Sebelum subuh lapangan terbang
Kemayoran tiba tiba ramai, Dokter Radjiman memakai beskap Jawa lengkap dengan
keris yang terakhir muncul di lapangan udara itu..
Bung Karno dan Bung Hatta sudah
menunggu di loby dengan bebapa perwira Jepang, Saat Dokter Radjiman datang
mereka tampak mengantuk terlihat dari raut muka mereka.
Ya pagi buta tanggal 9 Agustus
1945, para "pemimpin" Indonesia itu di perintahkan menghadap Panglima
Tertinggi Tentara Kekaisaran Jepang se Asia Tenggara yakni Pangeran Marsekal
Hisaichi Terauchi yang bermarkas di Dalat Indochina.
Penerbang yang sangat di
rahasiakan bahkan tidak boleh memberitahu keluarga dekat, Bung Hatta dan Bung
Karno sendiri baru tahu akan terbang ke Dalat sehari sebelumnya dan Dokter
Radjiman bahkan baru tahu ketika ia sampai di Kemayoran pagi itu.
Soeharto sebagai dokter pribadi
Bung Karno rupanya tak termasuk yg di ajak Jepang terbang ke Dalat maka ia
sebagai dokter pribadi Bung Karno sebenarnya penumpang gelap dalam penerbangan
itu hingga ia sempat di usir pihak Jepang namun ia ngotot harus ikut Karena
harus mendampingi Bung Karno itu pun baru pagi itu ia tahu akan terbang ke
mana...
"Dek Har kita menuju Dalat
Indochina menemui Marsekal Tarauchi".....
Sang dokter pribadi Bung Karno
itu terkesiap! Ia Kaget tapi sudah terlambat untuk menolak..
Dalam pesawat itu hanya ada
mereka berempat, di pihak Jepang ada 5 orang yakni pilot dan co pilot serta
satu teknisi pesawat. Perwira Jepang yang ikut adalah Letkol Nomura dari
Gunseikenbun Jakarta dan penterjemah kolonel Sunkichiro Miyoshi.
Penerbang itu harus singgah dulu
ke Singapura yang oleh Jepang di beri nama Syonanto dan setelah setengah hari
baru penerbangan di lanjut menuju Dalat.
Pertemuan dengan Marsekal Tarauchi yang pada akhirnya membelokan sejarah kemerdekaan Indonesia, di pertemuan itu Marsekal yang masih sepupu Kaisar Hirohito mempersilahkan Indonesia untuk merdeka...
*Sumber buku Saksi Sejarah dr. Soeharto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar