Belajar jadi anak pejabat
seperti Aditya Soetanto Hoegeng
Sebagai pemuda yang baru tumbuh,
Aditya tentu pingin seperti pemuda lain yang punya motor scuter yang kala itu
terkenal scuter merk Lambretta.
Ayah Aditya kala itu adalah
Kapolri Hoegeng Imam Santoso.
Didit nama panggilan putra
Kapolri saat itu sudah melihat ada kiriman dari dealer 2 motor scuter yang
masih dibungkus plastik sampai di rumah dinas.
Walau terkejut tak urung hatinya
senang juga dan berharap bisa memakai satu dari dua motor tersebut.
“Semoga Papi tidak menolak.
Mungkin kalau motor boleh. Daripada tidak dapat mobil, Lambretta pun lumayan,”
pikir Didit saat itu.
Sorenya, Didit melihat ayahnya
Hoegeng pulang dari kantor, dan melihat dua kiriman dari dealer dan Hoegeng pun
langsung memanggil ajudannya.
Sambil melirik jam tangan,
dilihatnya masih menunjukan pukul 16.00, ia memerintahkan ajudannya untuk
mengembalikan dua motor tersebut karena kantor dealernya masih buka.
“Ini masih jam 16.00, masih ada
orang di kantornya. Tolong motor ini dikembalikan lagi ke pengirimnya.”
Didit yang mendengar perintah
ayahnya, hanya diam, selain sedih dia hanya bisa bergumam dalam hati “Ya, pahit
lagi”.
Belajar dari pengalaman putra polisi paling jujur di Indonesia, mungkin kejadian seperti anak pejabat Kemenkeu tak akan terjadi seperti saat ini.
Sumber buku : Hoegeng Polisi dan Mentri Teladan karya Suhartono

Tidak ada komentar:
Posting Komentar