Rabu, 19 Agustus 2026

Tentara India Membelot Bela Republik

Indonesia baru merdeka beberapa bulan, kondisi Jakarta bagai daerah tak bertuan!

Sejak kedatangan tentara Inggris di Jakarta Oktober 1945, Inggris sebagai merasa memegang kendali atas Jakarta dengan menguasai daerah daerah penting dan strategis di Jakarta.

Kedatangan Tentara Inggris yang belakangan diketahui di boncengi NICA atau pemeritahan peralihan Sipil Hindia Belanda malah membuat kondisi Jakarta makin panas!

Di tiap pojok kota terjadi bentrok antara "bule" sebutan para pemuda militan Jakarta untuk semua tentara pendatang.. Baik Belanda atau Inggris.

Dan tiap wilayah kota sudah bagai daerah wild west... Tiap pojok Jakarta sudah memeliki "penguasa-penguasa" lokal yang tiap saat bisa bergerak menyerang bule bule yg terlihat. Begitu juga sebaliknya.. Tentara Inggris dan NICA akan membalas serangan para pemuda militan Jakarta dengan cara memeriksa kampung dan menahan pemuda yg mereka temui.

Jakarta bagai neraka diam! sampai sampai pihak Sekutu membuat aturan jam malam saat itu di Jakarta saking rawan dan mencekamnya situasi.

Di antara serdadu Inggris yang ditugaskan di Jakarta, terdapat anggota British India Division yang anggota nya ada yang beragama Islam, pada waktu senggang mereka sering berkunjung ke tabib Sher seorang tabib kawan dekat dari dokter Soeharto yang juga dokter pribadi Bung Karno.

Kejadian yang tak akan dilupakan oleh sang Tabib ini adalah ketika Bung Karno nyaris tewas di tangan tentara Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan Jepang dan kembali di beri senjata lalu menjadi kesatuan yang di bentuk oleh NICA.

Sore itu bulan Desember 1945, Bung Karno baru saja keluar dari tempat praktek dokter Soeharto di jalan kramat raya.

Rupanya di jalan Kramat Raya itu tentara Belanda sedang mencari Bung Karno untuk di bunuh, karena mobil Bung Karno sudah mereka hapal jadilah mobil tersebut di kepung tentara Belanda yang dengan bringas merangsek mendekati mobil pribadi presiden Indonesia pertama itu.

Keributan makin ramai, orang banyak tak ada yg berani bertindak karena tentara Belanda bersenjata lengkap.

Bung Karno hanya ditemani supir pribadi, di dalam mobil tak berani keluar dan hanya bisa pasrah....terjebak!...

Keributan langsung menyebar, kebetulan tempat praktek saya di Jalan Senen Raya terusan dari Kramat Raya sehingga lokasi kejadian di mana Bung Karno terjebak tidak terlalu jauh dari tempat praktek saya.

Sejumlah prajurit dan perwira muslim yang kebetulan sedang mampir ke tempat praktek saya, saya ajak keluar dan memberi tahu keadaan genting tersebut.

Sigap para prajurit dan perwira Inggris dari Devisi India ini mendekati lokasi dimana Bung Karno terkepung!

Saya ikuti para tentara asal India ini, dari dekat saya melihat Bung Karno tetap bertahan dalam mobil.

Walau dikepung oleh pasukan NICA bersenjata lengkap dan memaksa Bung Karno keluar dari mobil. Bung Karno tetap menolak keluar, mobilnya sudah mulai dirusak pasukan NICA sembari berteriak " Soekarno musuh, dia harus kami tangkap!" seraya mulai memecah kaca mobil.

Pasukan Inggris asal India melihat ulah para serdadu NICA, seorang perwira Asal India tiba tiba memerintah anak buah mengambil gerakan menyebar dan mengokang senjata mereka serta mulai membidik ke arah para serdadu NICA Belanda.

Seorang Perwira muslim India lalu berteriak dengan lantang...

"Panglima Sekutu berpendapat, dia Presiden Republik Indonesia, segera lepaskan atau kalian semua kita tembak di sini!!"....

Seraya mengacungkan senjatanya yang sudah siap tembak.

Pasukan NICA melihat seriusnya niat para tentara Inggris asal India ini mundur... seraya bersungut sungut dan sumpah serapah!

Dr Soeharto yang sejak tadi sudah keluar dari tempat prakteknya dan hanya berani dipinggir, akhirnya membimbing Presiden Soekarno keluar dari dalam mobil, lalu membawa Bung Karno ke tempat praktek nya tidak lama kemudian dengan mobilnya, dokter itu mengantar Bung Karno kembali ke rumah di Pegangsaan Timoer lewat jalan kampung di belakang.

Mobil Bung Karno sendiri

rusak harus di bawa ke bengkel, dokter Soeharto menitipkan mobil tersebut pada saya, 3 minggu setelah mobil tersebut selesai diperbaiki saya mengantar mobil tersebut pada sang empunya, namun saat saya sampai ke sana Bung Karno dan keluarga sudah tak ada dan rumah Bung Karno sudah kosong karena mereka semua sudah pindah ke Jogjakarta.

Sumber buku Kesaksian dr. Soeharto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kemenko Polkam-Perpusnas RI Perkuat Sinergi Pengembangan Perpustakaan

SIARAN PERS NO. 340/SP/HM.01.02/POLKAM/8/2026 Polkam, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) bersa...