Pasukan Reclasseering atau dikenal sebagai Reclasseering
Indonesia (RI) memiliki peran yang sangat unik dan berani dalam Pertempuran
Surabaya pada 10 November 1945. Pasukan ini dibentuk atas inisiasi tokoh strategi
tempur terkemuka saat itu, Prof. Dr. Moestopo ( Pendiri Universitas Beragama
) ,Brigjen. ( P ) TB Ibnu Gunadi dan
dibina bersama tokoh kepolisian Komjen.Pol (P) Moehammad Jasin. ( Bapak Brimob Polri / Polisi Istimewa )
Berikut adalah fakta mengenai Pasukan
Reclasseering dalam Pertempuran Surabaya:
·
Anggota
Pasukan: Anggota pasukan
ini bukan tentara reguler, melainkan para mantan narapidana, tahanan
penjara, bandit, copet, hingga bromocorah (dunia hitam) yang sengaja
dibebaskan dari penjara Kalisosok dan berbagai tempat oleh Moestopo. Mereka
diberikan pencerahan untuk cinta tanah air dan membela masyarakat dan negara.
·
Tujuan
Pembentukan:
Moestopo menyadari bahwa menghadapi tentara Sekutu (Inggris) yang bersenjata
modern membutuhkan jumlah personel massal yang memiliki mental nekat. Di bawah
Reclasseering, energi agresif para pelaku kriminal ini dialihkan untuk membela
kedaulatan negara melalui doktrin nasionalisme kilat.
·
Julukan
"Pasukan Siluman": Dalam ingatan kolektif sejarah, milisi
bentukan Reclasseering ini sering disebut sebagai Pasukan Siluman atau Pasukan
Berani Mati. Hal ini dikarenakan gaya bertempur mereka yang tidak biasa,
menggunakan taktik gerilya kota yang liar, menyusup di malam hari, dan sangat
nekat saat menyerang pos-pos Sekutu.
·
Peran
dalam Pertempuran:
Mereka ditempatkan di garis depan untuk mengacaukan konsentrasi musuh,
melakukan sabotase, serta merampas persenjataan tentara Sekutu maupun Jepang
yang tersisa.
Langkah Moestopo merangkul kelompok
marjinal dan mantan kriminal lewat wadah Reclasseering ini membuktikan bahwa
Pertempuran Surabaya adalah perang total (total war), di mana seluruh
elemen masyarakat—tanpa memandang latar belakang sosial—bersatu demi
mempertahankan kemerdekaan Indonesia
Dimasa Sebelum dan Menjelang Kemerdekaan, Pejuang utama Intelijen Reclasseering adalah untuk mengetahui jumlah dan klasifikasi narapidana dan tahanan Politik yang berada dipenjara-penjara Indonesia. selain itu juga menyelesaikan status hukum para tawanan perang yang berada dipenjara-penjara di Jawa dan Madura, karena Perang telah usai dan Indonesia telah Merdeka.
Tidak hanya membebaskan para tahanan perang, Reclasseering juga memberikan pekerjaan kepada para tawanan Perang tersebut dengan menyalurkannya sebagai pekerja pada perkebunan-perkebunan yang ditinggalkan Belanda dan Proyek-proyek Pembangunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah.
Pada masa orde lama
dibawah Pemerintahan Presiden Soekarno, Reclasseering (LMR-RI) sempat
berkantor di Istana Negara dengan Kode Sandi 007/KHUSUS dan di jalan. Veteran
Jakarta Pusat, hal ini berlangsung selama beberapa tahun sebelum
meletusnya pemberontakan G30 S PKI.
LMR-RI sebagai organisasi Independen dan HAM
tertua di Indonesia. sejak berdirinya ditahun 1931 (Perkumpulan Reclasseering)
dan dikukuhkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Penetapan Menteri Kehakiman
R.I. No. JA.5/105/5, tanggal 12 Nopember 1954, serta dimuat dalam Berita Negara
No. 105/1954 dan Lembaran Negara No. 90/1954 dengan Missi pokok "UNTUK NEGARA & MASYARAKAT". Legatimasi ini
diperkuatkan lagi dengan Penetapan Menteri Kehakiman R.I No. JH.7.1./6/2,
tanggal 9 Juni 1956 sebagai Badan Peserta Hukum.
*Berbagai Sumber




.jpg)








