Jumat, 03 Juli 2026

Saat Agen Polisi Hudaya Sumarya DKK Gagalkan Kudeta Pertama 3 Juli 1949

Peran krusial Polisi Istimewa yang juga jarang diingat orang adalah saat menggagalkan seorang pemberontak membawa senjata ke hadapan Presiden Soekarno.

Seperti kisah ini,

Jendral Mayor Soedarsono berjalan mantap dan merasa gagah sesaat memasuki pintu utama istana Gedung Agung di Jogjakarta.

Pagi itu tanggal 3 Juli 1946, saat pagi baru beranjak siang saat itu di teras utama istana Gedung Agung ada tiga anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden yang sedang duduk di teras yakni Agen Polisi Prihatin, Agen Polisi Oding Suhendar dan Agen Polisi Hudaya Sumarya.

Melihat Jendral Mayor Soedarsono menaiki tangga teras, ketiga anggota Polisi itu berdiri serentak dan memberi Hormat!.

Jenderal Mayor Soedarsono seakan tak melihat mereka bertiga, langkahnya terus saja hendak masuk ke ruangan Istana, namun sebelum kaki sang Jenderal Mayor tadi melangkah lebih jauh.

Agen Polisi Hudaya Sumarya menyusul langkah Soedarsono dan menukas, "Maaf Pak, Bapak harus menghadap Ajudan Presiden dahulu sebelum masuk ke dalam!".

Jenderal Mayor Soedarsono menoleh pada anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden ini walau tak berkata apa apa, namun tak urung langkahnya terhenti juga.

Lalu kedua polisi anggota Pengawal Pribadi Presiden yang lain menyusul dibelakang Agen Polisi Hudaya Sumarya.

Soedarsono masih "ngotot" hendak bertemu Presiden dengan alasan penting dan mendesak! Tetapi ketiga Polisi ini tetap tak mengizinkan sang Jenderal masuk sebelum sang Jenderal ini bertemu dulu dengan ajudan Presiden karena itu protokolnya.

Agen Polisi Oding malah lebih berani lagi dengan meminta pistol Soedarsono ditinggal di pos depan karena aturan nya tak ada yg boleh membawa senjata dihadapan Presiden.

Rupanya sang Jenderal Mayor Soedarsono memang tak menaruh pistol nya dan tetap menyandang pistol itu di pinggangnya dan ini bagi Anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden sangat berbahaya!.

Setelah agak lama berdebat datang juga ajudan Presiden yakni pak Soegandhi setelah diterima ajudan itu ketiga Polisi itu menunggu dengan tetap waspada.

Namun kembali saat sang Jenderal Mayor Soedarsono hendak masuk Istana diiringi pak Soegandhi, tiba tiba agen Polisi Oding Suhendar dengan sopan namun tegas berkata.

"Maaf Pak, tolong senjata bapak taruh di sini!".

Dengan mata waspada dan tangan menunjuk pada pistol di pinggang sang Jenderal Mayor tadi.

Walau dengan muka masam, Soedarsono menyerahkan pistolnya pada Hudaya Sumarya, baru ia ke dalam istana.

Tak lama para Polisi Pengawal Pribadi Presiden mendapat perintah untuk menangkap Jenderal Mayor Soedarsono tadi karena tuduhan makar.

Untunglah Agen Polisi Hudaya Sumarya tadi waspada, jika tidak, entah apa yang terjadi.

Rupanya Jenderal Mayor Soedarsono tadi salah satu yang hendak mengadakan coup de etat pada hari itu yang kelak tercatat sebagai kup pertama dalam sejarah Indonesia.

Kabar adanya gerakan yang "tak jelas arahnya" ini sudah di baca dan di antisipasi oleh komandan Pengawal Pribadi Presiden Soekarno yakni Mangil Martowidjoyo, ia segera menginstruksikan semua anak buahnya agar waspada dan perintahnya jangan ada yang masuk istana dengan senjata dibawa ditekankan benar oleh Mangil Martowidjoyo ini.

Maka tak heran Agen Polisi Sumeria sudah bersiap karena sudah di wanti-wanti pak Mangil Martowidjoyo.

Dalam photo diatas ini Hudaya Sumarya melambaikan tangan saat akan ikut operasi Trikora ke Irian dan nanti pasukan yang ia pimpin mengepung pasukan Marinir Belanda dalam pertempuran Rumbati di Irian Barat.

*Sumber buku Mangil Martowidjojo Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saat Agen Polisi Hudaya Sumarya DKK Gagalkan Kudeta Pertama 3 Juli 1949

Peran krusial Polisi Istimewa yang juga jarang diingat orang adalah saat menggagalkan seorang pemberontak membawa senjata ke hadapan Preside...