Kamis, 13 Agustus 2026

Pertempuran Pasukan Gabungan Perancis dan Belanda melawan Inggris dalam perang Napoleon di Jawa.

Sabtu Malam, 10 Agustus 1811, di bangunan bekas perwira ajudan Gubernur Jendral kawasan Weltevreden, Gubernur Jendral Janssens memimpin rapat para perwira gabungan Perancis dan Belanda nya guna membahas laju pasukan Merah Inggris yang sudah 2 langkah dihadapan mereka.

Seminggu lalu tepatnya tanggal 4 Agustus 1811, pasukan Merah Inggris mendarat di Cilincing dan tanpa halangan berarti mereka menguasai Batavia hanya dalam hitungan hari, tanggal 6 Agustus bahkan pasukan Inggris sudah berbaris menuju Struiswijk yang saat ini jalan persimpangan antara jalan Majapahit dan jalan Merdeka Utara dan tanggal 9 Agustus pagi serdadu Belanda sudah melihat tentara Merah Inggris di simpang Struiswijk yang dalam selemparan batu atau paling lambat besok mereka akan menyerbu Weltevreden.

Sebenarnya pihak tentara Inggris sendiri masih dalam kebingungan menghadapi kenyataan betapa mudahnya mereka menguasai Batavia tanpa perlawanan berarti dari pihak Perancis dan Belanda. Kebanyakan yang sakit dari pasukan Inggris justru karena penyakit tropis yang di duga karena lembab nya udara tapi tak ada luka atau tewas karena bertempur.

Para perwira Inggris banyak yang masih menduga bahwa tindakan musuh adalah taktik jebakan buat pasukan Inggris untuk masuk lebih jauh lalu Inggris akan dihabisi pada benteng terkuat mereka di Meester Cornelis arah ke selatan luar Batavia.

Namun itu semua masih dugaan, para perwira Inggris masih harus berfikir bagaimana kekuatan pasukan lawan maka dikirim beberapa mata-mata untuk mengetahui kekuatan pasukan Belanda dan Perancis tersebut.

Dari mata-mata yang dikirim tersebut, pihak Inggris bisa mengetahui kekuatan lawan mereka. Berapa tepatnya luas kamp mereka, jumlah benteng, kaliber meriam yang tersedia, kondisi cadangan perbekalan dan lainnya hingga pasukan Inggris bisa menusuk langsung ke arah pertahanan Belanda dan Perancis di Struiswijk.

Kembali ke rapat Gubernur Jendral Janssens dengan para perwiranya. Janssens sedang mendengarkan usulan para perwiranya tentang bagaimana mengatasi laju tentara Merah Inggris.

Seperti dugaan pihak Belanda dan Perancis keesokan hari pada Sabtu, 10 Agustus 1811, semenjak pagi buta, sekitar 2.500 serdadu Inggris, yakni sepoy dari arah Batavia, masuk ke Champ de Mars atau Lapangan Banteng sekarang kemudian mengarah ke jalan utama yang menuju Bogor. Jalan itu melewati sepanjang kamp Perancis.

Saat dilihat pasukan Merah Inggris bergerak mendekat jarak tembak meriam, lalu menyalaklah meriam tentara gabungan Perancis dan Belanda dan segera pasukan Inggris menyebar di medan perang dan melawan.

Untuk pertama kali sejak pendaratan pasukan Inggris, terjadi pertempuran antara pasukan Perancis dan Inggris. Ya 6 Hari dari 4 Agustus 1811 pertempuran pertama dalam perang Napoleon di luar Eropa terjadi.

Pasukan Inggris segera menyadari bahwa sisi kiri wilayah Perancis tidak dijaga. Semua batalyon dipusatkan di jalan utama hingga meluber ke kanan ke arah timur dan Selokan, tapi di sebelah kiri, tidak ada pasukan Perancis. Kosongnya sisi kiri segera dimanfaatkan tentara Inggris menyusup ke dalam wilayah kosong itu.

Tepatnya di antara sungai Ciliwung dan jalan tanah berdebu dengan cepat Inggris melihat bahwa di sana ada kemungkinan melakukan manuver pasukan infantri mereka untuk mengepung pasukan lawan.

Jenderal Janssens dan Jendral Jumel mengawasi semua itu dari belakang dengan berlindung pada sebuah gundukan tanah. Saat yang sama Jenderal Alberti maju ke dekat batalyon untuk memberi saran dan semangat.

Infantri Perancis dan Belanda dibantu empat meriam yang ditarik kuda mengambil tempat di jalan utama lalu menghujani pasukan Inggris dengan pelurunya.

Dipihak lain para prajurit infanteri Belanda tidak sempat beristirahat, mereka terus menembaki dengan bedil semua tentara Inggris dan sepoy yang berada dalam jangkauan mereka.

Walau diserang dengan sengit, pasukan Inggris melawan artileri Perancis yang ganas dengan dua meriam berkaliber kecil namun gesit dan cekatan, meriam itu melumpuhkan para penembak jitu Perancis yang ditempatkan di rumah dan gubuk.

Sementara tembakan diarahkan ke tentara Perancis, sebuah detasemen Inggris menyerbu ke posisi itu dari kiri. Pihak Perancis melawan dengan gigih, tetapi penembak meriam yang tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang diterjang infanteri ringan Inggris yang datang dari samping.

Pasukan pembantu kavaleri yakni orang Bugis, menghunus keris mereka untuk mempertahankan meriam itu, namun dikalahkan. Bayonet Inggris yang panjang dengan mudah mengalahkan keris mereka. Prajurit yang dikalahkan, mundur sambil mendorong kereta yang berisi mesiu sampai ke kamp artileri Perancis.

Sang Gubernur Janssens salah menduga dan mengira situasinya sedemikian gawat lalu memerintahkan pasukan gabungan Perancis dan Belanda untuk mundur ke benteng berparit.

Kekacauan yang timbul sebagai akibat perintah tak masuk akal itu harus dibayar mahal.

Pasukan Inggris mengejar pasukan Perancis demikian dekat sehingga sebagian di antaranya mengikuti mereka memasuki benteng dan secara spontan prajurit resimen kedua Perancis mulai menembaki tentara berbaju merah itu yang terpaksa berhenti di jarak sekitar 200 meter dari pertahanan parit.

Selama berjam-jam prajurit Perancis berhasil berhimpun di kamp setelah dengan berbagai cara menghindari pasukan Inggris yang sekarang menduduki jalan masuk ke sana.

Menjelang sore para perwira gabungan dari Perancis dan Belanda mulai menghitung prajurit yang tewas dan mereka yang berhenti bertempur karena luka parah.

Jenderal Alberti terbunuh dengan gagah berani, veteran perang Spanyol itu berusaha membangkitkan kembali semangat tentara Perancis yang mulai luntur sampai tiba-tiba dia melihat sebuah peleton berkuda yang berseragam hijau yang dikiranya berusaha untuk berlindung dari hujan peluru.

Jenderal Alberti mengira itu pasukan Pemburu Perancis padahal resimen garis depan ke-89 yang sedang menembus garis pertahanan Perancis.

Sang Jenderal awalnya memerintahkan mereka untuk kembali bertempur dalam bahasa Perancis, namun tak di gubris yang ada ia terkena beberapa peluru tepat ditubuhnya hingga tewas.

Tercatat juga seorang kolonel tewas sehingga menambah jumlah perwira yang gugur menjadi 17 dan 41 prajurit yang gugur atau terluka dalam pertempuran itu.

Kerugian lebih besar di bandingkan pihak Inggris yang kehilangan 5 perwira 29 prajurit.

Pertempuran hari ini selesai menjelang malam, saat matahari terbenam pasukan Perancis, Belanda yang di bantu Pribumi masih bertahan di sekitar benteng Kecil dekat istana Putih Daendels sedang pihak Inggris sudah menguasai seluruh kawasan hutan yang kelak dikenal sebagai lapangan Monas sekarang.

Saat tengah malam sepasukan gabungan Perancis dan Belanda dengan diam-diam mengawal Gubernur Janssens ke benteng terkuat mereka di Meester Cornelis dan kelak kembali terjadi pertempuran meriam terbesar selama perang Napoleon di Jawa dekat benteng tersebut yang lokasinya saat ini dekat kali Ciliwung dan jalan Pramuka.

 

*Sumber buku Perang Napoleon di Jawa 1811

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertempuran Pasukan Gabungan Perancis dan Belanda melawan Inggris dalam perang Napoleon di Jawa.

Sabtu Malam, 10 Agustus 1811, di bangunan bekas perwira ajudan Gubernur Jendral kawasan Weltevreden, Gubernur Jendral Janssens memimpin ra...