Rabu, 19 Agustus 2026

Kemenko Polkam-Perpusnas RI Perkuat Sinergi Pengembangan Perpustakaan

SIARAN PERS NO. 340/SP/HM.01.02/POLKAM/8/2026

Polkam, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) memperkuat kerja sama di bidang perpustakaan melalui penandatanganan Kesepahaman Bersama. Kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan informasi, pengelolaan pengetahuan, serta pengembangan sumber daya perpustakaan di lingkungan kedua institusi, di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Kesepahaman Bersama tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Kemenko Polkam (Sesmenko Polkam) Letjen TNI Mochammad Hasan dan Sekretaris Utama Perpusnas RI Dr. Joko Santoso, M.Hum.

Dalam kesempatan tersebut, Sesmenko Polkam menyampaikan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul, berpengetahuan, dan berdaya saing. “Bagi Kemenko Polkam, keberadaan perpustakaan tidak hanya menjadi sarana penyedia bahan bacaan, tetapi juga bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas kementerian,” ujar Sesmenko Hasan.

Menurutnya, kerja sama Kemenko Polkam dan Perpusnas RI yang telah terjalin melalui Nota Kesepahaman sejak 24 Oktober 2023 telah memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan tata kelola perpustakaan dan layanan informasi di lingkungan Kemenko Polkam. Kerja sama tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap informasi yang akurat, relevan, dan mudah diakses untuk mendukung pelaksanaan tugas kementerian.

“Ketersediaan bahan pustaka, kemudahan akses informasi, serta pengelolaan pengetahuan yang baik dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kajian dan analisis dalam penyusunan rekomendasi kebijakan di bidang politik dan keamanan,” tambah Sesmenko Hasan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Perpusnas RI atas sinergi yang telah terbangun selama ini. Menurutnya, penguatan kemitraan kedua institusi diharapkan semakin meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan, memperluas akses terhadap sumber informasi, serta membangun ekosistem pengetahuan yang mendukung pelaksanaan tugas pemerintahan secara lebih optimal.

Sementara itu, Sekretaris Utama Perpusnas RI Dr. Joko Santoso, M.Hum. menjelaskan bahwa Perpusnas RI terus memperkuat perannya dalam menghimpun, mengelola, melestarikan, dan menyediakan sumber pengetahuan bagi masyarakat maupun instansi pemerintah. “Sejumlah program strategis yang dikembangkan meliputi penguatan budaya baca dan kecakapan literasi, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, literasi digital, serta pelestarian dan pemanfaatan naskah Nusantara,” jelasnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut para Deputi, Staf Ahli, dan Kepala Biro di lingkungan Kemenko Polkam. Dari Perpusnas RI hadir Plt. Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat; Kepala Biro Sumber Daya Umum dan Manusia; Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan; Kepala Pusat Bibliografi dan Pengolahan Bahan Pustaka; serta sejumlah pejabat terkait lainnya.

*Humas Kemenko Polkam RI

Tentara India Membelot Bela Republik

Indonesia baru merdeka beberapa bulan, kondisi Jakarta bagai daerah tak bertuan!

Sejak kedatangan tentara Inggris di Jakarta Oktober 1945, Inggris sebagai merasa memegang kendali atas Jakarta dengan menguasai daerah daerah penting dan strategis di Jakarta.

Kedatangan Tentara Inggris yang belakangan diketahui di boncengi NICA atau pemeritahan peralihan Sipil Hindia Belanda malah membuat kondisi Jakarta makin panas!

Di tiap pojok kota terjadi bentrok antara "bule" sebutan para pemuda militan Jakarta untuk semua tentara pendatang.. Baik Belanda atau Inggris.

Dan tiap wilayah kota sudah bagai daerah wild west... Tiap pojok Jakarta sudah memeliki "penguasa-penguasa" lokal yang tiap saat bisa bergerak menyerang bule bule yg terlihat. Begitu juga sebaliknya.. Tentara Inggris dan NICA akan membalas serangan para pemuda militan Jakarta dengan cara memeriksa kampung dan menahan pemuda yg mereka temui.

Jakarta bagai neraka diam! sampai sampai pihak Sekutu membuat aturan jam malam saat itu di Jakarta saking rawan dan mencekamnya situasi.

Di antara serdadu Inggris yang ditugaskan di Jakarta, terdapat anggota British India Division yang anggota nya ada yang beragama Islam, pada waktu senggang mereka sering berkunjung ke tabib Sher seorang tabib kawan dekat dari dokter Soeharto yang juga dokter pribadi Bung Karno.

Kejadian yang tak akan dilupakan oleh sang Tabib ini adalah ketika Bung Karno nyaris tewas di tangan tentara Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan Jepang dan kembali di beri senjata lalu menjadi kesatuan yang di bentuk oleh NICA.

Sore itu bulan Desember 1945, Bung Karno baru saja keluar dari tempat praktek dokter Soeharto di jalan kramat raya.

Rupanya di jalan Kramat Raya itu tentara Belanda sedang mencari Bung Karno untuk di bunuh, karena mobil Bung Karno sudah mereka hapal jadilah mobil tersebut di kepung tentara Belanda yang dengan bringas merangsek mendekati mobil pribadi presiden Indonesia pertama itu.

Keributan makin ramai, orang banyak tak ada yg berani bertindak karena tentara Belanda bersenjata lengkap.

Bung Karno hanya ditemani supir pribadi, di dalam mobil tak berani keluar dan hanya bisa pasrah....terjebak!...

Keributan langsung menyebar, kebetulan tempat praktek saya di Jalan Senen Raya terusan dari Kramat Raya sehingga lokasi kejadian di mana Bung Karno terjebak tidak terlalu jauh dari tempat praktek saya.

Sejumlah prajurit dan perwira muslim yang kebetulan sedang mampir ke tempat praktek saya, saya ajak keluar dan memberi tahu keadaan genting tersebut.

Sigap para prajurit dan perwira Inggris dari Devisi India ini mendekati lokasi dimana Bung Karno terkepung!

Saya ikuti para tentara asal India ini, dari dekat saya melihat Bung Karno tetap bertahan dalam mobil.

Walau dikepung oleh pasukan NICA bersenjata lengkap dan memaksa Bung Karno keluar dari mobil. Bung Karno tetap menolak keluar, mobilnya sudah mulai dirusak pasukan NICA sembari berteriak " Soekarno musuh, dia harus kami tangkap!" seraya mulai memecah kaca mobil.

Pasukan Inggris asal India melihat ulah para serdadu NICA, seorang perwira Asal India tiba tiba memerintah anak buah mengambil gerakan menyebar dan mengokang senjata mereka serta mulai membidik ke arah para serdadu NICA Belanda.

Seorang Perwira muslim India lalu berteriak dengan lantang...

"Panglima Sekutu berpendapat, dia Presiden Republik Indonesia, segera lepaskan atau kalian semua kita tembak di sini!!"....

Seraya mengacungkan senjatanya yang sudah siap tembak.

Pasukan NICA melihat seriusnya niat para tentara Inggris asal India ini mundur... seraya bersungut sungut dan sumpah serapah!

Dr Soeharto yang sejak tadi sudah keluar dari tempat prakteknya dan hanya berani dipinggir, akhirnya membimbing Presiden Soekarno keluar dari dalam mobil, lalu membawa Bung Karno ke tempat praktek nya tidak lama kemudian dengan mobilnya, dokter itu mengantar Bung Karno kembali ke rumah di Pegangsaan Timoer lewat jalan kampung di belakang.

Mobil Bung Karno sendiri

rusak harus di bawa ke bengkel, dokter Soeharto menitipkan mobil tersebut pada saya, 3 minggu setelah mobil tersebut selesai diperbaiki saya mengantar mobil tersebut pada sang empunya, namun saat saya sampai ke sana Bung Karno dan keluarga sudah tak ada dan rumah Bung Karno sudah kosong karena mereka semua sudah pindah ke Jogjakarta.

Sumber buku Kesaksian dr. Soeharto

Minggu, 16 Agustus 2026

Pray For NTT

Keluarga Besar Kemenko Polkam turut berdukacita atas musibah gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) 

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dan menguatkan saudara-saudari kita yang terdampak, serta memberikan ketabahan bagi keluarga yang tengah menghadapi musibah ini.

Mari bersatu dalam doa dan aksi nyata untuk membantu saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan bantuan di NTT. Bersama, kita kuatkan solidaritas dan kepedulian untuk mereka yang sedang menghadapi masa sulit.

#KemenkoPolkam

#PrayforNTT

Kamis, 13 Agustus 2026

Pertempuran Pasukan Gabungan Perancis dan Belanda melawan Inggris dalam perang Napoleon di Jawa.

Sabtu Malam, 10 Agustus 1811, di bangunan bekas perwira ajudan Gubernur Jendral kawasan Weltevreden, Gubernur Jendral Janssens memimpin rapat para perwira gabungan Perancis dan Belanda nya guna membahas laju pasukan Merah Inggris yang sudah 2 langkah dihadapan mereka.

Seminggu lalu tepatnya tanggal 4 Agustus 1811, pasukan Merah Inggris mendarat di Cilincing dan tanpa halangan berarti mereka menguasai Batavia hanya dalam hitungan hari, tanggal 6 Agustus bahkan pasukan Inggris sudah berbaris menuju Struiswijk yang saat ini jalan persimpangan antara jalan Majapahit dan jalan Merdeka Utara dan tanggal 9 Agustus pagi serdadu Belanda sudah melihat tentara Merah Inggris di simpang Struiswijk yang dalam selemparan batu atau paling lambat besok mereka akan menyerbu Weltevreden.

Sebenarnya pihak tentara Inggris sendiri masih dalam kebingungan menghadapi kenyataan betapa mudahnya mereka menguasai Batavia tanpa perlawanan berarti dari pihak Perancis dan Belanda. Kebanyakan yang sakit dari pasukan Inggris justru karena penyakit tropis yang di duga karena lembab nya udara tapi tak ada luka atau tewas karena bertempur.

Para perwira Inggris banyak yang masih menduga bahwa tindakan musuh adalah taktik jebakan buat pasukan Inggris untuk masuk lebih jauh lalu Inggris akan dihabisi pada benteng terkuat mereka di Meester Cornelis arah ke selatan luar Batavia.

Namun itu semua masih dugaan, para perwira Inggris masih harus berfikir bagaimana kekuatan pasukan lawan maka dikirim beberapa mata-mata untuk mengetahui kekuatan pasukan Belanda dan Perancis tersebut.

Dari mata-mata yang dikirim tersebut, pihak Inggris bisa mengetahui kekuatan lawan mereka. Berapa tepatnya luas kamp mereka, jumlah benteng, kaliber meriam yang tersedia, kondisi cadangan perbekalan dan lainnya hingga pasukan Inggris bisa menusuk langsung ke arah pertahanan Belanda dan Perancis di Struiswijk.

Kembali ke rapat Gubernur Jendral Janssens dengan para perwiranya. Janssens sedang mendengarkan usulan para perwiranya tentang bagaimana mengatasi laju tentara Merah Inggris.

Seperti dugaan pihak Belanda dan Perancis keesokan hari pada Sabtu, 10 Agustus 1811, semenjak pagi buta, sekitar 2.500 serdadu Inggris, yakni sepoy dari arah Batavia, masuk ke Champ de Mars atau Lapangan Banteng sekarang kemudian mengarah ke jalan utama yang menuju Bogor. Jalan itu melewati sepanjang kamp Perancis.

Saat dilihat pasukan Merah Inggris bergerak mendekat jarak tembak meriam, lalu menyalaklah meriam tentara gabungan Perancis dan Belanda dan segera pasukan Inggris menyebar di medan perang dan melawan.

Untuk pertama kali sejak pendaratan pasukan Inggris, terjadi pertempuran antara pasukan Perancis dan Inggris. Ya 6 Hari dari 4 Agustus 1811 pertempuran pertama dalam perang Napoleon di luar Eropa terjadi.

Pasukan Inggris segera menyadari bahwa sisi kiri wilayah Perancis tidak dijaga. Semua batalyon dipusatkan di jalan utama hingga meluber ke kanan ke arah timur dan Selokan, tapi di sebelah kiri, tidak ada pasukan Perancis. Kosongnya sisi kiri segera dimanfaatkan tentara Inggris menyusup ke dalam wilayah kosong itu.

Tepatnya di antara sungai Ciliwung dan jalan tanah berdebu dengan cepat Inggris melihat bahwa di sana ada kemungkinan melakukan manuver pasukan infantri mereka untuk mengepung pasukan lawan.

Jenderal Janssens dan Jendral Jumel mengawasi semua itu dari belakang dengan berlindung pada sebuah gundukan tanah. Saat yang sama Jenderal Alberti maju ke dekat batalyon untuk memberi saran dan semangat.

Infantri Perancis dan Belanda dibantu empat meriam yang ditarik kuda mengambil tempat di jalan utama lalu menghujani pasukan Inggris dengan pelurunya.

Dipihak lain para prajurit infanteri Belanda tidak sempat beristirahat, mereka terus menembaki dengan bedil semua tentara Inggris dan sepoy yang berada dalam jangkauan mereka.

Walau diserang dengan sengit, pasukan Inggris melawan artileri Perancis yang ganas dengan dua meriam berkaliber kecil namun gesit dan cekatan, meriam itu melumpuhkan para penembak jitu Perancis yang ditempatkan di rumah dan gubuk.

Sementara tembakan diarahkan ke tentara Perancis, sebuah detasemen Inggris menyerbu ke posisi itu dari kiri. Pihak Perancis melawan dengan gigih, tetapi penembak meriam yang tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang diterjang infanteri ringan Inggris yang datang dari samping.

Pasukan pembantu kavaleri yakni orang Bugis, menghunus keris mereka untuk mempertahankan meriam itu, namun dikalahkan. Bayonet Inggris yang panjang dengan mudah mengalahkan keris mereka. Prajurit yang dikalahkan, mundur sambil mendorong kereta yang berisi mesiu sampai ke kamp artileri Perancis.

Sang Gubernur Janssens salah menduga dan mengira situasinya sedemikian gawat lalu memerintahkan pasukan gabungan Perancis dan Belanda untuk mundur ke benteng berparit.

Kekacauan yang timbul sebagai akibat perintah tak masuk akal itu harus dibayar mahal.

Pasukan Inggris mengejar pasukan Perancis demikian dekat sehingga sebagian di antaranya mengikuti mereka memasuki benteng dan secara spontan prajurit resimen kedua Perancis mulai menembaki tentara berbaju merah itu yang terpaksa berhenti di jarak sekitar 200 meter dari pertahanan parit.

Selama berjam-jam prajurit Perancis berhasil berhimpun di kamp setelah dengan berbagai cara menghindari pasukan Inggris yang sekarang menduduki jalan masuk ke sana.

Menjelang sore para perwira gabungan dari Perancis dan Belanda mulai menghitung prajurit yang tewas dan mereka yang berhenti bertempur karena luka parah.

Jenderal Alberti terbunuh dengan gagah berani, veteran perang Spanyol itu berusaha membangkitkan kembali semangat tentara Perancis yang mulai luntur sampai tiba-tiba dia melihat sebuah peleton berkuda yang berseragam hijau yang dikiranya berusaha untuk berlindung dari hujan peluru.

Jenderal Alberti mengira itu pasukan Pemburu Perancis padahal resimen garis depan ke-89 yang sedang menembus garis pertahanan Perancis.

Sang Jenderal awalnya memerintahkan mereka untuk kembali bertempur dalam bahasa Perancis, namun tak di gubris yang ada ia terkena beberapa peluru tepat ditubuhnya hingga tewas.

Tercatat juga seorang kolonel tewas sehingga menambah jumlah perwira yang gugur menjadi 17 dan 41 prajurit yang gugur atau terluka dalam pertempuran itu.

Kerugian lebih besar di bandingkan pihak Inggris yang kehilangan 5 perwira 29 prajurit.

Pertempuran hari ini selesai menjelang malam, saat matahari terbenam pasukan Perancis, Belanda yang di bantu Pribumi masih bertahan di sekitar benteng Kecil dekat istana Putih Daendels sedang pihak Inggris sudah menguasai seluruh kawasan hutan yang kelak dikenal sebagai lapangan Monas sekarang.

Saat tengah malam sepasukan gabungan Perancis dan Belanda dengan diam-diam mengawal Gubernur Janssens ke benteng terkuat mereka di Meester Cornelis dan kelak kembali terjadi pertempuran meriam terbesar selama perang Napoleon di Jawa dekat benteng tersebut yang lokasinya saat ini dekat kali Ciliwung dan jalan Pramuka.

 

*Sumber buku Perang Napoleon di Jawa 1811

Rabu, 12 Agustus 2026

Gladi Kotor HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Libatkan 81 Pesawat dan Helikopter TNI Untuk Demo Udara

Jakarta - Sejak pukul 08.00 WIB, pelaksanaan gladi kotor rangkaian Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dilakukan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/08/2026). Pada momen gladi tersebut, demo udara yang melibatkan sekitar 81 pesawat dan helikopter milik TNI turut ditampilkan.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam keterangannya usai mengikuti jalannya gladi kotor pertama menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerbang yang terlibat. Menurutnya, kemampuan para penerbang dalam mengoperasikan berbagai jenis pesawat dan helikopter menunjukkan kesiapan sumber daya manusia Indonesia dalam mendukung pelaksanaan upacara kenegaraan.

Mensesneg mengakui sejumlah manuver dalam latihan sempat membuat suasana yang mendebarkan. Namun, Mensesneg menilai hal tersebut sekaligus menunjukkan profesionalisme dan kesiapan para personel TNI.

Usai gladi kotor, evaluasi langsung dilakukan untuk menyempurnakan sejumlah aspek teknis pelaksanaan upacara. Salah satunya terkait koordinat dan posisi manuver pesawat maupun helikopter agar berada tepat pada titik yang telah ditentukan.

 

Sumber: Biro Humas Setneg & BPMI Setpres

#KemensetnegRI

#RilisKemensetneg

Panggilan Akrab Masa Revolusi Kemerdekaan : BOENG


Namun kemana “ Si Boeng” ini sekarang ?

Bung, di mana kini kau berada

Bertahun lamanya kita berpisah

Tak tentu di mana rimbanya

Semenjak …

Malam itu kita bersua

Bung, bilakah kau akan kembali

Gelisah …

Tak sabar hamba menanti lagi.

Kalimat-kalimat di atas, merupakan cuplikan lirik lagu “Bung di Mana” yang dipopulerkan Diah Iskandar pada sekitar tahun 1960-an. Sayangnya, saya tidak ingat lagi siapa penciptanya (Ada yang tahu?).

Sejak era revolusi fisik (1940-an) hingga 1960-an, memang tak sedikit pencipta lagu pop maupun lagu perjuangan, yang mencantumkan panggilan “Bung” dalam lirik lagunya. Mungkin Anda, atau Ayah Anda, atau Kakek Anda, masih ingat dengan lirik lagu sebagai berikut: … waktu semalam Bung/aku bermimpi/digigit ular Bung/ besar sekali.

Kemudian, keterlaluan saja kalau Anda tidak ingat lagi dengan lirik lagu yang berbunyi: … Mari Bung rebut kembali … Itu lirik penutup lagu perjuangan karangan Ismail Marzuki, untuk menyemangati para prajurit Siliwangi yang tengah berjuang merebut kembali Bandung dari tentara Belanda, dalam peristiwa “Bandung Lautan Api”.

Memasuki dekade 1970-an hingga sekarang, lagu-lagu yang mencantumkan panggilan “Bung” tak pernah lagi diciptakan, seiring surutnya panggilan Bung dalam pergaulan masyarakat Indonesia. Panggilan Bung, yang terasa lebih demokratis karena tidak membeda-bedakan strata sosial ataupun rentang usia, kembali digantikan dengan panggilan yang feodalistik: Bapak. Atau panggilan primordialistik: Mas, Akang, Abang.

Saya tidak tahu siapa yang mulai mempopulerkan panggilan Bung. Tetapi kemungkinan besar, panggilan Bung mulai muncul ke permukaan pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Saat itu, para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jakarta, dengan membawa berbagai kekhasannya, termasuk kekhasannya dalam memanggil sesama teman. Pemuda dari Jawa tengah dan Jawa Timur, misalnya, akan terbiasa memanggil temannya dengan sebutan Mas. Sebutan itu tentu saja terasa asing bagi para pemuda dari daerah lainnya. Sebut saja bagi para pemuda Pasundan yang biasa menggunakan panggilan Akang.

Untuk itu diperlukan suatu panggilan yang bersifat umum dan terasa lebih demokratis, egaliter, tidak membeda-bedakan usia, suku dan golongan. Maka muncullah panggilan Bung. Panggilan Bung, kemudian menjadi semakin populer di kalangan para pejuang kemerdekaan RI. Terutama setelah para pendiri Republik, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir, memberikan contoh dengan menyebut diri mereka: Bung.

Para pejuang kemerdekaan akan menyapa teman-teman seperjuangannya dengan seruan: Merdeka, Bung! Panggilan Bung pun sering terdengar, baik dalam pertemuan formal maupun informal, bahkan masuk pula dalam karya sastra. Salah satunya termaktub dalam puisi Chairil Anwar, Antara Krawang-Bekasi:

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Pernah, di masa Orde Baru, para deklamator tidak berani membaca baris-baris: menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Syahrir … Baris-baris tersebut dibuang begitu saja, sehingga puisi Chairil Anwar yang satu ini, menjadi tidak utuh lagi. Bukan karena alergi terhadap panggilan Bung, tetapi lantaran takut dicap antek-antek Soekarno, atau antek-antek Orde Lama.

Tetapi panggilan Bung memang perlahan menghilang, sejak Soeharto menjadi Presiden RI. Encyclopaedia Americana volume lama yang terbit tahun 1970-an, secara khusus menulis dalam bab tentang Soeharto, bahwa panggilan Bung, sejak Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI, digantikan dengan panggilan Bapak. Dan, panggilan seperti itu tampaknya sesuai bagi masyarakat Indonesia yang paternalistik.

Bukan soal paternalisme, sebetulnya. Namun lebih disebabkan hirarki dalam ketentaraan. Tentara diharuskan memanggil Bapak kepada atasannya, atau kepada orang yang pangkatnya lebih tinggi. Ini berlaku secara universal di kalangan militer. Di Amerika Serikat saja, yang mengklaim sebagai negara paling demokratis pun, para prajuritnya diwajibkan memanggil Sir, kepada atasannya.

Di zaman revolusi fisik, panggilan Bung memang lebih populer di kalangan pejuang sipil, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo, Bung Chairul Saleh, Bung Adam Malik. Sedangkan di kalangan militer panggilannya memang tetap Pak, seperti Pak Dirman, Pak Nasution, Pak Harto, Pak Simatupang, Pak Kawilarang, Pak Urip.

Jadi wajarlah. Ketika republik ini dipimpin orang sipil (Soekarno), panggilan Bung bergaung dari Sabang sampai Merauke. Tetapi tatkala pimpinannya digantikan orang militer (Soeharto), panggilan Bapak merebak ke seluruh negeri. Lalu mengapa Habibie dan Abdurrahman Wahid yang notabene orang sipil tidak lantas dipanggil Bung sewaktu menjabat Presiden RI? Mungkin karena Habibie sudah keenakan dengan panggilan Bapak sejak ia masih menjabat Menteri, dan Abdurrahman Wahid sudah terlanjur akrab dengan panggilan Gus sejak masa kanak-kanak. Maklum, dia kan anak Kiyai.

Di masa Soeharto, sebenarnya masih ada pejabat pemerintah yang lebih suka dipanggil Bung, yakni Bung Adam Malik. Dia memang salah seorang pejuang sipil di zaman revolusi kemerdekaan. Tatkala Adam Malik meninggal dunia, majalah Times menulis in memoriam tentang mantan wakil presiden ini, dengan judul: The Last Bung.

Bila ukurannya adalah pejabat pemerintah, Adam Malik sebenarnya bukan The Last Bung. Masih ada pejabat lainnya yang berusaha keras agar dipanggil Bung, yakni Bung Abdul Gafur dan Bung Harmoko.

Bung Gafur memang sudah biasa dipanggil Bung di kalangan Angkatan ’66 (yang rata-rata dilahirkan pada zaman revolusi). Sedangkan Bung Harmoko adalah wartawan sekaligus seniman, dan panggilan Bung sampai sekarang pun masih digunakan di kalangan kedua profesi tersebut. Paling tidak di kalangan wartawan tua dan seniman tua.

Bung Mochtar Lubis, dalam pidato kebudayaannya tentang “Ciri Manusia Indonesia” di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1977, mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali menggunakan panggilan Bung kepada siapapun, sebagai salah satu upaya membudayakan perilaku demokrasi. Tetapi ajakan Mochtar Lubis ini tampaknya tidak berhasil, bahkan di lingkungannya sendiri.

Sebagai bukti, sewaktu saya menemui Mochtar Lubis di kantornya, kantor penerbit Yayasan Obor Indonesia, pada sekitar tahun 1980-an, saya tidak menemukan satu orang pun bawahan atau pegawai Bung Mochtar, yang memanggilnya Bung. Semuanya memanggilnya Bapak. Saya tidak sempat bertanya mengapa Bung Mochtar tidak melarang pegawainya memanggilnya Bapak.

Sekarang, panggilan Bung sudah nyaris sirna. Kalaupun masih ada yang menggunakannya, tetaplah angkatan tua, seperti saya, atau orang-orang yang lebih tua dari saya. Mungkin masih ada kalangan muda yang menggunakannya, namun jumlahnya sangat sedikit. Saya pernah ditertawakan oleh yunior saya, sewaktu saya memanggilnya Bung. Dia bilang, “kayak pejuang kemerdekaan aja.” Temannya (yang juga yunior saya) menimpali, “jadul banget …”

Jadul alias kuno, itulah pandangan anak-anak sekarang terhadap panggilan Bung. Tetapi yang lebih memprihatinkan, tak sedikit orang tua atau orang yang merasa dituakan, tersinggung ketika dipanggil Bung. Panggilan Bung yang diucapkan oleh orang yang lebih muda, dinilainya sebagai kelancangan. Orang-orang ini lebih merasa dihormati jika dipanggil Bapak.

Sayangnya, negeri ini terlalu machoistic, tidak ada panggilan yang setara Bung, untuk perempuan. Ada sih, yaitu Mbak. Tapi panggilan Mbak sangat terasa Jawa. Meski untuk sementara, bolehlah.

Untuk sementara juga, mari kita populerkan kembali panggilan Bung. Itu pun kalau Anda mau. Saya ingin panggilan Bung kembali membumbung. Tetapi, Bung, di mana kini kau berada?

 

Sumber : http://jagatalun.com/.../08/17/bung-di-mana-kini-kau-berada/

Senin, 10 Agustus 2026

Gelar Rapat Koordinasi, Menko Polkam: Pemerintah Perkuat Langkah Penanganan Karhutla di Tengah Ancaman El NiƱo

SIARAN PERS NO. 324/SP/HM.01.02/POLKAM/8/2026

Polkam, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat sinergi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca ekstrem dan ancaman El NiƱo. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko serta memperluas potensi kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.

“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107 ribu hektare lebih. Karena kesungguhan kita semua, kita sudah mengerahkan banyak sekali tenaga, kemampuan, dan alat-alat penanganan untuk itu,” ujar Menko Polkam Djamari Chaniago dalam konferensi pers seusai Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan Eskalasi Karhutla di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Rapat koordinasi digelar secara hibrida. Hadir secara tatap muka Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, Deputi BMKG, Asops Panglima TNI, Astamaops Kapolri, Sesmenko Polkam, Pangdam XII/Tanjungpura, serta para Deputi Kemenko Polkam. Sementara itu, secara daring hadir gubernur dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dari Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat Daya.

Menko Djamari mengatakan, pemerintah terus mengerahkan berbagai sumber daya melalui operasi udara dan darat untuk mengendalikan sekaligus mencegah meluasnya karhutla. Dalam operasi udara, Satgas Udara telah mengerahkan sekitar 43 helikopter. Selain itu, sekitar 10 hingga 15 pesawat bersayap tetap (fixed wing) juga disiapkan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Operasi udara sebetulnya sangat efektif, terutama melalui operasi modifikasi cuaca yang dilakukan BNPB. Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi, yaitu harus ada awan hujan,” kata Menko Djamari.

Menurutnya, operasi modifikasi cuaca (OMC) hanya dapat dilakukan apabila terdapat awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Berdasarkan prakiraan cuaca, terdapat peluang munculnya awan hujan dalam beberapa hari ke depan hingga sekitar 18 Agustus. Pemerintah terus memantau perkembangan cuaca agar setiap peluang terbentuknya awan hujan dapat segera dimanfaatkan untuk melakukan penyemaian awan di wilayah yang membutuhkan.

“Selama awan hujan tidak bisa kita temukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan. Karena itu, perubahan cuaca sedikit apa pun yang kira-kira akan memunculkan awan hujan harus segera kita manfaatkan untuk melakukan operasi modifikasi cuaca,” kata Menko Polkam.

Selain operasi udara, penanganan karhutla melalui operasi darat terus diperkuat, terutama karena ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah mulai berkurang akibat musim kemarau. Pemerintah menyiapkan flexible tank yang dapat dipindahkan ke lokasi yang membutuhkan serta mengembangkan sumber air alternatif, seperti pembuatan sumur di wilayah rawan kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan air dalam penanganan titik api.

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap enam provinsi yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Keenam wilayah tersebut terus dipantau secara ketat, sementara pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda telah melakukan berbagai langkah untuk mencegah dan mengendalikan potensi kebakaran.

Di luar enam provinsi tersebut, pemerintah tetap memantau titik-titik kebakaran di sejumlah wilayah lain. Beberapa kejadian kebakaran di kawasan pegunungan, antara lain Bromo, Gunung Gede Pangrango, dan kawasan sekitar Rinjani, telah ditangani. Penanganan kebakaran di Bromo menunjukkan perkembangan signifikan dengan menyisakan satu titik api yang masih dalam pemantauan, sedangkan kebakaran di Gunung Gede Pangrango dan kawasan sekitar Rinjani telah berhasil ditangani.

“Ada yang di luar ini, seperti misalnya kemarin terbakar di Bromo. Itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam sudah tuntas, kemudian tinggal satu titik api saja. Di Gunung Gede Pangrango, itu pun sudah selesai. Kemudian di sekitar Rinjani juga ada, itu juga sudah selesai,” kata Menko Djamari.

Menurut Menko Polkam, ancaman karhutla perlu semakin diwaspadai seiring meningkatnya potensi El NiƱo. Fenomena tersebut dapat menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang, kondisi semakin kering, dan risiko terjadinya kebakaran meningkat.

“El NiƱo terkuat itu adalah suatu keadaan di mana keadaan itu sangat membuat kita kekeringan dan mudah sekali terbakar. Kemarau akan lebih panjang. Jadi, cuaca ini juga sangat menentukan keberhasilan upaya kita,” kata Menko Djamari.

Selain kawasan hutan dan lahan, pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Kondisi TPA yang kering berpotensi memicu kebakaran dan menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah mendorong agar kawasan TPA terus dibasahi sebagai langkah pencegahan. Apabila terjadi kebakaran, penanganan harus dilakukan secara cepat untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko Polkam memberikan sejumlah penekanan kepada seluruh peserta. Pertama, penanganan karhutla harus dilakukan sedini mungkin dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan langkah pencegahan agar kebakaran tidak berkembang hingga mencapai kondisi darurat.

Kedua, seluruh unsur diminta semakin memperkuat sinergi sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. Para gubernur sebagai pimpinan di daerah diminta memperkuat kerja sama antarunsur di wilayahnya, termasuk Forkopimda dan unsur masyarakat, sehingga setiap potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani secara cepat, terpadu, dan efektif.

Ketiga, Menko Polkam menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Jajaran Polri, Kementerian Kehutanan, dan Kejaksaan diminta melakukan penegakan hukum dan menindak para pelaku apabila ditemukan perbuatan yang memenuhi unsur pidana.

Menko Polkam menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu instansi. Sinergi pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, kementerian/lembaga, Forkopimda, serta berbagai unsur masyarakat menjadi kunci agar upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat berjalan efektif.

“Pekerjaan ini tidak bisa dikerjakan oleh satu badan pun. Kita harus mengerjakannya bersama-sama dengan berbagai macam unsur yang ada di masyarakat,” tegas Menko Djamari.

Dengan dukungan dan sinergi seluruh unsur terkait, pemerintah optimistis upaya pengendalian karhutla dapat terus diperkuat sehingga potensi meluasnya kebakaran serta dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.

 

*Humas Kemenko Polkam RI 


 

Minggu, 09 Agustus 2026

OVERSTEE IGNATIUS SLAMET RIYADI

Slamet Riyadi Komandan Divisi Panembahan Senopati Solo yang memimpin Serangan Umum Kota Solo.

Serangan besar besaran ke dalam kota Solo selama 4 hari 4 malam ini meruntuhkan ego dan "pd" tentara Belanda bahkan hingga ke komadan Brigade mereka!

Tentara Belanda di Solo tak akan menyangka mereka di kunci dan tak bisa begerak dalam pertempuran besar selama hampir seminggu.

Dalam catatan komadan Brigade Belanda Kolonel Van Ohl, bahkan mereka berfikir pemimpin dan pengatur serangan adalah lulusan sebuah akademi militer! karena saking cedik dan rapinya serangan mereka ke dalam kota Solo.

Saat upacara serah terima kota Solo dari pihak Belanda ke TNI, Kolonel Van Ohl terhenyak karena ia tak menyangka sang inpirator dan pemimpin serangan pada pasukan nya masih sangat muda bahkan seusia anaknya.

Tampak Overste Slamet Riyadi saat upacara serah terima kota Solo dari Tentara Kerajaan Belanda ke Tentara Nasional Indonesia tanggal 12 November 1949.

 

*Memperingati Serangan Umum Kota Solo 7 - 10 Agustus 1949 


 

Transformasi Pengelolaan Sampah Jakarta di TPST Bantargebang

Jakarta - 7 Agustus 2026 TPST Bantargebang menerima kunjungan Wamenko Bidang Pangan RI Bapak Hanif Faisol Nurofiq dan jajaran. Kunjungan ini bukan sekedar pemantauan biasa, melainkan langkah untuk menyelaraskan visi besar mengenai pengelolaan sampah Jakarta.

Didampingi oleh Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu Agung Pujo Winarko, ada beberapa hal yang menjadi concern kunjungan hari ini yaitu beliau mengapresiasi implementasi kebijakan bahwa sejak 1 Agustus 2026 TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu, sebagai langkah penting menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. selanjutnya pengelolaan sampah dikaitkan dengan ketahanan pangan, pesan utama yang diangkat adalah bahwa pengelolaan sampah bukan semata isu lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan melalui pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, energi, atau produk bernilai tambah.

Hal ini sejalan dengan agenda Kemenko Pangan dalam mendorong ekonomi sirkular. Kemudian beliau menyampaikan perlunya dorongan penguatan pemilahan sampah dari sumber, penekanan pada pentingnya masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha melakukan pemilahan sampah sejak rumah tangga agar volume residu yang masuk ke Bantargebang terus berkurang. Terakhir beliau memberikan dukungan terhadap transformasi pengelolaan TPST Bantargebang dari sistem open dumping menuju controlled landfill serta pengolahan yang lebih modern, termasuk pengembangan waste-to-energy dan teknologi pengolahan lainnya.

Komitmen dan dukungan penuh dari pemerintah pusat menjadi energi positif dalam transformasi TPST Bantargebang.

#JagaJakartaPilahSampah

#TPSTBantargebang

 

Sabtu, 08 Agustus 2026

Mengenang Serangan Umum Solo 7 -10 Agustus 1949

 

Pada tanggal 7 Agustus 1949 sewaktu kawan - kawan sibuk bertempur dengan tentara Belanda di dalam kota Solo, di rumah kamituwo dan terletak di dekat pos Polisi Belanda AP ataun Algemene Politi Kebakramat pada jam 15.00 diadakan perundingan antara 2 orang anak TGP atau Tentara Genie Pelajar yakni Soetojo dan Soemarno dengan 2 orang Polisi Belanda yang akan menyerah kepada TNI.

Kekuatan pos Polisi Belanda tersebut terdiri dari 10 orang Polisi dari suku Jawa dan 2 orang Belanda, bersenjatakan 2 brengun, 2 stengun, dan 10 pucuk senapan. Dalam pembicaraan tersebut telah disepakati bahwa pada tanggal 10 Agustus 1949 jam 19.00 pasukan TGP pura - pura akan menyerang pos Polisi Belanda AP tersebut, dan mereka seakan - akan melawan tetapi sesungguhnya akan membunuh 2 orang Belanda yang ikut dalam pos penjagaan.

Maka pada tanggal 10 Agustus 1949 sesuai dengan rencana. Pasukan TGP Solo menyerang' pos Polisi Belanda tersebut. Pasukan TGP mengepung pos Polisi Belanda dari semua sisi depan pos mereka, bahkan beberapa anak anak TGP naik ke pohon mencari ruang tembak.

Lalu, serangan di mulai..!

Semua senjata manyalak ke arah pos Polisi Belanda tersebut bahkan anak anak TGP merayap beringsut mendekati pagar pos musuh seakan melempar granat. Sedang dari pihak musuh sesekali terdengar suara balasan tembakan.

Walau bising suara peluru dan ledakan granat namun unik nya tak satupun peluru anak anak TGP mengenai para musuh mereka!, ya serangan itu serangan pura pura!, seperti kesepakatan yang mereka buat beberapa hari sebelumnya.

Di dalam pos Polisi Belanda, rupanya anggota polisi asal pribumi memang membunuh dua anggota polisi mereka yang asli Belanda. Lalu setelah pertempuran setengah jam berhenti dan semua polisi Belanda tadi menyerah.

Anak anak TGP Solo berhasil membawa 10 orang Polisi AP dengan senjata senjatanya, yakni 2 brengun beserta 2 reserve loopnya, 2 stengun, 9 senapan mouser, 1 senapan LE, beberapa houderbak dan ratusan peluru serta satu set pemancar Radio.

Sekelumit perjuangan Para Tentara Pelajar di Solo saat Serangan Umum kota Solo Agustus 1949.

 

*Sumber : Buku Pertempuran Empat Hari di Solo dan sekitarnya


Kemenko Polkam-Perpusnas RI Perkuat Sinergi Pengembangan Perpustakaan

SIARAN PERS NO. 340/SP/HM.01.02/POLKAM/8/2026 Polkam, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) bersa...