Bhayangkara Indonesia News
Menjunjung Kebenaran, Keadilan Dan Kemanusiaan
Jumat, 18 September 2026
A.W.V. HINNE, “SHERLOCK HOLMES” DARI HINDIA BELANDA
---
Pada awal abad ke-20, nama Adolf Wilhelm Verbond Hinne begitu dikenal di Batavia. Selama lebih dari dua puluh tahun bertugas sebagai polisi, ia terlibat dalam sejumlah operasi penangkapan dan penyelidikan kriminal yang menghebohkan masyarakat.
Salah satu yang paling terkenal adalah perburuan Si Pitung, jago Betawi yang namanya telah menjadi legenda. Namun, kisah Hinne tidak berhenti di sana. Ia juga terlibat dalam penyelidikan kematian seorang perempuan bernama Fatimah, yang kemudian menginspirasi cerita detektif berbahasa Melayu.
Bagaimana perjalanan seorang polisi hingga dijuluki “Sherlock Holmes dari Hindia Belanda”?
---
Adolf Wilhelm Verbond Hinne lahir di Borneo pada 1852.
Sebelum menjadi polisi, ia telah menjalani berbagai pekerjaan dalam pemerintahan kolonial. Ia pernah bertugas di kantor Keresidenan Padang, Sumatra Barat, menjadi kepala kantor pos di Ternate, dan bekerja sebagai penjaga hutan di Jawa Tengah.
Pengalaman tersebut membawanya ke Batavia.
Menurut Margreet van Till dalam Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api, karier Hinne di kepolisian Batavia dimulai sekitar 1887 sebagai onderschout di kawasan Tanah Abang.
Dari sinilah namanya mulai dikenal dalam dunia kepolisian kolonial.
---
Pada masa itu, Batavia berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Namun, keamanan kota dan wilayah sekitarnya juga menjadi persoalan penting bagi pemerintah kolonial.
Hinne dikenal sebagai polisi yang berani menghadapi para jago dan kelompok perampok.
Ketika bertugas sebagai schout di Diestpoort, kawasan yang saat itu dikenal sebagai Glodokplein, ia disebut aktif menangani gangguan keamanan.
Pada 26 Maret 1903, surat kabar Java Bode memberitakan bahwa Hinne bersama satu kesatuan khusus diperintahkan untuk membersihkan wilayah Ommelanden daerah di luar tembok kota Batavia—dari gerombolan perampok.
Keberaniannya membuat nama Hinne semakin menonjol.
Tetapi peristiwa yang paling mengangkat namanya adalah penangkapan seorang tokoh yang telah lama diburu.
Namanya: Si Pitung.
---
Si Pitung merupakan salah satu tokoh paling terkenal dalam cerita rakyat Betawi.
Dalam berbagai kisah yang berkembang di masyarakat, ia digambarkan sebagai jago yang berhadapan dengan para tuan tanah dan kekuasaan kolonial. Namun, cerita rakyat tentang dirinya memiliki berbagai versi, sehingga perlu dibedakan dari catatan sejarah mengenai penangkapannya.
---
Pada 1893, menurut kisah yang dicatat Margreet van Till, Hinne memperoleh informasi bahwa Si Pitung berada di Kampung Bambu, kawasan antara Tanjung Priok dan Meester Cornelis.
Hinne segera bergerak bersama para pembantunya.
Namun, di tengah perjalanan, ia menerima kabar baru. Si Pitung telah menuju kawasan perkuburan di Tanah Abang. Hinne pun mengubah arah pengejaran.
---
Sesampainya di kawasan perkuburan, Hinne dan para pembantunya melakukan pengepungan.
Dua orang pembantunya kemudian memberi tanda bahwa Si Pitung berada di antara makam-makam.
Dalam catatan yang dikutip van Till, Si Pitung mengenakan celana pendek dan membawa sarung revolver bermotif.
Ketegangan meningkat. Baku tembak akhirnya terjadi. Tembakan demi tembakan diarahkan kepada Si Pitung hingga ia tewas.
Perburuan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat Batavia berakhir di kawasan perkuburan Tanah Abang.
Keberhasilan tersebut membuat Hinne menerima banyak pujian dan kemudian diangkat menjadi schout dengan wilayah tugas yang mencakup seluruh Keresidenan Batavia.
---
Kematian Si Pitung kemudian berkembang menjadi bagian penting dari cerita rakyat Betawi.
Dalam berbagai versi yang beredar, muncul kisah mengenai kesaktian, jimat, dan peluru emas.
Namun, unsur-unsur tersebut tidak semuanya dapat dibuktikan sebagai fakta sejarah.
Catatan yang dirujuk dalam kajian van Till menyebut bahwa Si Pitung tewas dalam penyergapan dan baku tembak dengan Hinne beserta para pembantunya.
Sementara itu, cerita tentang kesaktian Si Pitung terus hidup dalam ingatan masyarakat.
Di satu sisi, arsip kolonial mencatat operasi penangkapan.
Di sisi lain, masyarakat Betawi mewariskan kisah tentang seorang jago yang kemudian menjadi legenda.
Dua sisi inilah yang membuat kisah Si Pitung tetap menarik untuk dibaca hingga sekarang.
---
Jika penangkapan Si Pitung mengangkat nama Hinne sebagai polisi pemberani, kasus Fatimah memperlihatkan sisi lain dari perjalanan kariernya.
Fatimah adalah seorang perempuan yang ditemukan tewas dan dirampok di tanah milik seorang tuan tanah Arab.
Ketika Hinne tiba di lokasi kejadian, rumah korban telah digeledah atas inisiatif kontrolir kepolisian W.H.L. Johan. Namun, tidak ditemukan bukti yang dapat menjelaskan kematian tersebut.
Kasus itu kemudian berkembang menjadi penyelidikan yang rumit.
---
Sekitar seminggu kemudian, Hinne menemukan lima orang yang dicurigai terlibat dalam kasus tersebut. Salah satunya adalah kontrolir kepolisian Johan.
Penyelidikan lanjutan menemukan bahwa sejumlah barang bukti diduga telah dihancurkan oleh bawahan Johan.
Temuan tersebut memperuncing perselisihan antara Hinne dan Johan. Di tengah perkara yang semakin rumit, Hinne terus melakukan penyelidikan.
Menurut Margreet van Till, dalam kasus Fatimah, Hinne dipandang oleh publik sebagai satu-satunya pejabat polisi yang jujur.
Perkara tersebut semakin memperkuat citranya sebagai polisi yang berani mengungkap kebenaran.
---
Nama Hinne semakin terkenal setelah surat kabar Bataviaasch Handelsblad menerbitkan cerita bersambung pada 1913 dengan judul:
“De Indische Sherlock Holmes”
Artinya, Sherlock Holmes dari Hindia.
Julukan itu muncul karena kisah-kisahnya dalam menangani berbagai kasus kriminal dianggap menarik dan penuh strategi.
Salah satu cerita mengisahkan operasi penangkapan Gantang. Dalam operasi tersebut, Hinne disebut menyamar dengan mengenakan pakaian seperti kusir sado. Gantang berhasil ditangkap, tetapi kemudian melarikan diri dari penjara.
Cerita seperti ini membuat sosok Hinne semakin dekat dengan gambaran seorang detektif dalam cerita fiksi: berani, cerdik, menggunakan penyamaran, dan mengandalkan informasi untuk memecahkan kasus.
Namun, Hinne tetap merupakan tokoh nyata dalam sejarah kepolisian kolonial. Julukan tersebut merupakan bagian dari popularitasnya di tengah masyarakat dan pemberitaan surat kabar.
---
Pada 1911, Hinne memperoleh kenaikan pangkat sebagai asisten kepala komisaris. Setelah puluhan tahun bertugas, ia telah menjadi salah satu sosok yang dikenal dalam kepolisian Batavia.
Namun, kariernya tidak sampai pada jabatan tertinggi sebagai kepala komisaris kepolisian.
Margreet van Till menyebut sejumlah kemungkinan yang memengaruhi hal tersebut, di antaranya faktor usia, latar belakang Hindia, dan kurangnya pengetahuan teknis.
Di balik keberaniannya sebagai polisi, Hinne juga mengalami peristiwa tragis.
Seorang bawahannya meninggal secara tidak sengaja ketika tengah membersihkan senjata Hinne dan pelatuknya tertarik.
Peristiwa tersebut memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologisnya. Hinne kemudian mengajukan pensiun setelah menerima bintang tanda jasa kedua.
Kisah ini memperlihatkan bahwa kehidupan seorang pejabat yang dikenal berani pun tidak selalu berjalan tanpa kehilangan dan tekanan.
---
A.W.V. Hinne meninggal pada 1915. Namun, namanya tidak ikut hilang bersama berakhirnya masa tugasnya.
Pada 1932, kisah-kisah mengenai sepak terjangnya sebagai polisi Batavia disiarkan melalui Nederlands-Indische Radio Omroep Maatschappij atau NIROM.
Cerita tentang dirinya terus berkembang dalam budaya populer. Salah satunya adalah cerita detektif berbahasa Melayu berjudul Fatima karya F. Wiggers.
Dalam cerita fiksi tersebut, Hinne digambarkan sebagai detektif yang memecahkan misteri pembunuhan Fatima dan mengungkap pelakunya.
Dengan demikian, Hinne bukan hanya dikenang sebagai polisi kolonial, tetapi juga sebagai tokoh yang menginspirasi cerita detektif di Hindia Belanda.
---
A.W.V. Hinne menjalani perjalanan panjang dalam sejarah Batavia.
Ia memulai karier dari berbagai pekerjaan pemerintahan, kemudian menjadi polisi yang dikenal karena keterlibatannya dalam perburuan Si Pitung dan penyelidikan kasus Fatimah.
Namanya semakin populer setelah kisah-kisahnya diangkat menjadi cerita bersambung berjudul De Indische Sherlock Holmes.
Namun, sejarah Hinne juga mengingatkan kita bahwa sebuah kisah dapat berkembang melalui berbagai bentuk: arsip, surat kabar, cerita detektif, dan ingatan masyarakat.
Ada peristiwa yang tercatat, ada kisah yang dituturkan, dan ada legenda yang diwariskan.
Di antara semuanya, nama Hinne tetap menjadi bagian dari sejarah Batavia kota yang menyimpan kisah tentang kekuasaan, kejahatan, keberanian, dan kehidupan manusia pada masa Hindia Belanda.
---
Sumber :
* Historiaid - “A.W.V. Hinne, Sherlock Holmes dari Hindia Belanda.” Amanda Rachmadita, 12 Desember 2022.
* Margreet van Till, Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api.
* Margreet van Till & David McKay, Banditry in West Java, 1869–1942.
Rabu, 16 September 2026
Sampah Tidak Harus Berakhir Menjadi Sampah
Sampah nggak selalu harus
berakhir jadi sampah.
Lewat ekonomi sirkular, material
yang masih bernilai bisa dimanfaatkan kembali, diolah, dan dikembalikan ke
dalam siklus pemanfaatan selama mungkin.
Dari memilah sampah di rumah,
menyalurkannya ke bank sampah, hingga pengolahan organik seperti maggot BSF,
setiap langkah membantu mengurangi sampah sekaligus membuka manfaat ekonomi
bagi masyarakat.
Yuk, mulai pertahankan nilai
material dari sumbernya.
#JakartaSadarSampah #EkonomiSirkular #JagaJakarta #DKIJakarta
Selasa, 15 September 2026
KEPALA BNN RI TERIMA AUDIENSI PUTERI ANAK DAN REMAJA DKI JAKARTA, DORONG GENERASI MUDA JADI AGEN PERUBAHAN
Jakarta - Kepala BNN
RI, Suyudi Ario Seto, didampingi para Pejabat Tinggi Madya dan Pratama BNN RI,
menerima audiensi Puteri Anak dan Remaja DKI Jakarta di Gedung Tan Satrisna
BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (15/9). Audiensi ini menjadi momentum untuk
memberikan wawasan kepada generasi muda mengenai bahaya penyalahgunaan
narkotika sekaligus mendorong peran mereka sebagai agen perubahan.
Kepala BNN RI
menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa
depan bangsa. Karena itu, prestasi dan potensi yang dimiliki harus diiringi
karakter, kepedulian, serta kemampuan menjaga diri dari berbagai pengaruh
negatif, termasuk penyalahgunaan narkotika. Generasi muda diharapkan mampu
menjadi pribadi yang bermanfaat dan berkontribusi bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan
bahwa lingkungan pergaulan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi
seseorang. Tidak semua teman mengajak kepada kebaikan, sehingga setiap individu
harus memiliki prinsip dan kemampuan untuk menjaga diri. Menurutnya, pertahanan
yang paling kuat berasal dari diri sendiri melalui pemahaman, nilai moral, dan
landasan agama yang baik.
“Yang Kita butuhkan
bukan hanya tahu dan paham, tetapi mampu membedakan mana yang baik dan mana
yang buruk, kemudian mengambil keputusan yang benar,” ujar Kepala BNN RI.
Kepala BNN RI
menekankan bahwa pemahaman mengenai bahaya narkotika harus membuat generasi
muda mampu bersikap dan mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi
berbagai bentuk pengaruh di lingkungannya.
Lebih lanjut, Kepala
BNN RI menjelaskan bahwa perkembangan narkotika dan modus penyalahgunaannya
semakin kompleks. Narkotika dapat hadir dalam berbagai bentuk dan bahkan
disamarkan atau dicampurkan ke dalam makanan maupun minuman. Kondisi tersebut
menuntut masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan literasi dan
kewaspadaan agar tidak mudah terpapar.
Ia juga mengajak para
peserta untuk membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada lingkungan
sekitarnya. Menurutnya, ilmu yang bermanfaat tidak boleh berhenti pada diri
sendiri, tetapi harus diteruskan kepada teman, keluarga, dan masyarakat. Dengan
demikian, generasi muda dapat turut memperluas edukasi dan membangun lingkungan
yang lebih kuat dalam menghadapi ancaman narkotika.
Sementara itu, Regional
Director Puteri Anak dan Remaja Indonesia, Sri Sintawati, menjelaskan bahwa
audiensi tersebut merupakan bagian dari persiapan peserta untuk mengikuti
kompetisi tingkat nasional. Para peserta nantinya akan berkompetisi dengan
perwakilan dari sekitar 25 provinsi di Indonesia. Audiensi dengan berbagai
lembaga menjadi salah satu upaya untuk membekali peserta dengan literasi dan
wawasan sebelum mengikuti kompetisi.
Sri menambahkan, para
peserta akan menjalani karantina selama lima hari dengan berbagai rangkaian
kegiatan dan tes, termasuk debat. Materi debat nantinya salah satunya bersumber
dari literasi dan wawasan yang diperoleh selama proses pembekalan.
Melalui audiensi
tersebut, BNN mendorong Puteri Anak dan Remaja DKI Jakarta untuk tidak hanya
berprestasi dalam kompetisi, tetapi juga menjadi teladan dan agen perubahan
dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika. Pengetahuan yang diperoleh
diharapkan dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada teman sebaya serta
masyarakat sebagai bagian dari gerakan bersama mewujudkan generasi Indonesia yang
sehat, cerdas, berkarakter, dan bersih dari narkotika.
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL
BNN
Senin, 14 September 2026
Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago didampingi Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, Melepas Misi Port Visit 2026
Jakarta - Menko Polkam Jenderal
TNI (Purn.) Djamari Chaniago didampingi Panglima TNI, Jenderal TNI Agus
Subiyanto, melepas Misi Port Visit 2026 KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 yang
membawa misi kesehatan, kemanusiaan, dan diplomasi Indonesia di kawasan Pasifik
dan Oseania. Menko Polkam menegaskan bahwa kehadiran Indonesia melalui Kapal
Bantu Rumah Sakit TNI AL tersebut bukan untuk menunjukkan kekuatan, melainkan
menghadirkan kepedulian dan manfaat nyata bagi masyarakat. ( 14/9 )
Mengusung tema Health, Humanity,
and Diplomacy dengan semangat Bridging Nations, Serving Humanity, misi ini
menjadi bagian dari diplomasi Indonesia untuk membangun kepercayaan dan
mempererat persahabatan dengan negara-negara Pasifik Selatan. Melalui pelayanan
kesehatan, kegiatan kemanusiaan, dan interaksi dengan masyarakat, Indonesia
ingin menunjukkan bahwa diplomasi juga diwujudkan melalui kepedulian dan
pelayanan kepada sesama.
Kepada seluruh personel, Menko
Polkam berpesan agar menjaga kehormatan Indonesia dan menunjukkan kepedulian
kepada masyarakat di setiap negara tujuan. “Tunjukkan bahwa kita peduli kepada
mereka dan berkeinginan memiliki hubungan yang erat dengan negara-negara di
Pasifik Selatan,” tegas Menko Polkam.
Sabtu, 12 September 2026
Spesifikasi KRI Gajah Mada
Indonesia
bakal segera memiliki kapal induk pertamanya yang dinamakan KRI Gadjah Mada.
Kapal induk pertama Indonesia merupakan warisan dari tentara angkatan laut
Italia, sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi. Lantas seperti apa
spesifikasinya?
Spesifikasi KRI Gadjah Mada
Mengutip CNN, Giuseppe Garibaldi adalah kapal dek
penerbangan pertama yang pernah dibangun untuk Angkatan Laut Italia. Kabarnya,
kapal ini sudah melakukan upgrade besar di Taranto, Italia, sebelum diserahkan
ke angkatan laut Indonesia.
Kapal induk yang meluncur pada 4 Juni 1983 ini
dirancang dengan kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal
(STOVL). Kendati fitur ini membatasi jenis pesawat yang bisa dibawa, Garibaldi
tetap mampu mengangkut berbagai helikopter untuk misi serbu.
ITS Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dan
mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam berkat sistem
mesin penggeraknya. Bobotnya diperkirakan sekitar 13,8 ribu ton.
Kapal ini mampu menampung kru besar, sekitar 600
kru inti kapal, 230 personel grup udara, sekitar 100 personel komando, serta
dalam kondisi tertentu dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan.
Kapal ini memilih sistem penggerak konfigurasi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang dibagi dalam dua ruang mesin terpisah demi faktor keselamatan. Mesin ini terdiri dari:
1. 4 Turbin GAS General Electric/Avio LM2500: Menghasilkan daya total hingga 82.000 shp untuk memutar dua poros baling-baling, mampu membawa kapal melaju hingga kecepatan 30 knot dengan jangkauan operasional sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot.
2. 6 Generator Mesin Diesel Grand Motori Trieste B230/12: Digunakan untuk memasok kebutuhan listrik cadangan dan operasional seluruh sistem radar, navigasi, serta instrumen kapal melalui konsol terintegrasi SEPA 7614.
Sebagai kapal induk yang juga mewarisi karakteristik kapal penjelajah, Garibadli memiliki sistem pertahanan diri yang terbilang sangat kuat. Sistem persenjataan dan sensor kapal ini di antaranya:
1. Pertahanan udara: Dilengkapi dengan 2 peluncur rudal delapan sel Selenia 'Albatros' yang menampung 48 rudal Aspide untuk menangkal ancaman udara jarak menengah.
2. Anti-kapal permukaan: Awalnya dipasang 8 peluncur rudal anti-kapal OTOMAT MK-2 di buritan, tapi dilepas pada tahun 2003 untuk memperluas geladak penerbangan.
3. Sistem pertahanan titik (CIWS): Memiliki 3 meriam ganda Breda 40mm/70 yang terintegrasi dengan sistem pertahanan Dardo untuk merontokkan rudal yang lolos dari pertahanan utama, dengan jangkauan tembak hingga 4 km terhadap sasaran udara.
4. Sistem anti-kapal selam: Dipasang 2 tabung peluncur torpedo tiga laras jenis ILAS-3 (kaliber 324mm) yang menggunakan torpedo ringan Mk 46 atau A-244.
*Red
Jumat, 11 September 2026
Komandan Coboy Celana Jeans Di Operasi Seroja
Dalam sejarah militer Indonesia,
operasi militer besar yang tak akan dilupakan adalah operasi Seroja di Timor
Timur pada tahun 1975. Berbagai kisah operasi di negara yang sekarang bernama
Timor Lorosai sudah menjadi legenda namun dari semua operasi di wilayah
tersebut adalah operasi Flamboyan yang menjadi pijakan awal keterlibatan
Indonesia dalam konflik di Timor Timur ini dan yang menjadi pemimpin operasi
tersebut adalah seorang petarung dari satuan pasukan khusus Angkatan Darat
yakni Dading Kalbuadi.
Dading Kalbuadi akan diingat
sebagai komandan coboy karena dalam sebaran internet dengan kata kunci operasi
Seroja akan terdapat foto seorang pria dengan topi coboy dan menggunakan kaos
sedang memimpin operasi. Ya itu foto Dading Kalbuadi yang saat itu sedang memimpin
operasi Flamboyan.
Operasi ini adalah operasi
rahasia Klandestin dengan cara pendekatan budaya dan militer lokal. Ia
diperintahkan langsung oleh Benny Moerdani yang kala itu menjabat wakil kepala
BAKIN, Kepala Pusat Intelijen Strategis dengan pangkat Mayor Jenderal.
Umur Dading sebenarnya lebih
senior dari Benny Moerdani namun Benny lebih dulu melesat usai mendapat Bintang
Sakti pasca operasi di Irian Barat. Mereka bersahabat sejak dulu saat masih
sama sama di RPKAD. Keduanya melalui berbagai medan operasi tempur bersama
diberbagai operasi mulai dari operasi penumpasan PKI hingga DI/TII.
Dading nyaris kehilangan nyawa
akibat lehernya terkena pecahan mortir dalam sebuah operasi penumpasan
PRRI/PERMESTA di Riau namun ia selamat.
Saat diperintah berangkat
memimpin operasi, Benny Moerdani berujar bahwa ini mungkin operasi tanpa
kemungkinan pulang alias one way ticket.
"Sudah Ben, tak apa-apa.
Saya kerjakan tapi tolong titip keluarga saya kalau nanti saya tidak
kembali", jawab Dading pada sahabatnya.
Dading memimpin pasukannya masuk
ke Timor-Timur tanpa seragam militer. Mereka mengenakan celana jeans dan kaos
oblong itu sebab pasukan ini di sebut The Blue Jeans Soldiers.
Dalam beberapa foto saat Dading
di Timor-Timur terlihat dengan mengenakan topi coboy dan kaos oblong ditutup
dengan jaket sipil namun menyandang pistol di pinggang.
Saat foto itu diambil, Dading
baru berpangkat kolonel dengan jabatannya adalah Komandan Grup 2 Komando
Pasukan Sandi Yudha atau Kopasus yang kita kenal sekarang.
Menjelang serangan besar ke
Timor Timur yang kelak dikenal dengan operasi Seroja, tugas Dading dengan
timnya adalah menguasai Balibo, pintu gerbang Timor Timur di sisi utara karena
kelak Balibo akan jadi pijakan awal ABRI untuk masuk ke Timor Timur.
Tanggal 7 Desember 1975, ibu
kota Timur Timur yakni Dili diserbu serentak dari darat laut dan udara.
Perlahan tapi pasti Timur Timur dikuasai Indonesia.
Operasi flamboyan melambungkan
nama Dading Kalbuadi meski sudah malang melintang di berbagai operasi tempur,
tapi bagi Dading tak ada yang lebih berkesan ketimbang operasi Timur Timur.
Memang selama ini walau sudah
lama di militer namun nama Dading Kalbuadi jarang terdengar hingga operasi
Flamboyan terdengar.
Usai operasi di Timtim, Dading
diangkat menjadi Panglima Komando Daerah Pertahanan dan Keamanan Timur Timur
dengan pangkat Brigadir Jenderal. Dading baru meninggalkan Timur Timur sekitar
tahun 1978.
Dia dipindah tugaskan ke Bali
menjadi Panglima Kodam Udayana.
Lalu ia diangkat menjadi Kepala
Staff Umum ABRI dan ini adalah jabatan militer terakhir yang ia sandang lalu
jabatan sipil yang di pegang Dading adalah Inspektorat General Departemen
Pertahanan.
Pangkat terakhir Dading adalah
Letnan Jenderal dan sebagai prajurit lapangan, Dading lebih suka memimpin di
lapangan tempur.
Saat Timor Timur merdeka pada
tahun 1999, tepatnya pada 30 Agustus 1999 dan di Oktober tepatnya pada 10
Oktober 1999 Letnan Jenderal TNI (Purn) Dading Kalbuadi berpulang.
*Benrus
Kamis, 10 September 2026
Sesmenko Polkam Pimpin Rapat Koordinasi Terkait Pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 Tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
Jakarta -Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Sesmenko Polkam) Letjen TNI Mochammad Hasan memimpin Rapat Koordinasi terkait pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Rakor ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan sinergi kementerian/lembaga dalam pencegahan, pengendalian, serta penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Langkah terpadu diperlukan untuk memastikan penanganan Karhutla berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kemenko Polkam terus mendorong
penguatan kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan pengendalian Karhutla yang
lebih optimal, sekaligus melindungi masyarakat, lingkungan, dan kepentingan
nasional.
Selain secara offline, rapat koordinasi ini juga dilaksanakan secara online yang menghadirkan perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan. Rapat turut dihadiri Deputi Bidang Perundang-undangan dan Administrasi Hukum Kemensetneg Lydia Silvanna Djaman, Plt. Sesmenko Pangan Kasan, Sestama BRIN Nur Tri Aries Suestiningtyas, Jam Pidum Leonardo Eben Ezer Simanjuntak, Waka Bareskrim Polri Irjen Pol. Nunung Syaifuddin, Danpuspom TNI Marsma TNI Bambang Suseno, perwakilan Kemendagri, perwakilan Bakom, serta perwakilan Kementerian dan Lembaga terkait.
Rabu, 09 September 2026
PERINGATAN MAULID NABI: KEPALA BNN RI AJAK JAJARAN TELADANI SIFAT RASULULLAH DALAM BERTUGAS
Jakarta - Semangat meneladani
akhlak Rasulullah mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar
BNN, pada Selasa (8/9), di Masjid At-Taubah BNN, Cawang, Jakarta Timur. Tidak
hanya sekadar peringatan keagamaan, kegiatan tersebut menjadi sarana refleksi
bagi seluruh jajaran BNN untuk memperkuat nilai spiritual dalam menghadirkan
pengabdian bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto,
dalam kesempatan tersebut mengingatkan seluruh jajarannya untuk menjadikan
kejujuran, integritas, dan amanah sebagai fondasi dalam melaksanakan tugas. Ia
menilai upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap
Narkotika (P4GN) merupakan bagian dari implementasi nilai amar ma’ruf nahi
munkar.
“Saya mengajak seluruh jajaran
BNN untuk terus meneladani sifat-sifat yang diajarkan Rasulullah dalam setiap
pelaksanaan tugas, jadikan amanah yang diberikan negara sebagai tanggung jawab
yang kelak akan Kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujarnya.
Selain menekankan pentingnya
integritas, Kepala BNN RI juga mendorong jajarannya untuk bekerja secara
cerdas, terus berinovasi, dan tidak kenal lelah dalam menyampaikan informasi
mengenai bahaya narkotika kepada seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, nilai-nilai
keteladanan Rasulullah SAW harus tercermin dalam setiap langkah pengabdian,
termasuk dalam upaya BNN memberikan perlindungan dan pelayanan kepada
masyarakat dari ancaman narkotika.
Sementara itu, Al Habib Rifky
bin Hasan Alaydrus dalam ceramahnya menyampaikan bahwa keberadaan BNN memiliki
peran penting dalam menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.
Tugas BNN diungkapkan Sang Habib
tidak hanya berkaitan dengan upaya memberantas narkotika, tetapi juga merangkul
dan membantu mereka yang terdampak penyalahgunaan narkotika agar dapat kembali
pulih, sehat, dan diterima di tengah masyarakat.
“Dengan bekerja di BNN, Kita
bisa mengajak dan merangkul orang untuk pulih,” tuturnya.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang pentingnya menghadirkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama. Keluarga besar BNN melalui momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diharapkan semakin teguh dalam menjalankan amanah untuk mewujudkan Indonesia Bersinar.
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN
Selasa, 08 September 2026
Jakarta Kurang RTH
Di balik wajah taman-taman kota yang tampak
rapi dan tertata, Jakarta masih menghadapi persoalan mendasar terkait
ketersediaan dan kualitas ruang terbuka hijau (RTH).
Di tengah kepadatan bangunan dan aktivitas
urban yang kian intens, ruang hijau yang seharusnya menjadi penyangga ekologis
justru belum berfungsi optimal.
Berdasarkan hasil berbagai penelitian
akademik, luas RTH di Jakarta saat ini baru mencapai sekitar 5,31 persen dari
total wilayah.
Angka tersebut masih jauh dari amanat
Undang-Undang Penataan Ruang yang menetapkan minimal 30 persen RTH untuk
kawasan perkotaan.
Defisit ini berdampak langsung pada fungsi
taman kota, khususnya di Jakarta Pusat, yang belum mampu bekerja maksimal
sebagai penyeimbang ekologis di tengah kepadatan urban yang ekstrem.
Pengamat lingkungan Universitas Indonesia,
Mahawan Karuniasa, menilai persoalan RTH di Jakarta bukan semata soal
keterbatasan jumlah, melainkan juga kualitas serta orientasi perancangannya.
Banyak taman kota yang secara visual tampak
hijau dan tertata, tetapi secara ekologis justru lebih menyerupai ruang keras
yang didominasi beton dan perkerasan.
“Dari hasil penelitian, fungsi taman-taman
kota di Jakarta sebagai penyangga ekologis masih jauh dari optimal. Banyak
taman dirancang seperti ruang publik pusat kota, bukan sebagai sistem ekologis
hidup,” kata Mahawan dalam kajian akademiknya saat dihubungi Kompas.com, Rabu
(21/1/2026).
Taman tampak hijau, tetapi panas
Mahawan mencontohkan hasil penelitian di
kawasan Kalijodo, Jakarta Barat. Meski kerap dipersepsikan sebagai ruang
terbuka hijau baru, kawasan tersebut ternyata hanya memiliki sekitar 48 persen
tutupan vegetasi. Sisanya didominasi beton dan perkerasan.
Padahal, secara ekologis, taman kota baru
dapat bekerja efektif apabila 80 hingga 90 persen lahannya berupa vegetasi
hidup.
Ketimpangan tersebut berdampak langsung
pada kenyamanan termal. Indeks kenyamanan termal di Kalijodo tercatat sebesar
30,75, yang masuk dalam kategori sangat tidak nyaman.
Artinya, ruang yang secara visual terlihat
“hijau” tetap gagal menurunkan suhu dan menciptakan iklim mikro yang sehat.
“Ini menunjukkan taman tidak cukup hanya
dinilai dari tampilan visual. Jika vegetasinya minim, fungsi ekologisnya juga
gagal,” ujar Mahawan.
Sebaliknya, penelitian di Hutan Kota
Srengseng menunjukkan hasil berbeda. Area dengan kanopi pohon yang rapat mampu
menurunkan suhu udara hingga 2,44 derajat Celsius dibandingkan area sekitarnya.
Temuan tersebut menegaskan taman kota
memiliki potensi besar dalam menurunkan panas perkotaan dan memperbaiki
kualitas udara, asalkan dirancang sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar ruang
estetika.
Ketimpangan RTH kian terasa di Jakarta Pusat
Defisit RTH semakin terasa di Jakarta Pusat,
wilayah dengan kepadatan penduduk, bangunan, dan aktivitas ekonomi tertinggi di
DKI Jakarta.
Dengan keterbatasan lahan, keberadaan
taman-taman kota di kawasan ini kerap menjadi satu-satunya ruang hijau yang
dapat diakses warga.
Namun, menurut Mahawan, minimnya luas dan
sebaran taman justru menciptakan ketimpangan ekologis antarkawasan.
Wilayah tertentu menikmati akses ruang
hijau dan suhu yang lebih sejuk, sementara kawasan lain berubah menjadi kantong
panas dan polusi.
“Ketika taman hanya terkonsentrasi di
lokasi tertentu, ruang hijau tidak lagi berfungsi sebagai sistem penyangga
kota, tetapi hanya ornamen spasial,” ujar dia.
Kota pun menjadi terfragmentasi secara
ekologis. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada lingkungan fisik, tetapi juga
pada kualitas hidup warga, mulai dari meningkatnya suhu udara, menurunnya
kualitas udara, hingga terbatasnya ruang pemulihan psikologis.
Estetika mengalahkan fungsi ekologi
Mahawan menilai orientasi pembangunan taman
di Jakarta selama ini terlalu menitikberatkan aspek estetika.
Desain taman kerap diarahkan pada keindahan
visual instan dan kepentingan representasi kota, bukan pada fungsi ekologis
jangka panjang.
Salah satu tesis Ilmu Lingkungan
Universitas Indonesia mencatat adanya pertukaran kepentingan dalam perencanaan
RTH, di mana konservasi lingkungan dikorbankan demi tampilan yang menarik
secara kasat mata.
Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan
model zonasi taman dengan komposisi maksimal 20 persen zona estetika dan
aktivitas, serta 80 persen zona ekologis.
Dalam analisis prioritas desain tersebut,
vegetasi memperoleh bobot tertinggi, melampaui fasilitas duduk, jalur
pedestrian, maupun ornamen visual.
Hal ini menegaskan bahwa inti ruang hijau
bukan semata keindahan bentuk, melainkan fungsinya bagi lingkungan.
“Ketika desain tidak mengikuti prinsip
ekologis, taman bisa ramai secara sosial, tetapi panas dan melelahkan secara
lingkungan,” kata Mahawan.
Aktivitas sosial dan tekanan non-lingkungan
Keberadaan pedagang kaki lima (PKL), parkir
kendaraan, hingga kegiatan komersial kerap mewarnai taman kota.
Menurut Mahawan, aktivitas tersebut
bukanlah persoalan selama dikelola melalui zonasi yang jelas. Namun, tanpa
pengaturan yang tegas, aktivitas non-lingkungan berpotensi menggerus fungsi
ekologis taman.
Penelitian di Hutan Kota Srengseng
menunjukkan kebisingan, kepadatan, dan pergerakan kendaraan dapat menurunkan
kenyamanan ekologis kawasan.
Tanah menjadi padat, daya resap air
berkurang, vegetasi tersisih, dan kualitas udara lokal memburuk.
“Jika tidak dikendalikan, taman perlahan
berubah menjadi ruang transaksi dan parkir, bukan lagi ruang pulih bagi manusia
dan lingkungan,” ujar dia.
Agar taman tak sekadar pajangan kota
Mahawan menegaskan, jika Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta ingin taman benar-benar berfungsi sebagai infrastruktur
ekologis, paradigma pembangunan perlu bergeser dari sekadar revitalisasi visual
menuju restorasi ekologis perkotaan.
Standar vegetasi minimal 80 hingga 90
persen perlu dijadikan prasyarat dalam desain taman. Area perkerasan harus
dikurangi dan digantikan dengan tanah resapan, kanopi pohon, serta vegetasi
berlapis.
Indikator seperti suhu permukaan dan indeks
kenyamanan termal juga perlu dijadikan tolok ukur kinerja taman, bukan semata
kebersihan atau jumlah pengunjung.
Selain itu, defisit RTH Jakarta, khususnya
di Jakarta Pusat, perlu dikejar melalui pengembangan taman-taman kecil, koridor
hijau, serta jalur pejalan kaki berpohon.
“Dari sisi ilmu pengetahuan, kota yang
layak huni bukanlah kota yang sekadar indah dipotret, tetapi kota yang mampu
menjaga keseimbangan antara manusia dan ekosistemnya,” ujar Mahawan.
Kondisi taman di Jakarta Pusat
Sebelumnya, Kompas.com menelusuri sejumlah
taman dan ruang terbuka hijau di Jakarta Pusat, seperti Taman Menteng, Taman
Suropati, Taman Situ Lembang, dan Lapangan Banteng, di tengah cuaca hujan.
Di Taman Menteng, fasilitas tampak terawat.
Rumah kaca ikonik berdiri bersih, tempat sampah tematik tersedia, dan jalur pedestrian
relatif aman meski licin saat hujan.
Lula (29), pekerja kantoran di kawasan
Menteng, mengaku rutin singgah di taman tersebut sepulang kerja.
“Buat kami yang kerja dekat sini, taman ini
bukan sekadar pajangan, tapi tempat istirahat yang benar-benar kepakai,” ujar
dia.
Namun, Lula juga menyoroti minimnya bangku
beratap yang membuat pengunjung enggan berlama-lama saat hujan.
Berbeda dengan Taman Menteng, Taman
Suropati tampak lebih sunyi. Pepohonan besar menciptakan kesan teduh, tetapi
akses yang berada di tengah lingkar jalan membuat taman ini kurang ramah bagi
pengunjung dari luar kawasan.
Dimas (27), warga sekitar, menilai Taman
Suropati lebih berfungsi sebagai ruang hijau ketimbang ruang rekreasi keluarga.
“Kayaknya memang difungsikan buat ruang
hijau saja, bukan buat taman yang ramai,” kata dia.
Sementara itu, Lapangan Banteng tampil
megah dengan monumen ikonik dan jalur pejalan kaki yang lebar. Namun, minimnya
vegetasi bertajuk rapat membuat fungsi peneduh masih terbatas di sejumlah area
terbuka.
Perspektif Tata Kota: Taman Masih Jadi Estetika
Pengamat tata kota M. Aziz Muslim menilai
keberadaan taman dan RTH di Jakarta sejatinya memiliki urgensi ekologis dan
sosial yang besar.
Ruang hijau berperan dalam menghasilkan
oksigen, menyerap karbon dioksida, menjaga air tanah, serta membantu menurunkan
suhu akibat pemanasan global.
Namun, Aziz mengakui distribusi dan luas
taman di Jakarta masih jauh dari ideal.
“Kalau merujuk undang-undang penataan
ruang, semestinya RTH itu 30 persen. Jakarta saat ini masih jauh dari angka
itu,” ujarnya saat dihubungi.
Menurut Aziz, harga lahan yang mahal dan
lemahnya pengawasan tata ruang membuat pemenuhan RTH menjadi pekerjaan rumah
besar bagi pemerintah.
Akibatnya, banyak taman lebih berfungsi
sebagai elemen estetika ketimbang ruang publik aktif yang inklusif dan mudah
diakses.
Dengan luas RTH yang baru mencapai 5,31
persen, tantangan Jakarta ke depan bukan hanya membangun taman baru, tetapi
memastikan setiap jengkal ruang hijau benar-benar hidup, bekerja secara
ekologis, dan memberi manfaat nyata bagi warganya.
Sumber : Kompas
A.W.V. HINNE, “SHERLOCK HOLMES” DARI HINDIA BELANDA
Polisi kolonial yang memburu Si Pitung, mengungkap misteri pembunuhan, dan menjadi legenda Batavia --- Pada awal abad ke-20, nama Adolf W...
-
Menjunjung Kebenaran, Keadilan Dan Kemanusiaan The Partnership Building Of Divkum Polri PEMBINA Irjen.Pol. ( Purn )DR. Asep J Ahm...
-
Gilimanuk - Suasana antrean pemudik di Terminal Cargo tampak lebih nyaman setelah Brimob Gilimanuk melakukan penyiraman area menggunakan mob...




.jpg)






