Indonesia baru merdeka beberapa
bulan, kondisi Jakarta bagai daerah tak bertuan!
Sejak kedatangan tentara Inggris
di Jakarta Oktober 1945, Inggris sebagai merasa memegang kendali atas Jakarta
dengan menguasai daerah daerah penting dan strategis di Jakarta.
Kedatangan Tentara Inggris yang
belakangan diketahui di boncengi NICA atau pemeritahan peralihan Sipil Hindia
Belanda malah membuat kondisi Jakarta makin panas!
Di tiap pojok kota terjadi
bentrok antara "bule" sebutan para pemuda militan Jakarta untuk semua
tentara pendatang.. Baik Belanda atau Inggris.
Dan tiap wilayah kota sudah
bagai daerah wild west... Tiap pojok Jakarta sudah memeliki "penguasa-penguasa"
lokal yang tiap saat bisa bergerak menyerang bule bule yg terlihat. Begitu juga
sebaliknya.. Tentara Inggris dan NICA akan membalas serangan para pemuda
militan Jakarta dengan cara memeriksa kampung dan menahan pemuda yg mereka temui.
Jakarta bagai neraka diam!
sampai sampai pihak Sekutu membuat aturan jam malam saat itu di Jakarta saking
rawan dan mencekamnya situasi.
Di antara serdadu Inggris yang
ditugaskan di Jakarta, terdapat anggota British India Division yang anggota nya
ada yang beragama Islam, pada waktu senggang mereka sering berkunjung ke tabib
Sher seorang tabib kawan dekat dari dokter Soeharto yang juga dokter pribadi
Bung Karno.
Kejadian yang tak akan dilupakan
oleh sang Tabib ini adalah ketika Bung Karno nyaris tewas di tangan tentara
Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan Jepang dan kembali di beri
senjata lalu menjadi kesatuan yang di bentuk oleh NICA.
Sore itu bulan Desember 1945,
Bung Karno baru saja keluar dari tempat praktek dokter Soeharto di jalan kramat
raya.
Rupanya di jalan Kramat Raya itu
tentara Belanda sedang mencari Bung Karno untuk di bunuh, karena mobil Bung
Karno sudah mereka hapal jadilah mobil tersebut di kepung tentara Belanda yang
dengan bringas merangsek mendekati mobil pribadi presiden Indonesia pertama
itu.
Keributan makin ramai, orang
banyak tak ada yg berani bertindak karena tentara Belanda bersenjata lengkap.
Bung Karno hanya ditemani supir
pribadi, di dalam mobil tak berani keluar dan hanya bisa pasrah....terjebak!...
Keributan langsung menyebar,
kebetulan tempat praktek saya di Jalan Senen Raya terusan dari Kramat Raya
sehingga lokasi kejadian di mana Bung Karno terjebak tidak terlalu jauh dari
tempat praktek saya.
Sejumlah prajurit dan perwira
muslim yang kebetulan sedang mampir ke tempat praktek saya, saya ajak keluar
dan memberi tahu keadaan genting tersebut.
Sigap para prajurit dan perwira
Inggris dari Devisi India ini mendekati lokasi dimana Bung Karno terkepung!
Saya ikuti para tentara asal
India ini, dari dekat saya melihat Bung Karno tetap bertahan dalam mobil.
Walau dikepung oleh pasukan NICA
bersenjata lengkap dan memaksa Bung Karno keluar dari mobil. Bung Karno tetap
menolak keluar, mobilnya sudah mulai dirusak pasukan NICA sembari berteriak
" Soekarno musuh, dia harus kami tangkap!" seraya mulai memecah kaca
mobil.
Pasukan Inggris asal India
melihat ulah para serdadu NICA, seorang perwira Asal India tiba tiba memerintah
anak buah mengambil gerakan menyebar dan mengokang senjata mereka serta mulai
membidik ke arah para serdadu NICA Belanda.
Seorang Perwira muslim India
lalu berteriak dengan lantang...
"Panglima Sekutu
berpendapat, dia Presiden Republik Indonesia, segera lepaskan atau kalian semua
kita tembak di sini!!"....
Seraya mengacungkan senjatanya
yang sudah siap tembak.
Pasukan NICA melihat seriusnya
niat para tentara Inggris asal India ini mundur... seraya bersungut sungut dan
sumpah serapah!
Dr Soeharto yang sejak tadi
sudah keluar dari tempat prakteknya dan hanya berani dipinggir, akhirnya
membimbing Presiden Soekarno keluar dari dalam mobil, lalu membawa Bung Karno
ke tempat praktek nya tidak lama kemudian dengan mobilnya, dokter itu mengantar
Bung Karno kembali ke rumah di Pegangsaan Timoer lewat jalan kampung di
belakang.
Mobil Bung Karno sendiri
rusak harus di bawa ke bengkel, dokter Soeharto menitipkan mobil tersebut pada saya, 3 minggu setelah mobil tersebut selesai diperbaiki saya mengantar mobil tersebut pada sang empunya, namun saat saya sampai ke sana Bung Karno dan keluarga sudah tak ada dan rumah Bung Karno sudah kosong karena mereka semua sudah pindah ke Jogjakarta.
Sumber buku Kesaksian dr. Soeharto
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar