Saat Panglima KNIL dijabat
Jenderal Mayor Bernschot yang seorang Indo Belanda, Sri Suhunan Paku Buwono X
saat pertemuan mereka pernah berujar begini,
"Tuan Bernschot, tuan
seorang campuran Indo-Belanda yang menjadi Panglima Tentara disini, ya?", ujar Sultan Solo
pada sang Panglima KNIL tersebut, lalu dijawab oleh Bernshcot,
"Betul, tuan Sunan!",
lalu dibalas oleh sang ayah dari GPH Djatikusumo ini,
"Bagus, tahukah tuan
Bernschot, selama saya masih hidup, tidak mungkin perang akan sampai disini.
Entah kalau saya sudah tidak ada lagi", tandas kata Paku Buwono X. Sedang
Bernschot hanya bisa menjawab, "Semoga, tuan Sunan".
Namun diluar dugaan Bernschot,
Raja Jawa ini berujar, "Kalau saya sudah tidak ada, belanda bajingan akan
lari terbirit- birit dan biar mereka mencebur ke laut".
Panglima KNIL tersebut hanya
bisa diam dan kaget dalam hatinya karena baru kali ini ada Raja di Hindia
Belanda berani mengatakan bajingan kepada Belanda.
Rupanya Bernschot lapor kepada
Gubernur Jenderal Tjarda di Batavia, selain karena ucapan tersebut, Paku Buwono
X menolak untuk membuat tempat perlindungan dibawah tanah.
Saat menghadap Sinuwun, Gubernur Jenderal
Tjarda di Batavia, sang Gubernur Jenderal Tjarda meminta pada Paku Buwono X
dengan berkata, "Tuan harus membuat perlindungan, kalau tidak, bagaimaan
rakyat. Tuan harus memberi contoh".
Sedang sang Sri Susuhunan Paku
Buwono X tetap kekeh tak akan membangun bungker perlindungan bawah tanah dan
kembali mengatakan pada sang GubJen,
"Selama saya masih hidup,
tidak mungkin perang akan sampai disini".
Pendirian Sunan Solo ini tak
berubah hingga ia mangkat dan memang sampai beliau wafat perang belum masuk ke
Jawa.
Dalam foto tampak Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer akan menghadap Sinuwun PB X
Sumber Buku GPH DJATIKUSUMO
Prajurit - Pejuang Keraton Surakarta
,_gouverneur_van_Jogjakarta,_bij_de_begroeting_van_sultan_Hamengkoe_Boewono_VIII_van_Jogjakarta_en_soesoehoenan_Pakoe_Boewono_X_van_So,_KITLV_49806.t.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar