Selasa, 05 Mei 2026

Pengawal Menyeret Bung karno Karena Ada Granat Tapi Bung Karno Protes " Jangan Cepat -cepat " ( Ada granat tapi si Bung masih santai )

Agen Polisi Sudiyo masih berdiri dengan mata waspada di pintu mobil kepresidenan yang ditumpangi Bung Karno, ia sesekali memandang sekelilingnya dengan waspada lalu menatap rekannya Agen Polisi Oding Suhendar yang juga berdiri di sebelahnya. Bung Karno masih berjalan perlahan-lahan keluar area Sekolah Cikini menuju mobil setelah menghadiri undangan guru disana dimana putri Bung Karno sekolah di perguruan tersebut.

Sesaat Bung Karno masuk mobil dan terdengar aba-aba "Hormat grak!", tiba-tiba terdengar suara ledakan memekakan telinga. Sigap Sudiyo dan Oding menarik badan Presiden Soekarno dengan sedikit sentakan keras dan menyerat ke lokasi aman di sebrang sekolah Perguruan Cikini.

Diingat benar oleh Sudiyo bagaimana Bung Karno "protes" dengan berucap sambil berlari karena di seret, "Yo, jangan cepat-cepat", sambil masih melindungi bung Karno Sudiyo menjawab, “Pak, itu granat!”.

Oding Suhendar dan Sudiyo waktu terjadinya pelemparan granat sedang berdiri di kanan kiri Bung Karno dan di dekat pintu mobil Bung Karno, untuk membuka jalan dari desakan anak-anak sekolah Cikini yang sedang mengantar Bung Karno ke mobilnya di depan sekolah tersebut.

Ledakan granat pertama tepat di samping Bung Karno. Secepat kilat Sudiyo dan Oding Suhendar merangkul dan menarik Bung Karno dengan cara keras sekali dan dibawa lari dengan membungkuk meninggalkan mobil dan menyeberang Jalan Cikini menuju rumah di depan sekolah Cikini sebagai tempat penyelamatan Bung Karno.

Dibelakang mereka masih terdengar bunyi ledakan-ledakan granat disertai teriakan dan tangis anak-anak sekolah yang terluka oleh pecahan-pecahan granat tersebut. Ketika Bung Karno, Sudiyo dan Oding Suhendar sudah sampai di seberang Jalan Cikini, terus masuk ke dalam halaman rumah menuju serambi belakang rumah tersebut, untuk mencari perlindungan bagi diri pribadi Bung Karno. Sudiyo segera mengambil kursi yang ada di sekitar tempat tersebut dan diletakkan di depan lemari yang juga ada di sekitar tempat tersebut untuk dapat dipergunakan melindungi Bung Karno untuk sementara.

Selanjutnya Sudiyo memadamkan semua lampu yang ada di sekitarnya. Sudiyo kemudian menyuruh Ramelan, yang waktu itu sedang bertugas berpakaian dinas kebesaran memakai jas dan bertugas duduk di dalam mobil Presiden dalam pengawalan tersebut, untuk meneliti dan memeriksa pagar halaman rumah di bagian belakang, apakah ada kemungkinan Bung Karno dapat lewat melalui pagar halaman tersebut untuk pergi ke lain tempat yang lebih aman lagi.

Tiba-tiba Oding Suhendar sudah menggeletak di samping Bung Karno. Rupanya Oding yang sudah tidak tahan lagi karena luka-luka parah kena pecahan granat dan mengeluarkan darah terus-menerus. Oding Suhendar berkata kepada Sudiyo, "Yo, jaga Bung Karno baik-baik, saya sudah tidak tahan lagi!", sambil merobohkan badannya ke tanah. Mendengar kata-kata Oding Suhendar itu, Bung Karno berkata, "Ding, kuat-kuatkan, sebentar lagi akan mendapat bantuan.", sedang Oding mencoba menahan sakit sambil menatap sang Presiden.

Tidak lama nyonya rumah mendekati Oding Suhendar, tetapi dibentak oleh Sudiyo sambil mengacungkan laras pistolnya dan berkata, "Jangan dekat-dekat, saya tembak kamu!", maaka nyonya rumah ini berkata, "Tuan, saya menolong kawan Tuan yang pingsan itu."

Selanjutnya, nyonya tersebut mendekati Oding Suhendar dan membalut luka-lukanya dengan kain putih yang dia sobek dari kain sepereinya untuk dapat menolong Oding Suhendar yang sudah terlalu banyak mengeluarkan darah. Kemudian datang Ramelan dan melaporkan, bahwa pagar halaman rumah tersebut terlalu tinggi dan tidak mungkin Bung Karno dapat memanjat pagar tersebut.

Sampai kemudian Mangil Martowidjoyo datang dan melihat kemeja Sudiyo penuh dengan darah, tetapi saya tidak menemukan luka di badan Sudiyo serta tidak mengetahui darah siapa yang banyak di kemejanya itu.

Saat berhadapan dengan Mangil, Bung Karno bertanya, "Mangil. Apakah sudah datang bantuan?" lalu dijawab Mangil, "Sudah, Pak."

Bung Karno kembali bertanya, "Bagaimana anak-anak semua selamat?" dan kembali dijawab Mangil, "Semua selamat dan sudah pulang kembali ke Istana."

Mangil meminta kepada Bung Karno untuk pulang kembali ke Istana Merdeka dan Bung Karno menurut kemudian berdiri dari tempat duduknya, memegangi pundak Mangil sembari berjalan menuju mobil yang telah tersedia di Jalan Cikini. Sedan tersebut adalah sedan cadangan dalam rombongan Presiden. Setelah Bung Karno masuk ke dalam mobil dan setelah pengawal sudah siap maka Presiden terus berangkat menuju Istana Merdeka dengan kecepatan tinggi.

Peristiwa Cikini terjadi tanggal 30 November 1957, sebuah upaya pembunuhan Presiden Soekarno oleh beberapa oknum yang membuat belasan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Ajun Komisaris Polisi Mangil Martowidjoyo sendiri saat peristiwa penggranatan terhadap Presiden Soekarno di sekolah Perguruan Cikini sedang ijin tak mengawal karena mengantar anaknya sakit, namun belum selesai urusan dengan sakit sang anak, ia dikabari tentang peristiwa di Cikini maka Mangil langsung menuju lokasi kejadian.

 

Sekilas peran Para Polisi Pengawal Presiden Republik Indonesia di masa Presiden Soekarno.

Sumber buku H. Mangil Martowidjoyo

Kesaksian Tentang Bung Karno

1945 - 1967



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengawal Menyeret Bung karno Karena Ada Granat Tapi Bung Karno Protes " Jangan Cepat -cepat " ( Ada granat tapi si Bung masih santai )

Agen Polisi Sudiyo masih berdiri dengan mata waspada di pintu mobil kepresidenan yang ditumpangi Bung Karno, ia sesekali memandang sekelil...