Agen Polisi Sudiyo masih berdiri
dengan mata waspada di pintu mobil kepresidenan yang ditumpangi Bung Karno, ia
sesekali memandang sekelilingnya dengan waspada lalu menatap rekannya Agen
Polisi Oding Suhendar yang juga berdiri di sebelahnya. Bung Karno masih
berjalan perlahan-lahan keluar area Sekolah Cikini menuju mobil setelah
menghadiri undangan guru disana dimana putri Bung Karno sekolah di perguruan
tersebut.
Sesaat Bung Karno masuk mobil
dan terdengar aba-aba "Hormat grak!", tiba-tiba terdengar suara ledakan
memekakan telinga. Sigap Sudiyo dan Oding menarik badan Presiden Soekarno
dengan sedikit sentakan keras dan menyerat ke lokasi aman di sebrang sekolah
Perguruan Cikini.
Diingat benar oleh Sudiyo
bagaimana Bung Karno "protes" dengan berucap sambil berlari karena di
seret, "Yo, jangan cepat-cepat", sambil masih melindungi bung Karno
Sudiyo menjawab, “Pak, itu granat!”.
Oding Suhendar dan Sudiyo waktu
terjadinya pelemparan granat sedang berdiri di kanan kiri Bung Karno dan di
dekat pintu mobil Bung Karno, untuk membuka jalan dari desakan anak-anak
sekolah Cikini yang sedang mengantar Bung Karno ke mobilnya di depan sekolah
tersebut.
Ledakan granat pertama tepat di
samping Bung Karno. Secepat kilat Sudiyo dan Oding Suhendar merangkul dan
menarik Bung Karno dengan cara keras sekali dan dibawa lari dengan membungkuk
meninggalkan mobil dan menyeberang Jalan Cikini menuju rumah di depan sekolah
Cikini sebagai tempat penyelamatan Bung Karno.
Dibelakang mereka masih
terdengar bunyi ledakan-ledakan granat disertai teriakan dan tangis anak-anak
sekolah yang terluka oleh pecahan-pecahan granat tersebut. Ketika Bung Karno,
Sudiyo dan Oding Suhendar sudah sampai di seberang Jalan Cikini, terus masuk ke
dalam halaman rumah menuju serambi belakang rumah tersebut, untuk mencari
perlindungan bagi diri pribadi Bung Karno. Sudiyo segera mengambil kursi yang
ada di sekitar tempat tersebut dan diletakkan di depan lemari yang juga ada di
sekitar tempat tersebut untuk dapat dipergunakan melindungi Bung Karno untuk
sementara.
Selanjutnya Sudiyo memadamkan
semua lampu yang ada di sekitarnya. Sudiyo kemudian menyuruh Ramelan, yang
waktu itu sedang bertugas berpakaian dinas kebesaran memakai jas dan bertugas
duduk di dalam mobil Presiden dalam pengawalan tersebut, untuk meneliti dan
memeriksa pagar halaman rumah di bagian belakang, apakah ada kemungkinan Bung
Karno dapat lewat melalui pagar halaman tersebut untuk pergi ke lain tempat
yang lebih aman lagi.
Tiba-tiba Oding Suhendar sudah
menggeletak di samping Bung Karno. Rupanya Oding yang sudah tidak tahan lagi
karena luka-luka parah kena pecahan granat dan mengeluarkan darah
terus-menerus. Oding Suhendar berkata kepada Sudiyo, "Yo, jaga Bung Karno
baik-baik, saya sudah tidak tahan lagi!", sambil merobohkan badannya ke tanah.
Mendengar kata-kata Oding Suhendar itu, Bung Karno berkata, "Ding,
kuat-kuatkan, sebentar lagi akan mendapat bantuan.", sedang Oding mencoba
menahan sakit sambil menatap sang Presiden.
Tidak lama nyonya rumah
mendekati Oding Suhendar, tetapi dibentak oleh Sudiyo sambil mengacungkan laras
pistolnya dan berkata, "Jangan dekat-dekat, saya tembak kamu!", maaka
nyonya rumah ini berkata, "Tuan, saya menolong kawan Tuan yang pingsan
itu."
Selanjutnya, nyonya tersebut
mendekati Oding Suhendar dan membalut luka-lukanya dengan kain putih yang dia
sobek dari kain sepereinya untuk dapat menolong Oding Suhendar yang sudah
terlalu banyak mengeluarkan darah. Kemudian datang Ramelan dan melaporkan,
bahwa pagar halaman rumah tersebut terlalu tinggi dan tidak mungkin Bung Karno
dapat memanjat pagar tersebut.
Sampai kemudian Mangil
Martowidjoyo datang dan melihat kemeja Sudiyo penuh dengan darah, tetapi saya
tidak menemukan luka di badan Sudiyo serta tidak mengetahui darah siapa yang
banyak di kemejanya itu.
Saat berhadapan dengan Mangil,
Bung Karno bertanya, "Mangil. Apakah sudah datang bantuan?" lalu
dijawab Mangil, "Sudah, Pak."
Bung Karno kembali bertanya,
"Bagaimana anak-anak semua selamat?" dan kembali dijawab Mangil,
"Semua selamat dan sudah pulang kembali ke Istana."
Mangil meminta kepada Bung Karno
untuk pulang kembali ke Istana Merdeka dan Bung Karno menurut kemudian berdiri
dari tempat duduknya, memegangi pundak Mangil sembari berjalan menuju mobil
yang telah tersedia di Jalan Cikini. Sedan tersebut adalah sedan cadangan dalam
rombongan Presiden. Setelah Bung Karno masuk ke dalam mobil dan setelah
pengawal sudah siap maka Presiden terus berangkat menuju Istana Merdeka dengan
kecepatan tinggi.
Peristiwa Cikini terjadi tanggal
30 November 1957, sebuah upaya pembunuhan Presiden Soekarno oleh beberapa oknum
yang membuat belasan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Ajun Komisaris
Polisi Mangil Martowidjoyo sendiri saat peristiwa penggranatan terhadap
Presiden Soekarno di sekolah Perguruan Cikini sedang ijin tak mengawal karena
mengantar anaknya sakit, namun belum selesai urusan dengan sakit sang anak, ia
dikabari tentang peristiwa di Cikini maka Mangil langsung menuju lokasi
kejadian.
Sekilas
peran Para Polisi Pengawal Presiden Republik Indonesia di masa Presiden
Soekarno.
Sumber
buku H. Mangil Martowidjoyo
Kesaksian
Tentang Bung Karno
1945
- 1967

Tidak ada komentar:
Posting Komentar