Rabu, 25 Agustus 2021

Sejarah Singkat Tanah ( D ) Jawa

 


Membongkar Rahasia Kubur Para Leluhur Penguasa Tanah Dhawa (saat ini disebut NKRI) yang Nyaris Hilang dari Sejarah

Oleh : Ravie Ananda

 

Peninggalan para Leluhur Tanah Dhawa NKRI selain candi, pusaka,dan harta adalah karya sastra. Karya sastra Masa Lalu yang beraneka ragam selalu mempunyai maksud tersembunyi yang jarang sekali bisa ditangkap jika para pembaca saat ini hanya melihat dan mempelajari dari bentuk fisiknya saja, tanpa mempelajari pola kehidupan dan spiritual masa lalu Tanah Dhawa. Hal ini menimbulkan kesalahan tafsir dan bahkan hilangnya sejarah asli Tanah Dhawa. Belum lagi adanya bangsa pendatang yang sengaja mengubah babad asli demi kepentingan kekuasaannya di Tanah Dhawa yang sebelumnya telah misuwur ini. Mengapa para Leluhur kita selalu menaruh maksud tersembunyi dalam setiap karya sastra baik babad maupun kidung–kidungnya? Jawabnya adalah “Karena Kesantunan Masa Lalu dimana sudah menjadi budaya bahwa mengungkapkan sesuatu secara langsung merupakan suatu hal yang tidak sopan”. Inilah faktor utama yang sebenarnya harus diperhatikan oleh para peneliti Sastra Jawa, sehingga mereka tidak hanya dituntut untuk ahli dalam hal baca tulis Jawa dan sastra Jawa Kuno saja, melainkan diperlukan juga kejelian dan pengetahuan yang luas serta nglakoni Jawane (baik tradisinya, ilmunya, tirakatnya, maupun keyakinannya terhadap Tuhan dan kehidupan).

 

Penulis akan berusaha mengupas sedikit Sejarah Tokoh Luhur kita yang nyaris hilang, bahkan ada di antaranya yang telah hilang sama sekali dari catatan sejarah Tanah Dhawa. Tokoh sejarah tersebut terdapat dalam Kidhungan Padanghyangan yang kini benar – benar hanya diketahui oleh mayoritas masyarakat Jawa dan para ahli sastranya sebagai suatu cerita nyata (sesungguhnya tanpa memuat maksud yang sangat lain di dalamnya) atau bahkan kemudian dijadikan suatu mantra tak berdasar untuk mengusir mahluk halus (suatu hal yang klenik dan sangat menyedihkan).

 

Semoga Yang Kuasa segera mengembalikan keluhuran bangsa ini

 

Semoga Para Leluhur berkenan penulis buka kesejatiannya.

 

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN:’the Rising Of Javanesse Forefathers from the Resting Places’

 

Kidhungan Padanghyangan berarti nyanyian yang

menceritakan para leluhur (penguasa;Padang berarti

terang/menerangkan, Hyang (an) berarti

Luhur/Keluhuran, menerangkan keluhuran), kidung ini

sebenarnya memberitahukan dan menerangkan nama–nama

penguasa di Jawa pada masa lampau beserta

keluhurannya secara tersirat. Akan tetapi karena

kehalusan sastra penulisnya yang menggunakan

sandi/bahasa kiasan maka tokoh–tokoh yang

disebutkan dalam kidung tersebut sampai saat ini

hanya dianggap sebagai mahluk halus (bukan tokoh

manusia). Sesungguhnya pada awal judul, oleh si

penulis kidung telah disertakan kunci pemahaman

akan tetapi karena sifatnya yang sangat halus yakni

dengan menyebutkan mereka semua sebagai ratunya

lelembut di berbagai daerah, akhirnya terciptalah

pencitraan luar bahwa mereka juga termasuklelembut.

Tokoh–tokoh yang tercitra sebagi lelembut dalam

kidung ini memang akhirnya tergolong sebagai Gaib

(bangsa Halus) dikarenakan mereka memilih jalan

Moksha/Rijalulghaib/Nyiluman pada akhir hidupnya

(bukan mati meninggalkan raganya), akan tetapi yang

perlu diingat bahwa pada awalnya mereka adalah

manusia linuwih, tokoh linuwih di daerah

masing–masing yang tentunya tidak bisa terlepas

dari balutan sejarah yang akhirnya kini pun hilang.

Sejarah–sejarah yang telah hilang inilah yang

mayoritas menyimpan bukti keagungan Tanah Dhawa

NKRI masalalu dimana akhirnya ketika bagian–bagian

dari kebudayaan yang hilang tersebut muncul,

kemudian menjadi korban penyelewengan sejarah oleh

para ahli yang berkuasa (sebab kurangnya pemahaman

mereka terhadap sisi non materi). Maka terciptalah

kejayaan sebuah wangsa Mataram Kuno (sebab selalu

dan selalu setiap ada penemuan situs, candi, dan

yang lainnya yang sangat dimungkinkan semua itu

berasal dari masa jauh sebelum masehi, semua

dikebiri ‘diklaim’ menjadi benda–benda Mataram

Kuno). Sangat tragis sekali tentunya. Sejarah Asli

Tanah ini semakin terkubur.

 

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN

Para ratuning lelembut ing nungsa Jawa Kinidungake

sinom

1. Apuranen sun angetang,lelembut sanungsa Jawi,

kang rumeksa ing nagara, para ratuning dedemit,

agung sawabe ugi,yen apal sadayanipun, apan dadya

tetulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah

sangar dadi tawa.

Maafkan aku menghitung lelembut (sesuatu yang

bersifat lembut/halus/rahasia/samar) seluruh pulau

Jawa yang berkuasa di Negara, para ratunya dedemit,

besar dayanya juga, jika hafal semuanya, bisa

dijadikan penolak, bisa juga untuk

menunggu/mengobati orang sakit, kayu angker tanah

mengerikan jadi tawar (-Ravie Ananda-)

2.Kang rumiyin ing bang wetan, Durganeluh Maspahit

aran raja Bahureksa,iku ratuning dedemit,

Balambangan winarni,awasta pun Balabatu,kang

rumeksa Blambangan,Buta Locaya Kediri,pun Sikorep

lelembut ing Panaraga.

-Yang pertama di sebelah timur, Durganeluh

Majapahit bernama Raja Bahureksa, itu ratunya

dedemit,Balambangan bermacam–macam, yang dikenal

yaitu Balabatu yang menguasai Blambangan, Buta

Locaya di Kediri, sedangkan Sikorep lelembut di

Panaraga (Ponorogo) (-Ravie Ananda-)

-Buta Locaya adalah Patih dari Prabu Jayabaya yang

pada masa hidupnya bernama Kyai Daha (cikal bakal

pendiri daerah Kediri). Setelah mokshanya Prabu

Jayabaya,Kyai Daha pun ikut moksha dan memilih

menjadi semara bumi (tidak sampuna jati) dengan

tujuan untuk menjaga tanah Kediri (-Ravie Ananda-)

3.Sidakari ing Pacitan, Kaduwang si Klentingmungil,

Endrayeksa ing Magetan,Jenggala si Tunjungpuri,

Prangmuka Surabanggi, Pananggungan Abur-abur,

Sapujagad ing Jipang, Madiun si Kalaseksa, ingkang

Prabuyekti aneng pasuruhan,

-Sidakari di Pacitan, Kaduwang si Klentingmungil,

Endrayeksa di Magetan, Jenggala si Tunjungpuri,

Prangmuka Surabanggi (Surabaya), Pananggungan

Abur–abur, Sapujagad di Jipang, Madiun si

Kalaseksa, si Prabu sesungguhnya di Pasuruhan,

(-Ravie Ananda-)

4. Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi,

Macan Guguh Garobogan, Kalajonggo, Singasari,

Sarengat Barukuping, Balitar Sang Kalakatung,

Butakuda ing Rama, Kalangbretsi Sekargambir, Carub

amor ingkang ana ing Lamongan.

-Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi,

Macan Guguh Garobogan (Grobogan), Kalajonggo

Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar (Blitar)

Sang Kalakatung (Betara Katong),Butakuda di Rama,

Kalangbretsi Sekargambir, Carub menyatu dengan yang

ada di Lamongan,(-Ravie Ananda-)

5.Gurnita ing Puspalaya, si Lampuran Pilangputih,

Kacokan aneng Balora, Gambiran Sang Kaladurgi,

Kedunggede Nyi Jenggi,ing Babad Si Klewer, Lasem

Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap

ing Candi kahyanganira,

-Gurnita di Puspalaya, siLampuran Pilangputih,

Kacokan di Balora (Blora), Gambiran Sang Kaladurgi,

Kedunggede Nyi Jenggi, di Babad Si Klewer, Lasem

Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap di

Candi kratonnya, (-Ravie Ananda-)

6.Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, ing

Pajang Buta Salewah, manda–manda ing Matawis,

Paleret Bojogdesi, Kutagedhe Nyai Panggung, ing

Dabu Butakarta, ing Jombor Setan Kubarsi, Jurutaman

kang rumeksa ing Tunjungbang,

-Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, di

Pajang Buta Salewah, manda–manda di Matawis,

Paleret (Pleret) Bojogdesi, Kutagedhe (Kotagedhe)

Nyai Panggung, di Dabu Butakarta, di Jombor

(perbatasan Magelang – Jogja) Setan Kubarsi,

Jurutaman yang berkuasa di Tunjungbang, (-Ravie

Ananda-)

ps:-Dadung Awuk adalah nama tokoh manusia yang

pernah hidup dan masih terukir sejarahnya di

Purworejo (kemungkinan tokoh ini juga mengambil

pilihan moksha pada akhir hidupnya) (Ravie Ananda)

-Setan Kubarsi juga merupakan seorang tokoh yang

kemudian pusakanya terkenal dengan sebutan Keris

Setan Kober(Ravie Ananda)

7. Semarang Baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni,

Pacalang Ki Sembungyuda, Suwanda ing Sukawati, ing

Jadem Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Giling

ing Canggal, ing Kendal si Guntinggeni, Kaliwungu

Kutuk Api kang rumeksa,

-Semarang Baratkatiga,Pekalongan

Gunturgeni,Pacalang KiSembungyuda,Suwanda di

Sukawati,di Jadem Nyai Ragil,Jayalelana di Suruh,

Buta Giling di Canggal, di Kendal si Guntinggeni,

Kaliwungu Kutuk Api yang berkuasa.

 

8.Raradenok aneng Demak,si Batiti aneng Tubin,

Juwal Payal ing Talsinga, Sukrama Guyang nenggani,

Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cemarasewu,

Kaladadung Kantungan,siAsmara aneng Taji, Bagus

Anom ing Kudus kahyanganira,

-Raradenok di Demak,siBatiti di Tubin (Tuban),

Juwal Payal di Talsinga, Sukrama Guyang yang

menunggu, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta

Cemarasewu,Kaladadung Kantungan, si Asmara di Taji,

Bagus Anom di Kudus Kahyanganira (istananya),

ps:Bagus Anom dimungkinkan sebagai nama salah satu

tokoh yang berkuasa di Kudus pada masa lampau yakni

saat Kudus masih menjadi kerajaan besar dimana

kerajaan/kraton tersebut kemudian beralih fungsi

menjadi Masjid dan Menara Kudus setelah dikuasai oleh

Sunan Kudus.

 

9. Logenjeng aneng Juwana, Ngarambang si Bajulbali,

si Lontar ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang

aneng ing Matesih Jaran Panoleh aranipun. Si Lontir

Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar–andir ing

Jatimalang,

-Logenjeng di Juwana, Ngarambang si Bajulbali,

siLontar di Wirasaba, Madura Buta Garigis, yang ada

di Matesih Jaran Panoleh namanya. Si Lontir

Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar–andir di

Jatimalang (Klirong Kebumen),

 

10.Sunan Lawu ing Arga Dilah (Hargo Dumilah),

Tembayat si Malanggati, ing Taji si Cucukdandang,

Gigirtasik aneng Wedi (Klaten), Kali Opak winarni,

Sanggabuwana aranipun, si Megek Pajagalan,

Cengkorek ing Kalibening, Sendahrama Karangwelang

kang rumeksa,

-Sunan Lawu di Arga Dilah (Arga Dumilah), Tembayat

si Malanggati, di Taji si Cucukdandang, Gigirtasik

di Wedi (klaten), Kali Opak

bermacam-macam,Sanggabuwana namanya,siMegek

Pajagalan, Cengkorek di Kalibening (Wonosobo),

Sendahrama Karangwelang yang berkuasa.

ps:Sunan Lawu adalah Brawijaya terakhir (Ayah Raden

Patah) yang kemudian Moksha di Gunung Lawu, dan

dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Banyak pendapat

yang mengatakan bahwa Pamoksan Brawijaya tersebut

bukan di Arga Dumilah melainkan di Arga Dalem, akan

tetapi sesungguhnya pamokshan Beliau ada di sebuah

gua yang letaknya di balik sebuah air terjun yang

terdapat di gunung Lawu

11.Setan Karetek ing Kendal, Baleberan Sapuangin,

Singapada ing Ngrangkudan, Pandansari ing Sarisig,

kang ana Wanapeti Malangkarsa wastanipun, si

Sanding ing Sawangan, Winasuhan Dudukwarih,

Butatakang ingkang aneng Tegallayang,

-Setan Karetek di Kendal,Baleberan Sapuangin,

Singapada di Ngrangkudan, Pandansari di Sarisig,

yang ada di Wanapeti (Hutan Cemeti, atas Kawah

Candradimuka Banjarnegara) Malangkarsa julukannya,

si Sanding di Sawangan (Wonosobo), Winasuhan

Dudukwarih, Butatakang yang ada di Tegallayang

(Tegal).

 

12.Rara Segaluh ing Jenar, Wewasi Banjaransari, si

Talengkung Watupura,si Pura ana ing Rukmi,

Sapujengges Pujenggi ingkang aneng ing Lowano, Kala

Ngadang ing Tuntang, Kalabancur Ni Bancuring, kang

rumeksa sukune ardi Baita,

-Rara Segaluh di Jenar, Wewasi Banjaransari, si

Talengkung Watupura, si Pura ada di Rukmi,

Sapujengges Pujenggi yang ada di Lowano

(Purworejo), Kala Ngadang di Tuntang, Kalabancur Ni

Bancuring, yang berkuasa di kaki gunung Prahu

(Dieng Wonosobo)

13. Gnawati Wana Siluman, Ragawati Ringinputih,

Sapuranta ing Jakarta, Pureges Jajaran Singgih,

Parusa awor angin, Palenti neng gunung Agung, Ki

pulo ngawang–ngawang, Pralapa ardi Merapi, Ni

Daluki kang aneng ardi Ungaran,

-Gnawati Wana Siluman (Alas Roban), Ragawati

Ringinputih, Sapuranta di Jakarta, Pureges Jajaran

Singgih (Pajajaran), Parusa awor (campur) angin,

Palenti di gunung Agung, Ki pulo ngawang–ngawang,

Pralapa gunung Merapi, Ni Daluki yang ada di gunung

Ungaran.

14.Kang aneng Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni,

Bagus Karang aneng Roban, Kasujayan Widamamrih,

Widanangga Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, kang

ana Kabareyan, Citranaya kang neggani, gunung

Kendeng kang aran Aji Dipa.

-Yang ada di Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni,

Bagus Karang di Roban, Kasujayan Widamamrih,

Widanangga Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, yang

ada di Kabareyan, Citranaya yang menunggu, gunung

Kendeng yang disebut Aji Dipa (Aji Saka),

ps:Bagus Karang (Bagus Banteng) dahulunya adalah

seorang pemuda yang terkenal nakal, hingga akhirnya

dia menjadi seorang siluman yang menguasai daerah

Roban yang terkadang suka menggangu orang–orang dan

kereta api (jaman Belanda) yang lewat di sekitar

daerah tersebut (tepatnya di wilayah perkebunan

kopi/Randu/Coklat milik Pabrik Siluwok Sawangan

Gringsing Pekalongan)(Ravie Ananda)

15. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng

Pening, Ni Margi ing Butawiyah, Buta Gigil aneng

Tegil, Barebes Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu,

Pemalang Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni,

Kaliwungu kang aran Setan Gorekan,

-Arya Tiron di Lodaya, Sarpabangsa di Pening, Ni

Margi di Butawiyah, Buta Gigil di Tegil (Tegal),

Barebes (Brebes) Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu,

Pemalang Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni,

Kaliwungu yang bernama Setan Gorekan,

 

16. Ingkang aneng Surakarta/Salakerta, Rahaden

Banjaransari ngalangkungan winarsita, awasta sang

Kalasekti, Kartasura winarni,aran Raden

Gunungsantun,Pengging Ki Kalamuka, Pratamanan Raja

Putri, ing Kalaten awasta Sang Kaladremba,

-Yang ada di Surakarta/Salakerta, Rahaden (Raden)

Banjaransari yang lebih dikenal dengan nama Sang

Kalasekti, Kartasura bermacam – macam, bernama

Raden Gunungsantun, Pengging Ki Kalamuka,

Pratamanan Raja Putri, di Kalaten (Klaten) bernama

Sang Kaladremba,

 

17. Si Sendul aneng Gambiran, Pacabakan Dodolsawit,

ing Atasangin punika R. Jengkala wastaneki,

Tangsulrema Gandasuli, Widapeksa ing Delanggu, si

Kluntung ing Jepara, Gambiranom aneng Taji,

Kadilangu si Kecubung kang rumeksa,

-Si Sendul di Gambiran, Pacabakan Dodolsawit, di

Atasangin yaitu R.Jengkala namanya, Tangsulrema

Gandasuli, Widapeksa di Delanggu, si Kluntung di

Jepara, Gambiranom diTaji, Kadilangu si Kecubung

yang berkuasa.

 

18. Teluk Braja ing Talacap, Jerambah Ni

Buratwangi, ing Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan

Geni, Demit ing Kandang Wesi Ki Panatas wastanipun,

Tetela aneng Ngayah, Durgabahu Jeruk legi, Nusa

brambang kang aran Ki Mangsadurga,

-Teluk Braja di Talacap (Cilacap), Jerambah Ni

Buratwangi, di Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan

Geni, Demit di Kandang Wesi Ki Panatas namanya,

Tetela di Ngayah (Ayah Kebumen), Durgabahu Jeruk

Legi (Klirong Kebumen), Nusa Brambang

(Nusakambangan) yang bernama Ki Mangsadurga,

 

Di gua

lain, tepatnya di Gua Masjid Sela, dimana sejak

jaman dahulu kala hingga zaman Mataram Islam

digunakan sebagai penjara bagi lawan politik sang

Raja Penguasa.

 

19. Sela Warna Kali Krawang, Carebon Sang Kala

Srenggi, ardi Lawet Kyai Baka, Gunung Sumbing

Wirakreti,demit Telagapasir ingkang aran Ki

Jalikung, si Klengset ing Pasundan, ing Pancer Sang

Bagaspati, pan ing Kedu kang aran Ki Mamanmurka,

-Sela Warna Kali Krawang, Carebon (Cirebon) Sang

Kala Srenggi, ardi Lawet (Banjarnegara) Kyai Baka,

Gunung Sumbing Wirakreti, demit Telagapasir yang

bernama Ki Jalikung, si Klengset di Pasundan, di

Pancer Sang Bagaspati, sedangkan di Kedu yang

bernama Ki Mamanmurka,

PS:Ardi Lawet pada masa sebelum Islam bernama Sapta

Arga/Martawuj, tempat bertapanya hingga

sapurnajatinya Pangeran Palasara dan Begawan

Abiyasa (nama Tua dari Prabu Kresna Dipayana).

Setelah kedatangan Islam, oleh para wali tempat

tersebut diubah nama menjadi Ardi Lawet.

 

Nama Tokoh Pewayangan sendiri hingga

saat ini dianggap sebagai sebuah fiksi belaka,

padahal sesungguhnya Tokoh–tokoh tersebut nyata

adanya, akan tetapi sejarah peradabannya telah

hilang (jaman Kejayaan Tanah Dhawa Kuno), kemudian

nama–nama tersebut beserta nama–nama tempat yang

ada diambil sebagai nama tokoh dan tempat dalam

pewayangan. Yang merupakan fiksi sesungguhnya

adalah kisah pewayangan itu sendiri. Kisah

pewayangan adalah kisah fiksi yang mengandung arti,

makna dan pesan Filosofis hidup Masyarakat Tanah

Dhawa Kuno yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Demi

menjaga sebuah peradaban agar tidak hilang

sepenuhnya dari sejarah keluhuran bangsa ini, maka

Tokoh–tokoh dan tempat–tempat yang nyata dan pernah

hidup serta mengukir sejarah peradaban Kuno Tanah

Dhawa NKRI tersebut diambil sebagai pelaku kisah

pewayangan yang sebenarnya fiktif, sehingga

akhirnya muncullah dua pencitraan yakni:

1. Wayang sepenuhnya adalah kisah fiktif (baik

tokoh maupun tempatnya)

2. Wayang sepenuhnya adalah kisah non fiktif (baik

tokoh maupun tempatnya)

Kedua pencitraan itu adalah pencitraan yang keliru.

Pencitraan yang sebenarnya adalah nama Tokoh dan

tempat dalam pewayangan adalah nyata, akan tetapi

sejarahnya telah hilang, dan kisah pewayangan

itulah yang fiktif akan tetapi mengambil nama tokoh

dan tempat yang nyata dan pernah ada di Tanah Dhawa

yang dahulunya memang bertujuan untuk menjaga agar

sejarah Tanah Dhawa Kuno tidak hilang sepenuhnya

(minimal masih terpatri nama–nama tokoh dan

tempatnya). Hingga sekarang pun situs berupa Candi–

candi (tempat perabuan/ditanamnya sesuatu yang

berharga dari tokoh–tokoh tersebut), gua, mata air,

nama tempat serta desa di daerah Dieng Wonosobo

hingga Banjarnegara masih ada seperti yang tersebut

dalam cerita pewayangan sedangkan di India sendiri

nama–nama tokoh, situs dan tempat yang sesuai

dengan kisah pewayangan tersebut tidak pernah ada

(harusnya lebih lengkap, sebab India mengklaim

bahwa Mahabarata adalah karya aslinya). Menurut

sasmita yang penulis dapat saat bermalam dan

bersemadhi di candi Bima dan Semar pada beberapa

waktu yang lalu, bahwa peradaban Dieng lebih tua

dibandingkan dengan peradaban Gunung Lawu, bahkan

dahulu kala sudah menjadi tradisi peradaban Lawu

berziarah ke Candi–candi Dieng. Hal ini kiranya

tidak berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam

kitab Darmagandhul bahwa dikarenakan babad–babad

asli (kitab–kitab asli) Tanah Dhawa Kuno telah

hilang dibakar oleh para pendatang yang silih

berganti, akhirnya Sunan Kalijaga pun berusaha

melestarikan yang masih bisa diketahui dari

sisa–sisa sejarah masa lampau itu dengan wayang.

Begitu juga para Penguasa Mataram yang kemudian

memerintahkan para pujangganya untuk menulis

riwayat Babad Tanah Dhawa, akan tetapi karena babad

yang asli benar–benar telah hilang, maka

kitab–kitab baru dari pujangga–pujangga tersebut

pun mau tidak mau berpedoman pada kitab lama yang

masih ada (tentunya bukan kitab Babad Asli Tanah

Dhawa, melainkan kitab gubahan yang telah

disesuaikan dengan penguasa/faham penguasa yang

terakhir masuk di Jawa. Dengan paparan–paparan ini

maka bisa kita ketahui dengan gamblang bahwa memang

telah terjadi penjajahan Sejarah Asli Tanah dhawa

NKRI oleh para pendatang yang berkuasa dengan cara

mengubah babad asli dan menyesuaikannya dengan

faham mereka. Fakta yang menguatkan mengenai hal

ini juga terdapat dalam Pustaka Raja Purwa dan

Babad Syekh Subakir. Pustaka Raja Purrwa mengatakan

bahwa Tanah Dhawa belum ada manusianya saat Ajisaka

datang ke Jawa (Hangejawi). Dialah yan berjasa

mengisi Tanah Dhawa ini dengan manusia setelah

sebelumnya dilakukan penumbalan terlebih dahulu

karena tanah ini sangat angker dan penuh dengan

lelembut. Babad Syekh Subakir berkata lain. Dalam

babad ini diceritakan bahwa Syekh Subakirlah yang

pertama kali masuk ke Jawa dan menumbal tanah ini (

tepatnya di gunung Tidar Magelang hingga bertemu

dengan ratu lelembut yang bernama Semar. Setelah

terjadi kesepakatan, barulah Syekh Subakir ini

mengisi pulau Jawa dengan manusia dari Negara lain.

-Terlihat dalam dua babad tersebut betapa dua

kepentingan kekuasaan dengan paham yang berlainan

saling memperebutkan sebagai cikal bakal pengisi

Tanah Dhawa.

 

20. Magiri si Manglarmanga, ing Gading siPuspasari,

Katanggungan Kluntungwelah, Barengkelan Banaspati

kang wasta Raden Dewi, ing Tengah pun Sabuk alu.

Nagri Kedungerika awasta Sang Raja Putri, ing

Bahrawa Baruklinting kang rumeksa,

Magiri (Imogiri Yogyakarta) si Manglarmanga, di

-Gading si Puspasari, Katanggungan Kluntungwelah,

Barengkelan (Brengkelan Porworejo) Banaspati yang

bernama Raden Dewi, di Tengah (Pangenjurutengah

Purworejo ) ialah Sabuk alu. Nagri Kedungerika

bernama Sang Raja Putri, di Bahrawa (Ambarawa)

Baruklinting yang berkuasa.

 

21.Si deleng ing Pamancingan, Guwa Langse Raden

Dewi, ana dene Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi,

ngulon turut pasisir kulawarga Nyai Kidul sampun

pepak sedaya, para ratuning dedemit sampun nglempak

kang aneng ing tanah Jawa.

-Si deleng di Pamancingan, Guwa Langse Raden Dewi,

sedangkan Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi, ke

barat sepanjang pesisir keluarga Nyai Kidul sudah

lengkap semua, para ratunya dedemit sudah terkumpul

yang ada di tanah Jawa .

PS:Pelurusan Sejarah mengenai Nyai Roro Kidul

Masyarakat pada umumnya telah terbiasa dan

terkondisi oleh pencitraan masa Islam bahwa Ratu

Kidul adalah Nyai Roro Kidul. Pemahaman ini

sangatlah keliru. Penulis akan menjelaskan sedikit

riwayat mengenai dua tokoh tersebut.

Nyai Roro Kidul

Jaman dahulu kala, jauh sebelum adanya kerajaan

Kediri, lelembut/mahluk halus di seluruh Nusantara

dirajai oleh ratu yang juga asli lelembut yang

bernama Nyai Ageng Rara Kidul yang singgasananya di

tengah samudra pantai selatan.

Eyang Ratu Kidul

Pada masa kerajaan Kediri, seorang adik dari prabu

Jayabaya (putri) yang menyandang cacad fisik

diasingkan dari kerajaan di pantai selatan,

tujuannya tidak lain agar mempercepat kematiannya.

Akan tetapi, karena ia mempunyai darah luhur, di

pantai selatan tersebut ia bertapa mati raga dalam

waktu yang lama, hingga sampai pada suatu saat yang

telah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa, akhirnya

dia moksha (Rijalul Ghaib) dan menjadi Manusia

Bangsa Halus/Rijalulghaib/Siluman. Karena dayanya

yang luar biasa (dari badan kasar menjadi badan

halus) akhirnya ratu lelembut yang bernama Nyai

Ageng Rara Kidul tersebut kalah daya dan kemudian

jabatan ratu lelembut Nusantara beralih pada Eyang

Ratu Kidul. Adapun Nyai Ageng Rara Kidul (yang asli

bangsa halus tadi) kemudian menjadi patih dari

Eyang Ratu Kidul.

Eyang Ratu Kidul sendiri diizinkan oleh Yang Maha

Kuasa menjadi bangsa Halus, dimana dia ditugaskan

untuk mengayomi seluruh manusia Tanah Dhawa yang

masih menggunakan Jawanya (Njawani) agar tidak

diganggu oleh bangsa halus dalam bentuk apapun.

 

Dari beberapa pemaparan penulis, mengenai jati diri

beberapa nama tokoh/Ratu lelembut yang disebutkan

dalam kidung di atas, bisa disimpulkan bahwa Ratu–

ratu Lelembut tersebut adalah nama tokoh manusia

yang sebenarnya berkaitan erat dengan sejarah Tanah

Dhawa RI, bukan sebagai sosok Ratu Bangsa Halus

yang tidak memiliki kaitan apapun dengan sejarah

dan cenderung bermakna negatif. Sayang sekali

sejarah–sejarah keluhuran Tanah Dhawa NKRI yang

melekat dalam tokoh–tokoh yang telah moksha

tersebut kini ikut hilang ditelan bumi, seperti

juga sejarah mengenai sosok Gajah Mada yang

jatidiri dan keturunannya hingga kini masih

terselubung misteri. Semoga sejarah yang hilang

tersebut segera muncul kembali bersamaan dengan

bangkitnya keluhuran Tanah Dhawa NKRI. Rahayu.

Salam Pancasila


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPALA BNN RI HADIRI PEMBUKAAN RAKENIS RESKRIM POLRI 2026

Jakarta - Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, menghadiri pembukaan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Reserse Kriminal (Reskrim) Polri Tahun 2026 ...