Dibalik sebuah Foto bersejarah
pada Perayaan TNI Pertama 5 Oktober 1946
“Untuk pawai besok, berilah saya
kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak dan hampir mendekati
kematiannya….”
Bung Karno, 5 Oktober 1946
Pasti banyak yang pernah lihat
photo si Bung naik kuda....Gagah ya
Tapi uniknya ini adakah
Pengalaman Pertama Bung Karno
Naik Kuda ![]()
Kejadian menarik juga menimpa
Bung Karno ketika tanggal 5 Oktober 1946, Angkatan Perang kita (sekarang TNI)
hendak merayakan ulang tahun yang pertama. Dalam salah satu tata cara upacara
militer yang sudah direncanakan semegah-megahnya untuk ukuran negara berusia
satu tahun, Presiden Republik Indonesia Sukarno, harus melakukan inspeksi
pasukan… naik kuda!.
Persoalannya adalah.…Bung Karno
tidak pernah naik kuda. Pergaulan Bung Karno dengan seekor kuda pada masa-masa
sebelumnya, tak lebih dari sekadar menepuk-nepuk kuduknya. Demi mengetahui hal
itu, Fatmawati, istrinya, ikut cemas. “Jadi, bagaimana caranya,”, tanya Fatma.
Bung Karno menjawab, “Pertama, aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang
yang pelagak… Aku akan belajar naik kuda!”
Fatma belum hilang rasa
cemasnya, “Kan pawainya besok?”, Lalu Bung Karno menjawab, “Ya, aku akan
belajar dalam satu hari.”
Akhirnya, seorang perwira
kavaleri tekun memberikan pelajaran berkuda kepada presidennya. Dan di akhir
sesi latihan, kepada si perwira kavaleri itu, Bung Karno menyampaikan pesan
dengan suara pelan… “Untuk pawai besok, berilah saya kuda yang paling lunak,
paling tua, paling jinak dan hampir mendekati kematiannya….”
Tak bisa dimungkiri, Bung Karno
sebenarnya memendam rasa cemas dan khawatir. Apa jadinya kalau dalam pawai
inspeksi pasukan besok si kuda menjadi beringas dan tak terkendali? Bagaimana
kalau ia kemudian terpental dari punggung kuda? Apa kata dunia?
Dan…perwira kavaleri itu
menjawab, “Tidak Pak. Tidak pantas untuk Bapak. Kuda yang disediakan harus yang
muda dan garang. Dia harus memperlihatkan semangat tempur yang menyala-nyala,
dan kuda yang terbaik dari seluruh kelompok.”
Bung Karno yang pelagak, tak
berkutik dengan jawaban perwira kavaleri. Rasa cemas ia pendam dalam
hati….hingga, tibalah saat-saat yang dinanti. Terompet telah berbunyi,
genderang berderam-deram, pasukan berdiri tegap, dan…..Presiden menaiki
kudanya. Binatang itu berjalan mengikuti irama musik… dan…..menjadi liar. Bung
Karno sedikit ciut, tapi ketika ia melihat pasukan yang berbaris rapi yang
sedang ia inspeksi…..muncullah sifat pelagak nya. Sorak-sorai dan teriakan
gembira dari rakyat yang berjejal-jejal di lapangan pawai menghidupkan
semangat.
Suasana itu membuat Bung Karno tenang dan sadar…..hilang rasa cemas, dan muncul teori-teori berkuda yang telah diajarkan si perwira kavaleri kemarin. Maka, dengan sigap Bung Karno segera memainkan pegelangan, menguasai tunggangannya dengan baik. Bung Karno mengendalikan langkah kuda dengan begitu gagah, sehingga kuda berjalan dengan langkah tenang dan teratur seperti yang dikehendaki. Dan….kuda yang bagus itu tidak pernah menyadari bahwa tuannya lebih gentar menghadapi peristiwa itu daripada binatang itu sendiri.
*Bensur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar