Saat itu usia beliau belum genap
17 tahun, Saat mengalami membantu pejuang kita yg terluka walau dengan resiko
tertangkap tentara Belanda.
Saat itu masih di ingat engkong
sekitar tahun 1946, pertempuran pejuang Indonesia dengan tentara Belanda sedang
sengit sengit nya.
"Tiap malam hampir terjadi
perang di pinggir kali Bekasi Ben, kita di rumah cuma bisa tiarap takut kena
peluru nyasar"
Pada satu malam menjelang Pagi
tiba tiba pintu rumah engkong di ketuk ketuk.
Masih dalam kondisi mengantuk
Ang Tjui Ho muda membuka pintu rumah, Saat di buka betapa kaget pemuda tanggung
ini melihat siapa yg di depan pintu.
Dua orang pemuda pejuang dengan
satu orang bajunya masih berdarah darah berdiri di depan pintu rumah Ang Tjui
Ho.
Pemuda keturunan itu hanya diam
sebelum akhirnya sadar dan buru buru mempersilahkan masuk kedua pejuang
Indonesia itu.
"Satu rumah geger sebab
bahaya Kalo besok di geledah Sama tentara Belanda, tapi Kan harus di bantu ya
dah kita Bawa masuk Dan kita Rawat se'adanya"
Sampai besok Pagi pejuang yang
terluka itu dirawat se'adanya oleh keluarga engkong ini, engkong sendiri ingat
bagaimana rupa pemuda itu sampai sekarang.
"Muka nya masih anak anak
Ben, lebih tua saya malah, dia tertembak di kaki trus kong beli perban ke toko
dengan sembunyi sembunyi jangan sampe tu perban ketahuan patroli tentara
Belanda,"
Saat sore di rasa aman kedua
pemuda pejuang itu pamit hendak ke Lemah Abang, padahal yg terkena peluru di
Kaki masih pincang tapi mereka ngotot harus kembali ke markas karena takut
keluarga Cina itu nanti kena getah karena menolong mereka.
Akhirnya setelah berbasa basi
mereka di antar Kong ke luar batas Kota Bekasi tentu dengan sembunyi sembunyi
mengingat masih ada patroli Belanda.
Dengan memakai sado milik
keluarga kedua pejuang itu sampai di batas Kota lalu mereka berjalan pelan dan
menghilang dalam gelap, sedang Kong Ang Tjui Ho muda merasa lega lalu segera
kembali ke rumah nya.
Tapi tiba tiba baru saja
berbelok sadonya di depan terlihat beberapa tentara Belanda menghandang di
jalan.
Ang Tjui Ho muda kaget bukan
main sampai ia tak sempat menarik tali kekang kuda buru buru.
Setelah berhenti para serdadu
Belanda itu bertanya pada engkong dari mana dan mau kemana, di jawab engkong
dengan jantung berdegup karena takut, tapi ia berusaha mengendalikan diri.
Saat tiba tiba salah satu
tantara Belanda itu melihat bekas potongan kain ada darahnya mereka curiga
Lantas meminta anak muda tionghoa itu turun.
Ang Tjung Ho muda pucat saat
melihat kain yg di pegang oleh tentara Belanda tadi namun ia tak kehilangan
akal.
Ia tiba tiba menggigit Jari
telunjuknya agar Luka dan berdarah.
"Itu Luka saya Tuan, tadi
kena pinggir sado jadi saya bebet dulu pake kain, ini baru pulang antar barang
ke kampung.."
Berdalih engkong pada tentara
Belanda tadi yg melihat Luka berdarah di Jari Ang Tjui Ho muda ini.
Setalah Setengah jam di periksa
ia lalu di suruh lewat, sesa'at sampai rumah tak habis engkong mengucap syukur
karena Belanda itu bisa di bohonginya.
"Itu Kalo inget kong ketawa
sendiri Ben hahahahaha, " ujar kakek ini ke saya sambil tertawa lepas.
Beliau memang tak ikut berperang
tapi buat saya apa yang di lakukan engkong Dan keluarga nya adalah bagian dari
perjuangan orang Tionghoa yang juga bagian dari bangsa Indonesia.
Bekasi Januari 2017
Kong Ang Tjung Ho berpulang pada
pertengahan tahun 2017 dan saya hanya titip Bendera Merah Putih kecil pada
keluarga beliau.
Menyambut Hari Pahlawan
*Benrus









.jpg)

