Sabtu Malam, 10 Agustus 1811, di
bangunan bekas perwira ajudan Gubernur Jendral kawasan Weltevreden, Gubernur
Jendral Janssens memimpin rapat para perwira gabungan Perancis dan Belanda nya
guna membahas laju pasukan Merah Inggris yang sudah 2 langkah dihadapan mereka.
Seminggu lalu tepatnya tanggal 4
Agustus 1811, pasukan Merah Inggris mendarat di Cilincing dan tanpa halangan
berarti mereka menguasai Batavia hanya dalam hitungan hari, tanggal 6 Agustus
bahkan pasukan Inggris sudah berbaris menuju Struiswijk yang saat ini jalan
persimpangan antara jalan Majapahit dan jalan Merdeka Utara dan tanggal 9
Agustus pagi serdadu Belanda sudah melihat tentara Merah Inggris di simpang
Struiswijk yang dalam selemparan batu atau paling lambat besok mereka akan
menyerbu Weltevreden.
Sebenarnya pihak tentara Inggris
sendiri masih dalam kebingungan menghadapi kenyataan betapa mudahnya mereka
menguasai Batavia tanpa perlawanan berarti dari pihak Perancis dan Belanda.
Kebanyakan yang sakit dari pasukan Inggris justru karena penyakit tropis yang
di duga karena lembab nya udara tapi tak ada luka atau tewas karena bertempur.
Para perwira Inggris banyak yang
masih menduga bahwa tindakan musuh adalah taktik jebakan buat pasukan Inggris
untuk masuk lebih jauh lalu Inggris akan dihabisi pada benteng terkuat mereka
di Meester Cornelis arah ke selatan luar Batavia.
Namun itu semua masih dugaan,
para perwira Inggris masih harus berfikir bagaimana kekuatan pasukan lawan maka
dikirim beberapa mata-mata untuk mengetahui kekuatan pasukan Belanda dan
Perancis tersebut.
Dari mata-mata yang dikirim
tersebut, pihak Inggris bisa mengetahui kekuatan lawan mereka. Berapa tepatnya
luas kamp mereka, jumlah benteng, kaliber meriam yang tersedia, kondisi
cadangan perbekalan dan lainnya hingga pasukan Inggris bisa menusuk langsung ke
arah pertahanan Belanda dan Perancis di Struiswijk.
Kembali ke rapat Gubernur
Jendral Janssens dengan para perwiranya. Janssens sedang mendengarkan usulan
para perwiranya tentang bagaimana mengatasi laju tentara Merah Inggris.
Seperti dugaan pihak Belanda dan
Perancis keesokan hari pada Sabtu, 10 Agustus 1811, semenjak pagi buta, sekitar
2.500 serdadu Inggris, yakni sepoy dari arah Batavia, masuk ke Champ de Mars
atau Lapangan Banteng sekarang kemudian mengarah ke jalan utama yang menuju
Bogor. Jalan itu melewati sepanjang kamp Perancis.
Saat dilihat pasukan Merah
Inggris bergerak mendekat jarak tembak meriam, lalu menyalaklah meriam tentara
gabungan Perancis dan Belanda dan segera pasukan Inggris menyebar di medan
perang dan melawan.
Untuk pertama kali sejak
pendaratan pasukan Inggris, terjadi pertempuran antara pasukan Perancis dan
Inggris. Ya 6 Hari dari 4 Agustus 1811 pertempuran pertama dalam perang
Napoleon di luar Eropa terjadi.
Pasukan Inggris segera menyadari
bahwa sisi kiri wilayah Perancis tidak dijaga. Semua batalyon dipusatkan di
jalan utama hingga meluber ke kanan ke arah timur dan Selokan, tapi di sebelah
kiri, tidak ada pasukan Perancis. Kosongnya sisi kiri segera dimanfaatkan
tentara Inggris menyusup ke dalam wilayah kosong itu.
Tepatnya di antara sungai
Ciliwung dan jalan tanah berdebu dengan cepat Inggris melihat bahwa di sana ada
kemungkinan melakukan manuver pasukan infantri mereka untuk mengepung pasukan
lawan.
Jenderal Janssens dan Jendral
Jumel mengawasi semua itu dari belakang dengan berlindung pada sebuah gundukan
tanah. Saat yang sama Jenderal Alberti maju ke dekat batalyon untuk memberi
saran dan semangat.
Infantri Perancis dan Belanda
dibantu empat meriam yang ditarik kuda mengambil tempat di jalan utama lalu
menghujani pasukan Inggris dengan pelurunya.
Dipihak lain para prajurit
infanteri Belanda tidak sempat beristirahat, mereka terus menembaki dengan
bedil semua tentara Inggris dan sepoy yang berada dalam jangkauan mereka.
Walau diserang dengan sengit,
pasukan Inggris melawan artileri Perancis yang ganas dengan dua meriam
berkaliber kecil namun gesit dan cekatan, meriam itu melumpuhkan para penembak
jitu Perancis yang ditempatkan di rumah dan gubuk.
Sementara tembakan diarahkan ke
tentara Perancis, sebuah detasemen Inggris menyerbu ke posisi itu dari kiri.
Pihak Perancis melawan dengan gigih, tetapi penembak meriam yang tidak
mempunyai kesempatan untuk menyerang diterjang infanteri ringan Inggris yang
datang dari samping.
Pasukan pembantu kavaleri yakni
orang Bugis, menghunus keris mereka untuk mempertahankan meriam itu, namun
dikalahkan. Bayonet Inggris yang panjang dengan mudah mengalahkan keris mereka.
Prajurit yang dikalahkan, mundur sambil mendorong kereta yang berisi mesiu
sampai ke kamp artileri Perancis.
Sang Gubernur Janssens salah
menduga dan mengira situasinya sedemikian gawat lalu memerintahkan pasukan
gabungan Perancis dan Belanda untuk mundur ke benteng berparit.
Kekacauan yang timbul sebagai
akibat perintah tak masuk akal itu harus dibayar mahal.
Pasukan Inggris mengejar pasukan
Perancis demikian dekat sehingga sebagian di antaranya mengikuti mereka
memasuki benteng dan secara spontan prajurit resimen kedua Perancis mulai
menembaki tentara berbaju merah itu yang terpaksa berhenti di jarak sekitar 200
meter dari pertahanan parit.
Selama berjam-jam prajurit
Perancis berhasil berhimpun di kamp setelah dengan berbagai cara menghindari
pasukan Inggris yang sekarang menduduki jalan masuk ke sana.
Menjelang sore para perwira
gabungan dari Perancis dan Belanda mulai menghitung prajurit yang tewas dan
mereka yang berhenti bertempur karena luka parah.
Jenderal Alberti terbunuh dengan
gagah berani, veteran perang Spanyol itu berusaha membangkitkan kembali
semangat tentara Perancis yang mulai luntur sampai tiba-tiba dia melihat sebuah
peleton berkuda yang berseragam hijau yang dikiranya berusaha untuk berlindung
dari hujan peluru.
Jenderal Alberti mengira itu
pasukan Pemburu Perancis padahal resimen garis depan ke-89 yang sedang menembus
garis pertahanan Perancis.
Sang Jenderal awalnya
memerintahkan mereka untuk kembali bertempur dalam bahasa Perancis, namun tak
di gubris yang ada ia terkena beberapa peluru tepat ditubuhnya hingga tewas.
Tercatat juga seorang kolonel
tewas sehingga menambah jumlah perwira yang gugur menjadi 17 dan 41 prajurit
yang gugur atau terluka dalam pertempuran itu.
Kerugian lebih besar di
bandingkan pihak Inggris yang kehilangan 5 perwira 29 prajurit.
Pertempuran hari ini selesai
menjelang malam, saat matahari terbenam pasukan Perancis, Belanda yang di bantu
Pribumi masih bertahan di sekitar benteng Kecil dekat istana Putih Daendels
sedang pihak Inggris sudah menguasai seluruh kawasan hutan yang kelak dikenal
sebagai lapangan Monas sekarang.
Saat tengah malam sepasukan
gabungan Perancis dan Belanda dengan diam-diam mengawal Gubernur Janssens ke
benteng terkuat mereka di Meester Cornelis dan kelak kembali terjadi
pertempuran meriam terbesar selama perang Napoleon di Jawa dekat benteng
tersebut yang lokasinya saat ini dekat kali Ciliwung dan jalan Pramuka.
*Sumber buku Perang Napoleon di Jawa 1811

Tidak ada komentar:
Posting Komentar