Peran krusial Polisi Istimewa
yang juga jarang diingat orang adalah saat menggagalkan seorang pemberontak
membawa senjata ke hadapan Presiden Soekarno.
Seperti kisah ini,
Jendral Mayor Soedarsono
berjalan mantap dan merasa gagah sesaat memasuki pintu utama istana Gedung
Agung di Jogjakarta.
Pagi itu tanggal 3 Juli 1946,
saat pagi baru beranjak siang saat itu di teras utama istana Gedung Agung ada
tiga anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden yang sedang duduk di teras yakni Agen Polisi Prihatin, Agen Polisi Oding
Suhendar dan Agen Polisi Hudaya Sumarya.
Melihat Jendral Mayor Soedarsono
menaiki tangga teras, ketiga anggota Polisi itu berdiri serentak dan memberi
Hormat!.
Jenderal Mayor Soedarsono seakan
tak melihat mereka bertiga, langkahnya terus saja hendak masuk ke ruangan
Istana, namun sebelum kaki sang Jenderal Mayor tadi melangkah lebih jauh.
Agen Polisi Hudaya Sumarya
menyusul langkah Soedarsono dan menukas, "Maaf Pak, Bapak harus menghadap
Ajudan Presiden dahulu sebelum masuk ke dalam!".
Jenderal Mayor Soedarsono
menoleh pada anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden ini walau tak berkata apa
apa, namun tak urung langkahnya terhenti juga.
Lalu kedua polisi anggota Pengawal
Pribadi Presiden yang lain menyusul dibelakang Agen Polisi Hudaya Sumarya.
Soedarsono masih
"ngotot" hendak bertemu Presiden dengan alasan penting dan mendesak!
Tetapi ketiga Polisi ini tetap tak mengizinkan sang Jenderal masuk sebelum sang
Jenderal ini bertemu dulu dengan ajudan Presiden karena itu protokolnya.
Agen Polisi Oding malah lebih
berani lagi dengan meminta pistol Soedarsono ditinggal di pos depan karena
aturan nya tak ada yg boleh membawa senjata dihadapan Presiden.
Rupanya sang Jenderal Mayor
Soedarsono memang tak menaruh pistol nya dan tetap menyandang pistol itu di
pinggangnya dan ini bagi Anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden sangat
berbahaya!.
Setelah agak lama berdebat
datang juga ajudan Presiden yakni pak Soegandhi setelah diterima ajudan itu
ketiga Polisi itu menunggu dengan tetap waspada.
Namun kembali saat sang Jenderal
Mayor Soedarsono hendak masuk Istana diiringi pak Soegandhi, tiba tiba agen
Polisi Oding Suhendar dengan sopan namun tegas berkata.
"Maaf Pak, tolong senjata
bapak taruh di sini!".
Dengan mata waspada dan tangan
menunjuk pada pistol di pinggang sang Jenderal Mayor tadi.
Walau dengan muka masam,
Soedarsono menyerahkan pistolnya pada Hudaya
Sumarya, baru ia ke dalam istana.
Tak lama para Polisi Pengawal
Pribadi Presiden mendapat perintah untuk menangkap Jenderal Mayor Soedarsono
tadi karena tuduhan makar.
Untunglah Agen Polisi Hudaya
Sumarya tadi waspada, jika tidak, entah apa yang terjadi.
Rupanya Jenderal Mayor
Soedarsono tadi salah satu yang hendak mengadakan coup de etat pada hari itu
yang kelak tercatat sebagai kup pertama dalam sejarah Indonesia.
Kabar adanya gerakan yang
"tak jelas arahnya" ini sudah di baca dan di antisipasi oleh komandan
Pengawal Pribadi Presiden Soekarno yakni Mangil Martowidjoyo, ia segera menginstruksikan
semua anak buahnya agar waspada dan perintahnya jangan ada yang masuk istana
dengan senjata dibawa ditekankan benar oleh Mangil Martowidjoyo ini.
Maka tak heran Agen Polisi Sumeria sudah bersiap karena sudah di wanti-wanti pak Mangil Martowidjoyo.
Dalam photo diatas ini Hudaya
Sumarya melambaikan tangan saat akan ikut operasi Trikora ke Irian dan nanti
pasukan yang ia pimpin mengepung pasukan Marinir Belanda dalam pertempuran Rumbati
di Irian Barat.
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar