Bhayangkara Indonesia News
Menjunjung Kebenaran, Keadilan Dan Kemanusiaan
Senin, 17 Agustus 2026
Minggu, 16 Agustus 2026
Pray For NTT
Keluarga
Besar Kemenko Polkam turut berdukacita atas musibah gempa bumi yang melanda
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi
dan menguatkan saudara-saudari kita yang terdampak, serta memberikan ketabahan
bagi keluarga yang tengah menghadapi musibah ini.
Mari bersatu dalam doa dan aksi nyata untuk
membantu saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan bantuan di NTT. Bersama,
kita kuatkan solidaritas dan kepedulian untuk mereka yang sedang menghadapi
masa sulit.
#KemenkoPolkam
#PrayforNTT
Kamis, 13 Agustus 2026
Pertempuran Pasukan Gabungan Perancis dan Belanda melawan Inggris dalam perang Napoleon di Jawa.
Sabtu Malam, 10 Agustus 1811, di
bangunan bekas perwira ajudan Gubernur Jendral kawasan Weltevreden, Gubernur
Jendral Janssens memimpin rapat para perwira gabungan Perancis dan Belanda nya
guna membahas laju pasukan Merah Inggris yang sudah 2 langkah dihadapan mereka.
Seminggu lalu tepatnya tanggal 4
Agustus 1811, pasukan Merah Inggris mendarat di Cilincing dan tanpa halangan
berarti mereka menguasai Batavia hanya dalam hitungan hari, tanggal 6 Agustus
bahkan pasukan Inggris sudah berbaris menuju Struiswijk yang saat ini jalan
persimpangan antara jalan Majapahit dan jalan Merdeka Utara dan tanggal 9
Agustus pagi serdadu Belanda sudah melihat tentara Merah Inggris di simpang
Struiswijk yang dalam selemparan batu atau paling lambat besok mereka akan
menyerbu Weltevreden.
Sebenarnya pihak tentara Inggris
sendiri masih dalam kebingungan menghadapi kenyataan betapa mudahnya mereka
menguasai Batavia tanpa perlawanan berarti dari pihak Perancis dan Belanda.
Kebanyakan yang sakit dari pasukan Inggris justru karena penyakit tropis yang
di duga karena lembab nya udara tapi tak ada luka atau tewas karena bertempur.
Para perwira Inggris banyak yang
masih menduga bahwa tindakan musuh adalah taktik jebakan buat pasukan Inggris
untuk masuk lebih jauh lalu Inggris akan dihabisi pada benteng terkuat mereka
di Meester Cornelis arah ke selatan luar Batavia.
Namun itu semua masih dugaan,
para perwira Inggris masih harus berfikir bagaimana kekuatan pasukan lawan maka
dikirim beberapa mata-mata untuk mengetahui kekuatan pasukan Belanda dan
Perancis tersebut.
Dari mata-mata yang dikirim
tersebut, pihak Inggris bisa mengetahui kekuatan lawan mereka. Berapa tepatnya
luas kamp mereka, jumlah benteng, kaliber meriam yang tersedia, kondisi
cadangan perbekalan dan lainnya hingga pasukan Inggris bisa menusuk langsung ke
arah pertahanan Belanda dan Perancis di Struiswijk.
Kembali ke rapat Gubernur
Jendral Janssens dengan para perwiranya. Janssens sedang mendengarkan usulan
para perwiranya tentang bagaimana mengatasi laju tentara Merah Inggris.
Seperti dugaan pihak Belanda dan
Perancis keesokan hari pada Sabtu, 10 Agustus 1811, semenjak pagi buta, sekitar
2.500 serdadu Inggris, yakni sepoy dari arah Batavia, masuk ke Champ de Mars
atau Lapangan Banteng sekarang kemudian mengarah ke jalan utama yang menuju
Bogor. Jalan itu melewati sepanjang kamp Perancis.
Saat dilihat pasukan Merah
Inggris bergerak mendekat jarak tembak meriam, lalu menyalaklah meriam tentara
gabungan Perancis dan Belanda dan segera pasukan Inggris menyebar di medan
perang dan melawan.
Untuk pertama kali sejak
pendaratan pasukan Inggris, terjadi pertempuran antara pasukan Perancis dan
Inggris. Ya 6 Hari dari 4 Agustus 1811 pertempuran pertama dalam perang
Napoleon di luar Eropa terjadi.
Pasukan Inggris segera menyadari
bahwa sisi kiri wilayah Perancis tidak dijaga. Semua batalyon dipusatkan di
jalan utama hingga meluber ke kanan ke arah timur dan Selokan, tapi di sebelah
kiri, tidak ada pasukan Perancis. Kosongnya sisi kiri segera dimanfaatkan
tentara Inggris menyusup ke dalam wilayah kosong itu.
Tepatnya di antara sungai
Ciliwung dan jalan tanah berdebu dengan cepat Inggris melihat bahwa di sana ada
kemungkinan melakukan manuver pasukan infantri mereka untuk mengepung pasukan
lawan.
Jenderal Janssens dan Jendral
Jumel mengawasi semua itu dari belakang dengan berlindung pada sebuah gundukan
tanah. Saat yang sama Jenderal Alberti maju ke dekat batalyon untuk memberi
saran dan semangat.
Infantri Perancis dan Belanda
dibantu empat meriam yang ditarik kuda mengambil tempat di jalan utama lalu
menghujani pasukan Inggris dengan pelurunya.
Dipihak lain para prajurit
infanteri Belanda tidak sempat beristirahat, mereka terus menembaki dengan
bedil semua tentara Inggris dan sepoy yang berada dalam jangkauan mereka.
Walau diserang dengan sengit,
pasukan Inggris melawan artileri Perancis yang ganas dengan dua meriam
berkaliber kecil namun gesit dan cekatan, meriam itu melumpuhkan para penembak
jitu Perancis yang ditempatkan di rumah dan gubuk.
Sementara tembakan diarahkan ke
tentara Perancis, sebuah detasemen Inggris menyerbu ke posisi itu dari kiri.
Pihak Perancis melawan dengan gigih, tetapi penembak meriam yang tidak
mempunyai kesempatan untuk menyerang diterjang infanteri ringan Inggris yang
datang dari samping.
Pasukan pembantu kavaleri yakni
orang Bugis, menghunus keris mereka untuk mempertahankan meriam itu, namun
dikalahkan. Bayonet Inggris yang panjang dengan mudah mengalahkan keris mereka.
Prajurit yang dikalahkan, mundur sambil mendorong kereta yang berisi mesiu
sampai ke kamp artileri Perancis.
Sang Gubernur Janssens salah
menduga dan mengira situasinya sedemikian gawat lalu memerintahkan pasukan
gabungan Perancis dan Belanda untuk mundur ke benteng berparit.
Kekacauan yang timbul sebagai
akibat perintah tak masuk akal itu harus dibayar mahal.
Pasukan Inggris mengejar pasukan
Perancis demikian dekat sehingga sebagian di antaranya mengikuti mereka
memasuki benteng dan secara spontan prajurit resimen kedua Perancis mulai
menembaki tentara berbaju merah itu yang terpaksa berhenti di jarak sekitar 200
meter dari pertahanan parit.
Selama berjam-jam prajurit
Perancis berhasil berhimpun di kamp setelah dengan berbagai cara menghindari
pasukan Inggris yang sekarang menduduki jalan masuk ke sana.
Menjelang sore para perwira
gabungan dari Perancis dan Belanda mulai menghitung prajurit yang tewas dan
mereka yang berhenti bertempur karena luka parah.
Jenderal Alberti terbunuh dengan
gagah berani, veteran perang Spanyol itu berusaha membangkitkan kembali
semangat tentara Perancis yang mulai luntur sampai tiba-tiba dia melihat sebuah
peleton berkuda yang berseragam hijau yang dikiranya berusaha untuk berlindung
dari hujan peluru.
Jenderal Alberti mengira itu
pasukan Pemburu Perancis padahal resimen garis depan ke-89 yang sedang menembus
garis pertahanan Perancis.
Sang Jenderal awalnya
memerintahkan mereka untuk kembali bertempur dalam bahasa Perancis, namun tak
di gubris yang ada ia terkena beberapa peluru tepat ditubuhnya hingga tewas.
Tercatat juga seorang kolonel
tewas sehingga menambah jumlah perwira yang gugur menjadi 17 dan 41 prajurit
yang gugur atau terluka dalam pertempuran itu.
Kerugian lebih besar di
bandingkan pihak Inggris yang kehilangan 5 perwira 29 prajurit.
Pertempuran hari ini selesai
menjelang malam, saat matahari terbenam pasukan Perancis, Belanda yang di bantu
Pribumi masih bertahan di sekitar benteng Kecil dekat istana Putih Daendels
sedang pihak Inggris sudah menguasai seluruh kawasan hutan yang kelak dikenal
sebagai lapangan Monas sekarang.
Saat tengah malam sepasukan
gabungan Perancis dan Belanda dengan diam-diam mengawal Gubernur Janssens ke
benteng terkuat mereka di Meester Cornelis dan kelak kembali terjadi
pertempuran meriam terbesar selama perang Napoleon di Jawa dekat benteng
tersebut yang lokasinya saat ini dekat kali Ciliwung dan jalan Pramuka.
*Sumber buku Perang Napoleon di Jawa 1811
Rabu, 12 Agustus 2026
Gladi Kotor HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Libatkan 81 Pesawat dan Helikopter TNI Untuk Demo Udara
Jakarta - Sejak pukul 08.00 WIB,
pelaksanaan gladi kotor rangkaian Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI
dilakukan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/08/2026). Pada momen gladi
tersebut, demo udara yang melibatkan sekitar 81 pesawat dan helikopter milik
TNI turut ditampilkan.
Menteri Sekretaris Negara
(Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam keterangannya usai mengikuti jalannya gladi
kotor pertama menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerbang yang terlibat.
Menurutnya, kemampuan para penerbang dalam mengoperasikan berbagai jenis
pesawat dan helikopter menunjukkan kesiapan sumber daya manusia Indonesia dalam
mendukung pelaksanaan upacara kenegaraan.
Mensesneg mengakui sejumlah
manuver dalam latihan sempat membuat suasana yang mendebarkan. Namun, Mensesneg
menilai hal tersebut sekaligus menunjukkan profesionalisme dan kesiapan para
personel TNI.
Usai gladi kotor, evaluasi
langsung dilakukan untuk menyempurnakan sejumlah aspek teknis pelaksanaan upacara.
Salah satunya terkait koordinat dan posisi manuver pesawat maupun helikopter
agar berada tepat pada titik yang telah ditentukan.
Sumber: Biro Humas Setneg & BPMI Setpres
Panggilan Akrab Masa Revolusi Kemerdekaan : BOENG
Namun kemana “ Si Boeng” ini
sekarang ?
Bung, di mana kini kau berada
Bertahun lamanya kita berpisah
Tak tentu di mana rimbanya
Semenjak …
Malam itu kita bersua
Bung, bilakah kau akan kembali
Gelisah …
Tak sabar hamba menanti lagi.
Kalimat-kalimat di atas,
merupakan cuplikan lirik lagu “Bung di Mana” yang dipopulerkan Diah Iskandar
pada sekitar tahun 1960-an. Sayangnya, saya tidak ingat lagi siapa penciptanya
(Ada yang tahu?).
Sejak era revolusi fisik
(1940-an) hingga 1960-an, memang tak sedikit pencipta lagu pop maupun lagu
perjuangan, yang mencantumkan panggilan “Bung” dalam lirik lagunya. Mungkin
Anda, atau Ayah Anda, atau Kakek Anda, masih ingat dengan lirik lagu sebagai
berikut: … waktu semalam Bung/aku bermimpi/digigit ular Bung/ besar sekali.
Kemudian, keterlaluan saja kalau
Anda tidak ingat lagi dengan lirik lagu yang berbunyi: … Mari Bung rebut
kembali … Itu lirik penutup lagu perjuangan karangan Ismail Marzuki, untuk
menyemangati para prajurit Siliwangi yang tengah berjuang merebut kembali
Bandung dari tentara Belanda, dalam peristiwa “Bandung Lautan Api”.
Memasuki dekade 1970-an hingga
sekarang, lagu-lagu yang mencantumkan panggilan “Bung” tak pernah lagi
diciptakan, seiring surutnya panggilan Bung dalam pergaulan masyarakat Indonesia.
Panggilan Bung, yang terasa lebih demokratis karena tidak membeda-bedakan
strata sosial ataupun rentang usia, kembali digantikan dengan panggilan yang
feodalistik: Bapak. Atau panggilan primordialistik: Mas, Akang, Abang.
Saya tidak tahu siapa yang mulai
mempopulerkan panggilan Bung. Tetapi kemungkinan besar, panggilan Bung mulai
muncul ke permukaan pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Saat itu, para pemuda dari
berbagai daerah di Indonesia datang ke Jakarta, dengan membawa berbagai kekhasannya,
termasuk kekhasannya dalam memanggil sesama teman. Pemuda dari Jawa tengah dan
Jawa Timur, misalnya, akan terbiasa memanggil temannya dengan sebutan Mas.
Sebutan itu tentu saja terasa asing bagi para pemuda dari daerah lainnya. Sebut
saja bagi para pemuda Pasundan yang biasa menggunakan panggilan Akang.
Untuk itu diperlukan suatu
panggilan yang bersifat umum dan terasa lebih demokratis, egaliter, tidak
membeda-bedakan usia, suku dan golongan. Maka muncullah panggilan Bung.
Panggilan Bung, kemudian menjadi semakin populer di kalangan para pejuang
kemerdekaan RI. Terutama setelah para pendiri Republik, seperti Soekarno, Hatta
dan Syahrir, memberikan contoh dengan menyebut diri mereka: Bung.
Para pejuang kemerdekaan akan
menyapa teman-teman seperjuangannya dengan seruan: Merdeka, Bung! Panggilan
Bung pun sering terdengar, baik dalam pertemuan formal maupun informal, bahkan
masuk pula dalam karya sastra. Salah satunya termaktub dalam puisi Chairil
Anwar, Antara Krawang-Bekasi:
Kami bicara padamu dalam hening
di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam
dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Pernah, di masa Orde Baru, para
deklamator tidak berani membaca baris-baris: menjaga Bung Karno/ menjaga Bung
Hatta/ menjaga Bung Syahrir … Baris-baris tersebut dibuang begitu saja,
sehingga puisi Chairil Anwar yang satu ini, menjadi tidak utuh lagi. Bukan
karena alergi terhadap panggilan Bung, tetapi lantaran takut dicap antek-antek
Soekarno, atau antek-antek Orde Lama.
Tetapi panggilan Bung memang
perlahan menghilang, sejak Soeharto menjadi Presiden RI. Encyclopaedia
Americana volume lama yang terbit tahun 1970-an, secara khusus menulis dalam
bab tentang Soeharto, bahwa panggilan Bung, sejak Jenderal Soeharto menjadi
Presiden RI, digantikan dengan panggilan Bapak. Dan, panggilan seperti itu
tampaknya sesuai bagi masyarakat Indonesia yang paternalistik.
Bukan soal paternalisme,
sebetulnya. Namun lebih disebabkan hirarki dalam ketentaraan. Tentara
diharuskan memanggil Bapak kepada atasannya, atau kepada orang yang pangkatnya
lebih tinggi. Ini berlaku secara universal di kalangan militer. Di Amerika
Serikat saja, yang mengklaim sebagai negara paling demokratis pun, para
prajuritnya diwajibkan memanggil Sir, kepada atasannya.
Di zaman revolusi fisik,
panggilan Bung memang lebih populer di kalangan pejuang sipil, seperti Bung
Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo, Bung Chairul Saleh, Bung Adam
Malik. Sedangkan di kalangan militer panggilannya memang tetap Pak, seperti Pak
Dirman, Pak Nasution, Pak Harto, Pak Simatupang, Pak Kawilarang, Pak Urip.
Jadi wajarlah. Ketika republik
ini dipimpin orang sipil (Soekarno), panggilan Bung bergaung dari Sabang sampai
Merauke. Tetapi tatkala pimpinannya digantikan orang militer (Soeharto),
panggilan Bapak merebak ke seluruh negeri. Lalu mengapa Habibie dan Abdurrahman
Wahid yang notabene orang sipil tidak lantas dipanggil Bung sewaktu menjabat
Presiden RI? Mungkin karena Habibie sudah keenakan dengan panggilan Bapak sejak
ia masih menjabat Menteri, dan Abdurrahman Wahid sudah terlanjur akrab dengan
panggilan Gus sejak masa kanak-kanak. Maklum, dia kan anak Kiyai.
Di masa Soeharto, sebenarnya
masih ada pejabat pemerintah yang lebih suka dipanggil Bung, yakni Bung Adam
Malik. Dia memang salah seorang pejuang sipil di zaman revolusi kemerdekaan.
Tatkala Adam Malik meninggal dunia, majalah Times menulis in memoriam tentang
mantan wakil presiden ini, dengan judul: The Last Bung.
Bila ukurannya adalah pejabat
pemerintah, Adam Malik sebenarnya bukan The Last Bung. Masih ada pejabat
lainnya yang berusaha keras agar dipanggil Bung, yakni Bung Abdul Gafur dan
Bung Harmoko.
Bung Gafur memang sudah biasa
dipanggil Bung di kalangan Angkatan ’66 (yang rata-rata dilahirkan pada zaman
revolusi). Sedangkan Bung Harmoko adalah wartawan sekaligus seniman, dan
panggilan Bung sampai sekarang pun masih digunakan di kalangan kedua profesi tersebut.
Paling tidak di kalangan wartawan tua dan seniman tua.
Bung Mochtar Lubis, dalam pidato
kebudayaannya tentang “Ciri Manusia Indonesia” di Taman Ismail Marzuki (TIM)
tahun 1977, mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali menggunakan panggilan
Bung kepada siapapun, sebagai salah satu upaya membudayakan perilaku demokrasi.
Tetapi ajakan Mochtar Lubis ini tampaknya tidak berhasil, bahkan di
lingkungannya sendiri.
Sebagai bukti, sewaktu saya
menemui Mochtar Lubis di kantornya, kantor penerbit Yayasan Obor Indonesia,
pada sekitar tahun 1980-an, saya tidak menemukan satu orang pun bawahan atau
pegawai Bung Mochtar, yang memanggilnya Bung. Semuanya memanggilnya Bapak. Saya
tidak sempat bertanya mengapa Bung Mochtar tidak melarang pegawainya
memanggilnya Bapak.
Sekarang, panggilan Bung sudah
nyaris sirna. Kalaupun masih ada yang menggunakannya, tetaplah angkatan tua,
seperti saya, atau orang-orang yang lebih tua dari saya. Mungkin masih ada
kalangan muda yang menggunakannya, namun jumlahnya sangat sedikit. Saya pernah
ditertawakan oleh yunior saya, sewaktu saya memanggilnya Bung. Dia bilang,
“kayak pejuang kemerdekaan aja.” Temannya (yang juga yunior saya) menimpali,
“jadul banget …”
Jadul alias kuno, itulah
pandangan anak-anak sekarang terhadap panggilan Bung. Tetapi yang lebih
memprihatinkan, tak sedikit orang tua atau orang yang merasa dituakan,
tersinggung ketika dipanggil Bung. Panggilan Bung yang diucapkan oleh orang
yang lebih muda, dinilainya sebagai kelancangan. Orang-orang ini lebih merasa
dihormati jika dipanggil Bapak.
Sayangnya, negeri ini terlalu
machoistic, tidak ada panggilan yang setara Bung, untuk perempuan. Ada sih,
yaitu Mbak. Tapi panggilan Mbak sangat terasa Jawa. Meski untuk sementara,
bolehlah.
Untuk sementara juga, mari kita
populerkan kembali panggilan Bung. Itu pun kalau Anda mau. Saya ingin panggilan
Bung kembali membumbung. Tetapi, Bung, di mana kini kau berada?
Sumber : http://jagatalun.com/.../08/17/bung-di-mana-kini-kau-berada/
Senin, 10 Agustus 2026
Gelar Rapat Koordinasi, Menko Polkam: Pemerintah Perkuat Langkah Penanganan Karhutla di Tengah Ancaman El Niño
Polkam, Jakarta – Menteri
Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.)
Djamari Chaniago menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat sinergi dalam
penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca ekstrem
dan ancaman El Niño. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko serta
memperluas potensi kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.
“Sampai dengan hari ini, wilayah
kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107 ribu hektare lebih.
Karena kesungguhan kita semua, kita sudah mengerahkan banyak sekali tenaga,
kemampuan, dan alat-alat penanganan untuk itu,” ujar Menko Polkam Djamari
Chaniago dalam konferensi pers seusai Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan
Eskalasi Karhutla di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Rapat koordinasi digelar secara
hibrida. Hadir secara tatap muka Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri
Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, Deputi BMKG, Asops Panglima TNI,
Astamaops Kapolri, Sesmenko Polkam, Pangdam XII/Tanjungpura, serta para Deputi
Kemenko Polkam. Sementara itu, secara daring hadir gubernur dan unsur Forum
Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dari Sumatera Selatan, Riau, Jambi,
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa
Timur, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat Daya.
Menko Djamari mengatakan,
pemerintah terus mengerahkan berbagai sumber daya melalui operasi udara dan
darat untuk mengendalikan sekaligus mencegah meluasnya karhutla. Dalam operasi
udara, Satgas Udara telah mengerahkan sekitar 43 helikopter. Selain itu,
sekitar 10 hingga 15 pesawat bersayap tetap (fixed wing) juga disiapkan sesuai
kebutuhan di lapangan.
“Operasi udara sebetulnya sangat
efektif, terutama melalui operasi modifikasi cuaca yang dilakukan BNPB. Tetapi
ada satu persyaratan yang harus kita hadapi, yaitu harus ada awan hujan,” kata
Menko Djamari.
Menurutnya, operasi modifikasi
cuaca (OMC) hanya dapat dilakukan apabila terdapat awan yang berpotensi
menghasilkan hujan. Berdasarkan prakiraan cuaca, terdapat peluang munculnya
awan hujan dalam beberapa hari ke depan hingga sekitar 18 Agustus. Pemerintah
terus memantau perkembangan cuaca agar setiap peluang terbentuknya awan hujan
dapat segera dimanfaatkan untuk melakukan penyemaian awan di wilayah yang
membutuhkan.
“Selama awan hujan tidak bisa
kita temukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan. Karena itu, perubahan
cuaca sedikit apa pun yang kira-kira akan memunculkan awan hujan harus segera
kita manfaatkan untuk melakukan operasi modifikasi cuaca,” kata Menko Polkam.
Selain operasi udara, penanganan
karhutla melalui operasi darat terus diperkuat, terutama karena ketersediaan
sumber air di sejumlah wilayah mulai berkurang akibat musim kemarau. Pemerintah
menyiapkan flexible tank yang dapat dipindahkan ke lokasi yang membutuhkan
serta mengembangkan sumber air alternatif, seperti pembuatan sumur di wilayah
rawan kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan
pasokan air dalam penanganan titik api.
Pemerintah juga memberikan
perhatian khusus terhadap enam provinsi yang memiliki tingkat kerawanan
karhutla tinggi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Keenam wilayah tersebut terus
dipantau secara ketat, sementara pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda
telah melakukan berbagai langkah untuk mencegah dan mengendalikan potensi
kebakaran.
Di luar enam provinsi tersebut,
pemerintah tetap memantau titik-titik kebakaran di sejumlah wilayah lain.
Beberapa kejadian kebakaran di kawasan pegunungan, antara lain Bromo, Gunung
Gede Pangrango, dan kawasan sekitar Rinjani, telah ditangani. Penanganan
kebakaran di Bromo menunjukkan perkembangan signifikan dengan menyisakan satu
titik api yang masih dalam pemantauan, sedangkan kebakaran di Gunung Gede
Pangrango dan kawasan sekitar Rinjani telah berhasil ditangani.
“Ada yang di luar ini, seperti
misalnya kemarin terbakar di Bromo. Itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam
sudah tuntas, kemudian tinggal satu titik api saja. Di Gunung Gede Pangrango,
itu pun sudah selesai. Kemudian di sekitar Rinjani juga ada, itu juga sudah
selesai,” kata Menko Djamari.
Menurut Menko Polkam, ancaman
karhutla perlu semakin diwaspadai seiring meningkatnya potensi El Niño.
Fenomena tersebut dapat menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang,
kondisi semakin kering, dan risiko terjadinya kebakaran meningkat.
“El Niño terkuat itu adalah
suatu keadaan di mana keadaan itu sangat membuat kita kekeringan dan mudah
sekali terbakar. Kemarau akan lebih panjang. Jadi, cuaca ini juga sangat
menentukan keberhasilan upaya kita,” kata Menko Djamari.
Selain kawasan hutan dan lahan,
pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA)
sampah. Kondisi TPA yang kering berpotensi memicu kebakaran dan menghasilkan
gas metana yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah mendorong
agar kawasan TPA terus dibasahi sebagai langkah pencegahan. Apabila terjadi
kebakaran, penanganan harus dilakukan secara cepat untuk mencegah dampak yang
lebih luas.
Dalam rapat koordinasi tersebut,
Menko Polkam memberikan sejumlah penekanan kepada seluruh peserta. Pertama,
penanganan karhutla harus dilakukan sedini mungkin dengan meningkatkan
kesiapsiagaan dan langkah pencegahan agar kebakaran tidak berkembang hingga
mencapai kondisi darurat.
Kedua, seluruh unsur diminta
semakin memperkuat sinergi sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.
Para gubernur sebagai pimpinan di daerah diminta memperkuat kerja sama
antarunsur di wilayahnya, termasuk Forkopimda dan unsur masyarakat, sehingga
setiap potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani secara cepat, terpadu,
dan efektif.
Ketiga, Menko Polkam menegaskan
pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Jajaran
Polri, Kementerian Kehutanan, dan Kejaksaan diminta melakukan penegakan hukum
dan menindak para pelaku apabila ditemukan perbuatan yang memenuhi unsur
pidana.
Menko Polkam menegaskan bahwa
penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu instansi. Sinergi
pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, kementerian/lembaga, Forkopimda, serta
berbagai unsur masyarakat menjadi kunci agar upaya pencegahan dan penanganan
karhutla dapat berjalan efektif.
“Pekerjaan ini tidak bisa
dikerjakan oleh satu badan pun. Kita harus mengerjakannya bersama-sama dengan
berbagai macam unsur yang ada di masyarakat,” tegas Menko Djamari.
Dengan dukungan dan sinergi
seluruh unsur terkait, pemerintah optimistis upaya pengendalian karhutla dapat
terus diperkuat sehingga potensi meluasnya kebakaran serta dampaknya terhadap
masyarakat dapat ditekan.
*Humas Kemenko Polkam RI
Minggu, 09 Agustus 2026
OVERSTEE IGNATIUS SLAMET RIYADI
Slamet Riyadi Komandan Divisi Panembahan
Senopati Solo yang memimpin Serangan Umum Kota Solo.
Serangan besar besaran ke dalam
kota Solo selama 4 hari 4 malam ini meruntuhkan ego dan "pd" tentara
Belanda bahkan hingga ke komadan Brigade mereka!
Tentara Belanda di Solo tak akan
menyangka mereka di kunci dan tak bisa begerak dalam pertempuran besar selama
hampir seminggu.
Dalam catatan komadan Brigade
Belanda Kolonel Van Ohl, bahkan mereka berfikir pemimpin dan pengatur serangan
adalah lulusan sebuah akademi militer! karena saking cedik dan rapinya serangan
mereka ke dalam kota Solo.
Saat upacara serah terima kota
Solo dari pihak Belanda ke TNI, Kolonel Van Ohl terhenyak karena ia tak
menyangka sang inpirator dan pemimpin serangan pada pasukan nya masih sangat
muda bahkan seusia anaknya.
Tampak Overste Slamet Riyadi saat
upacara serah terima kota Solo dari Tentara Kerajaan Belanda ke Tentara
Nasional Indonesia tanggal 12 November 1949.
*Memperingati Serangan Umum Kota Solo 7 - 10 Agustus 1949
Transformasi Pengelolaan Sampah Jakarta di TPST Bantargebang
Jakarta - 7 Agustus 2026 TPST
Bantargebang menerima kunjungan Wamenko Bidang Pangan RI Bapak Hanif Faisol Nurofiq
dan jajaran. Kunjungan ini bukan sekedar pemantauan biasa, melainkan langkah
untuk menyelaraskan visi besar mengenai pengelolaan sampah Jakarta.
Didampingi oleh Kepala Unit
Pengelola Sampah Terpadu Agung Pujo Winarko,
ada beberapa hal yang menjadi concern kunjungan hari ini yaitu beliau
mengapresiasi implementasi kebijakan bahwa sejak 1 Agustus 2026 TPST
Bantargebang hanya menerima sampah residu, sebagai langkah penting menuju
pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. selanjutnya pengelolaan sampah
dikaitkan dengan ketahanan pangan, pesan utama yang diangkat adalah bahwa
pengelolaan sampah bukan semata isu lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan
ketahanan pangan melalui pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, energi,
atau produk bernilai tambah.
Hal ini sejalan dengan agenda
Kemenko Pangan dalam mendorong ekonomi sirkular. Kemudian beliau menyampaikan
perlunya dorongan penguatan pemilahan sampah dari sumber, penekanan pada
pentingnya masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha melakukan pemilahan
sampah sejak rumah tangga agar volume residu yang masuk ke Bantargebang terus
berkurang. Terakhir beliau memberikan dukungan terhadap transformasi
pengelolaan TPST Bantargebang dari sistem open dumping menuju controlled
landfill serta pengolahan yang lebih modern, termasuk pengembangan
waste-to-energy dan teknologi pengolahan lainnya.
Komitmen dan dukungan penuh dari pemerintah pusat menjadi energi positif dalam transformasi TPST Bantargebang.
Sabtu, 08 Agustus 2026
Mengenang Serangan Umum Solo 7 -10 Agustus 1949
Pada tanggal 7 Agustus 1949
sewaktu kawan - kawan sibuk bertempur dengan tentara Belanda di dalam kota
Solo, di rumah kamituwo dan terletak di dekat pos Polisi Belanda AP ataun
Algemene Politi Kebakramat pada jam 15.00 diadakan perundingan antara 2 orang
anak TGP atau Tentara Genie Pelajar yakni Soetojo dan Soemarno dengan 2 orang
Polisi Belanda yang akan menyerah kepada TNI.
Kekuatan pos Polisi Belanda
tersebut terdiri dari 10 orang Polisi dari suku Jawa dan 2 orang Belanda,
bersenjatakan 2 brengun, 2 stengun, dan 10 pucuk senapan. Dalam pembicaraan
tersebut telah disepakati bahwa pada tanggal 10 Agustus 1949 jam 19.00 pasukan
TGP pura - pura akan menyerang pos Polisi Belanda AP tersebut, dan mereka
seakan - akan melawan tetapi sesungguhnya akan membunuh 2 orang Belanda yang
ikut dalam pos penjagaan.
Maka pada tanggal 10 Agustus
1949 sesuai dengan rencana. Pasukan TGP Solo menyerang' pos Polisi Belanda
tersebut. Pasukan TGP mengepung pos Polisi Belanda dari semua sisi depan pos
mereka, bahkan beberapa anak anak TGP naik ke pohon mencari ruang tembak.
Lalu, serangan di mulai..!
Semua senjata manyalak ke arah
pos Polisi Belanda tersebut bahkan anak anak TGP merayap beringsut mendekati
pagar pos musuh seakan melempar granat. Sedang dari pihak musuh sesekali
terdengar suara balasan tembakan.
Walau bising suara peluru dan
ledakan granat namun unik nya tak satupun peluru anak anak TGP mengenai para
musuh mereka!, ya serangan itu serangan pura pura!, seperti kesepakatan yang
mereka buat beberapa hari sebelumnya.
Di dalam pos Polisi Belanda,
rupanya anggota polisi asal pribumi memang membunuh dua anggota polisi mereka
yang asli Belanda. Lalu setelah pertempuran setengah jam berhenti dan semua
polisi Belanda tadi menyerah.
Anak anak TGP Solo berhasil
membawa 10 orang Polisi AP dengan senjata senjatanya, yakni 2 brengun beserta 2
reserve loopnya, 2 stengun, 9 senapan mouser, 1 senapan LE, beberapa houderbak
dan ratusan peluru serta satu set pemancar Radio.
Sekelumit perjuangan Para
Tentara Pelajar di Solo saat Serangan Umum kota Solo Agustus 1949.
*Sumber : Buku Pertempuran Empat Hari di Solo dan sekitarnya
Antusias Masyarakat Mencapai ratusan Ribu Untuk Berpartisipasi Dalam " war " Undangan HUT RI Ke - 81 Di Istana
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo
Hadi mengajak masyarakat untuk terus memanfaatkan kesempatan mengikuti war
undangan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang masih
dibuka hingga Jumat, 7 Agustus 2026. Masyarakat juga diimbau mengikuti seluruh
ketentuan pendaftaran agar proses berjalan tertib dan lancar.
Dalam keterangan tertulisnya, Mensesneg pun menyampaikan
apresiasi atas tingginya antusiasme masyarakat. Pada hari pertama pelaksanaan
war undangan, ratusan ribu peserta dari 36 provinsi di Indonesia serta 14
negara ikut berpartisipasi. Tingginya minat tersebut mencerminkan semangat
kebangsaan dan antusiasme masyarakat untuk menyaksikan secara langsung Upacara
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka.
#KemensetnegRI
#HUT81RI
#KitaIndonesia
Jumat, 07 Agustus 2026
SAAT PARA PEMIMPIN INDONESIA MENUJU DALAT
Sebelum subuh lapangan terbang
Kemayoran tiba tiba ramai, Dokter Radjiman memakai beskap Jawa lengkap dengan
keris yang terakhir muncul di lapangan udara itu..
Bung Karno dan Bung Hatta sudah
menunggu di loby dengan bebapa perwira Jepang, Saat Dokter Radjiman datang
mereka tampak mengantuk terlihat dari raut muka mereka.
Ya pagi buta tanggal 9 Agustus
1945, para "pemimpin" Indonesia itu di perintahkan menghadap Panglima
Tertinggi Tentara Kekaisaran Jepang se Asia Tenggara yakni Pangeran Marsekal
Hisaichi Terauchi yang bermarkas di Dalat Indochina.
Penerbang yang sangat di
rahasiakan bahkan tidak boleh memberitahu keluarga dekat, Bung Hatta dan Bung
Karno sendiri baru tahu akan terbang ke Dalat sehari sebelumnya dan Dokter
Radjiman bahkan baru tahu ketika ia sampai di Kemayoran pagi itu.
Soeharto sebagai dokter pribadi
Bung Karno rupanya tak termasuk yg di ajak Jepang terbang ke Dalat maka ia
sebagai dokter pribadi Bung Karno sebenarnya penumpang gelap dalam penerbangan
itu hingga ia sempat di usir pihak Jepang namun ia ngotot harus ikut Karena
harus mendampingi Bung Karno itu pun baru pagi itu ia tahu akan terbang ke
mana...
"Dek Har kita menuju Dalat
Indochina menemui Marsekal Tarauchi".....
Sang dokter pribadi Bung Karno
itu terkesiap! Ia Kaget tapi sudah terlambat untuk menolak..
Dalam pesawat itu hanya ada
mereka berempat, di pihak Jepang ada 5 orang yakni pilot dan co pilot serta
satu teknisi pesawat. Perwira Jepang yang ikut adalah Letkol Nomura dari
Gunseikenbun Jakarta dan penterjemah kolonel Sunkichiro Miyoshi.
Penerbang itu harus singgah dulu
ke Singapura yang oleh Jepang di beri nama Syonanto dan setelah setengah hari
baru penerbangan di lanjut menuju Dalat.
Pertemuan dengan Marsekal Tarauchi yang pada akhirnya membelokan sejarah kemerdekaan Indonesia, di pertemuan itu Marsekal yang masih sepupu Kaisar Hirohito mempersilahkan Indonesia untuk merdeka...
*Sumber buku Saksi Sejarah dr. Soeharto
-
Menjunjung Kebenaran, Keadilan Dan Kemanusiaan The Partnership Building Of Divkum Polri PEMBINA Irjen.Pol. DR. Asep J Ahmadi, SH,...
-
Gilimanuk - Suasana antrean pemudik di Terminal Cargo tampak lebih nyaman setelah Brimob Gilimanuk melakukan penyiraman area menggunakan mob...




.jpg)






