukan hal-hal yang kurang berkenan atau kurang tepat dalam bertindak, saya mohon dimaafkan dan diberikan koreksi. Kami akan merespons dan menindaklanjuti masukan tersebut," katanya.

Irjen.Pol. Dekananto juga menegaskan akan meneruskan program-program positif yang telah dijalankan Kapolda Jatim sebelumnya, Irjen Pol. Nanang Avianto, demi menjaga kesinambungan pelayanan dan pelaksanaan tugas kepolisian.

"Banyak hal positif yang sudah diperkuat dan ditinggalkan oleh Irjen Pol Nanang Avianto untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Jawa Timur. Tentu saya akan melanjutkan hal-hal positif tersebut," ujarnya.

Dekananto menilai keberhasilan pelaksanaan tugas kepolisian membutuhkan kekompakan seluruh personel serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI, pemangku kepentingan, dan masyarakat.

Ia menyatakan siap menjalankan amanah sebagai Kapolda Jatim dengan mengedepankan semangat pengabdian, profesionalisme, serta pelayanan terbaik kepada masyarakat.

"Saya dan keluarga mohon diterima oleh seluruh warga Jawa Timur. Insyaallah, dari lubuk hati yang paling dalam, saya akan berusaha menjalankan amanah dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Jawa Timur," katanya.

Melalui penguatan penegakan hukum, peningkatan kualitas pelayanan, dan sinergi dengan masyarakat, Polda Jatim berharap situasi keamanan dan ketertiban di Jawa Timur tetap terjaga serta generasi muda terlindungi dari dampak penyalahgunaan obat keras.

*Red

 

Sabtu, 10 Oktober 2026

Menko Polkam Jenderal (Purn.) Dudung Abdurachman Menyambut Kedatangan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi

Jakarta -  Menko Polkam Jenderal (Purn.) Dudung Abdurachman menyambut kedatangan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Kedatangan Presiden El-Sisi disambut dengan jajar kehormatan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), serta pertunjukan tarian Betawi dan musik gambang kromong sebagai bagian dari penyambutan kenegaraan.

Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Presiden El-Sisi ke Indonesia sekaligus kunjungan balasan setelah Presiden RI Prabowo Subianto berkunjung ke Mesir pada 2024 dan 2025.

 

*Kemenko Polkam RI

 

Jumat, 09 Oktober 2026

Selamat Bertugas Irjen Pol. Krisno Haloman Siregar, S.I.K., M.H. sebagai Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama BNN RI.

Keluarga besar Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) mengucapkan selamat dan sukses atas pelantikan Irjen Pol. Krisno Haloman Siregar, S.I.K., M.H. sebagai Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama BNN RI. Semoga di bawah kepemimpinan beliau, Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama BNN RI semakin progresif, akuntabel, dan memperkuat sinergi dalam Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) demi mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba).

#WarOnDrugsForHumanity

Biro Humas dan Protokol BNN

Rabu, 07 Oktober 2026

Menko Polkam Menghadiri Acara Taklimat Presiden Di Istana Negara

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman bersama Wamenko Polkam Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus menghadiri kegiatan di Istana Negara, Rabu (7/10/2026). Pada acara tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto mengumpulkan 800 perwira tinggi (Pati) TNI dan Polri di seluruh Indonesia. Presiden memberikan taklimat sekaligus menyampaikan gambaran kondisi yang dihadapi bangsa dan negara.

Taklimat tersebut menjadi ruang bagi jajaran pimpinan TNI-Polri untuk menyelaraskan pemahaman mengenai tantangan bangsa dan menjadikan arahan Presiden Prabowo sebagai pedoman pelaksanaan tugas di seluruh Indonesia.

"Beliau (Presiden) menyampaikan bahwa harus mempersiapkan secara profesional sistem perekrutan ke depan adalah tidak serta merta melihat tentang fisik tetapi intelektual. Jadi kalau misalnya mau masuk menjadi tentara atau polisi, berkacamata tidak apa-apa asalkan dia pinter," ujar Menko Polkam.

Dalam pengantarnya, Presiden RI Prabowo menyampaikan bahwa pada pertemuan ini ia ingin memberi gambaran tentang keadaan yang dihadapi sebagai bangsa dan negara. Termasuk juga dengan memberikan gambaran terkait perkembangan negara dan bangsa Indonesia.

"Sengaja saya mengundang para perwira tinggi menjelang pemerintahan yang saya pimpin dua tahun. Saya ingin memberi suatu gambaran keadaan yang kita hadapi sebagai bangsa dan sebagai negara," kata Presiden Prabowo dalam keterangan BPMI Setpres.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Adrianto, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Listyo Sigit Prabowo, Kepala BIN Muhammad Herindra, para purnawirawan dari TNI dan Polri, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, para Deputi dan Staf Ahli Kemenko Polkam.

*Kemenko Polkam RI

Selasa, 06 Oktober 2026

Sukarno Pilih Kuda Yang Sudah Tua : Yang Tua Paling Jinak

Dibalik sebuah Foto bersejarah pada Perayaan TNI Pertama 5 Oktober 1946

“Untuk pawai besok, berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak dan hampir mendekati kematiannya….”

Bung Karno, 5 Oktober 1946

Pasti banyak yang pernah lihat photo si Bung naik kuda....Gagah ya

Tapi uniknya ini adakah

Pengalaman Pertama Bung Karno Naik Kuda 🙂

Kejadian menarik juga menimpa Bung Karno ketika tanggal 5 Oktober 1946, Angkatan Perang kita (sekarang TNI) hendak merayakan ulang tahun yang pertama. Dalam salah satu tata cara upacara militer yang sudah direncanakan semegah-megahnya untuk ukuran negara berusia satu tahun, Presiden Republik Indonesia Sukarno, harus melakukan inspeksi pasukan… naik kuda!.

Persoalannya adalah.…Bung Karno tidak pernah naik kuda. Pergaulan Bung Karno dengan seekor kuda pada masa-masa sebelumnya, tak lebih dari sekadar menepuk-nepuk kuduknya. Demi mengetahui hal itu, Fatmawati, istrinya, ikut cemas. “Jadi, bagaimana caranya,”, tanya Fatma. Bung Karno menjawab, “Pertama, aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang yang pelagak… Aku akan belajar naik kuda!”

Fatma belum hilang rasa cemasnya, “Kan pawainya besok?”, Lalu Bung Karno menjawab, “Ya, aku akan belajar dalam satu hari.”

Akhirnya, seorang perwira kavaleri tekun memberikan pelajaran berkuda kepada presidennya. Dan di akhir sesi latihan, kepada si perwira kavaleri itu, Bung Karno menyampaikan pesan dengan suara pelan… “Untuk pawai besok, berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak dan hampir mendekati kematiannya….”

Tak bisa dimungkiri, Bung Karno sebenarnya memendam rasa cemas dan khawatir. Apa jadinya kalau dalam pawai inspeksi pasukan besok si kuda menjadi beringas dan tak terkendali? Bagaimana kalau ia kemudian terpental dari punggung kuda? Apa kata dunia?

Dan…perwira kavaleri itu menjawab, “Tidak Pak. Tidak pantas untuk Bapak. Kuda yang disediakan harus yang muda dan garang. Dia harus memperlihatkan semangat tempur yang menyala-nyala, dan kuda yang terbaik dari seluruh kelompok.”

Bung Karno yang pelagak, tak berkutik dengan jawaban perwira kavaleri. Rasa cemas ia pendam dalam hati….hingga, tibalah saat-saat yang dinanti. Terompet telah berbunyi, genderang berderam-deram, pasukan berdiri tegap, dan…..Presiden menaiki kudanya. Binatang itu berjalan mengikuti irama musik… dan…..menjadi liar. Bung Karno sedikit ciut, tapi ketika ia melihat pasukan yang berbaris rapi yang sedang ia inspeksi…..muncullah sifat pelagak nya. Sorak-sorai dan teriakan gembira dari rakyat yang berjejal-jejal di lapangan pawai menghidupkan semangat.

Suasana itu membuat Bung Karno tenang dan sadar…..hilang rasa cemas, dan muncul teori-teori berkuda yang telah diajarkan si perwira kavaleri kemarin. Maka, dengan sigap Bung Karno segera memainkan pegelangan, menguasai tunggangannya dengan baik. Bung Karno mengendalikan langkah kuda dengan begitu gagah, sehingga kuda berjalan dengan langkah tenang dan teratur seperti yang dikehendaki. Dan….kuda yang bagus itu tidak pernah menyadari bahwa tuannya lebih gentar menghadapi peristiwa itu daripada binatang itu sendiri.

*Bensur

Sabtu, 03 Oktober 2026

Presiden Prabowo Lantik Suyudi Ario Seto dan Wahyu Hadiningrat sebagai Kapolri dan Wakapolri

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto melantik Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) dan Komisaris Jenderal Polisi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (01/10/2026).

Pelantikan Suyudi Ario Seto dan Wahyu Hadiningrat berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/POLRI Tahun 2026 dan 97/POLRI Tahun 2026 Tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia serta Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Suyudi turut mendapat kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi menjadi Jenderal Polisi. Selanjutnya, Suyudi akan langsung bertugas sebagai Kapolri untuk menggantikan Kapolri sebelumnya, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.

Sumber: BPMI Setpres


 

Jumat, 02 Oktober 2026

Selamat atas dilantiknya Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H., Dudung Abdurachman sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI.

Selamat atas dilantiknya Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H., Dudung Abdurachman sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI.

Semoga amanah dalam mengemban tugas dan tanggung jawab, serta senantiasa diberikan kelancaran dalam memperkuat koordinasi di bidang politik dan keamanan demi menjaga stabilitas nasional dan mewujudkan Indonesia yang aman, damai, adil dan makmur.

 

1 Abad Sebelum Mandala Gajah Mada Konsep Mandala Nusantara Telah Dilaksanakan Oleh Singosari

Keinginan menyatukan Nusantara,  cakrawala mandala dwipantara,  sudah dimiliki Raja Kertanagara (1268-1292) hampir seabad sebelum Gajah Mad...