Membongkar Rahasia Kubur Para Leluhur Penguasa Tanah Dhawa
(saat ini disebut NKRI) yang Nyaris Hilang dari Sejarah
Oleh : Ravie Ananda
Peninggalan para Leluhur Tanah Dhawa NKRI selain candi,
pusaka,dan harta adalah karya sastra. Karya sastra Masa Lalu yang beraneka
ragam selalu mempunyai maksud tersembunyi yang jarang sekali bisa ditangkap
jika para pembaca saat ini hanya melihat dan mempelajari dari bentuk fisiknya
saja, tanpa mempelajari pola kehidupan dan spiritual masa lalu Tanah Dhawa. Hal
ini menimbulkan kesalahan tafsir dan bahkan hilangnya sejarah asli Tanah Dhawa.
Belum lagi adanya bangsa pendatang yang sengaja mengubah babad asli demi
kepentingan kekuasaannya di Tanah Dhawa yang sebelumnya telah misuwur ini.
Mengapa para Leluhur kita selalu menaruh maksud tersembunyi dalam setiap karya
sastra baik babad maupun kidung–kidungnya? Jawabnya adalah “Karena Kesantunan
Masa Lalu dimana sudah menjadi budaya bahwa mengungkapkan sesuatu secara
langsung merupakan suatu hal yang tidak sopan”. Inilah faktor utama yang
sebenarnya harus diperhatikan oleh para peneliti Sastra Jawa, sehingga mereka
tidak hanya dituntut untuk ahli dalam hal baca tulis Jawa dan sastra Jawa Kuno
saja, melainkan diperlukan juga kejelian dan pengetahuan yang luas serta
nglakoni Jawane (baik tradisinya, ilmunya, tirakatnya, maupun keyakinannya
terhadap Tuhan dan kehidupan).
Penulis akan berusaha mengupas sedikit Sejarah Tokoh Luhur
kita yang nyaris hilang, bahkan ada di antaranya yang telah hilang sama sekali
dari catatan sejarah Tanah Dhawa. Tokoh sejarah tersebut terdapat dalam
Kidhungan Padanghyangan yang kini benar – benar hanya diketahui oleh mayoritas
masyarakat Jawa dan para ahli sastranya sebagai suatu cerita nyata
(sesungguhnya tanpa memuat maksud yang sangat lain di dalamnya) atau bahkan
kemudian dijadikan suatu mantra tak berdasar untuk mengusir mahluk halus (suatu
hal yang klenik dan sangat menyedihkan).
Semoga Yang Kuasa segera mengembalikan keluhuran bangsa ini
Semoga Para Leluhur berkenan penulis buka kesejatiannya.
KIDHUNGAN PADANGHYANGAN
KIDHUNGAN PADANGHYANGAN:’the Rising Of Javanesse Forefathers
from the Resting Places’
Kidhungan Padanghyangan berarti nyanyian yang
menceritakan para leluhur (penguasa;Padang berarti
terang/menerangkan, Hyang (an) berarti
Luhur/Keluhuran, menerangkan keluhuran), kidung ini
sebenarnya memberitahukan dan menerangkan nama–nama
penguasa di Jawa pada masa lampau beserta
keluhurannya secara tersirat. Akan tetapi karena
kehalusan sastra penulisnya yang menggunakan
sandi/bahasa kiasan maka tokoh–tokoh yang
disebutkan dalam kidung tersebut sampai saat ini
hanya dianggap sebagai mahluk halus (bukan tokoh
manusia). Sesungguhnya pada awal judul, oleh si
penulis kidung telah disertakan kunci pemahaman
akan tetapi karena sifatnya yang sangat halus yakni
dengan menyebutkan mereka semua sebagai ratunya
lelembut di berbagai daerah, akhirnya terciptalah
pencitraan luar bahwa mereka juga termasuklelembut.
Tokoh–tokoh yang tercitra sebagi lelembut dalam
kidung ini memang akhirnya tergolong sebagai Gaib
(bangsa Halus) dikarenakan mereka memilih jalan
Moksha/Rijalulghaib/Nyiluman pada akhir hidupnya
(bukan mati meninggalkan raganya), akan tetapi yang
perlu diingat bahwa pada awalnya mereka adalah
manusia linuwih, tokoh linuwih di daerah
masing–masing yang tentunya tidak bisa terlepas
dari balutan sejarah yang akhirnya kini pun hilang.
Sejarah–sejarah yang telah hilang inilah yang
mayoritas menyimpan bukti keagungan Tanah Dhawa
NKRI masalalu dimana akhirnya ketika bagian–bagian
dari kebudayaan yang hilang tersebut muncul,
kemudian menjadi korban penyelewengan sejarah oleh
para ahli yang berkuasa (sebab kurangnya pemahaman
mereka terhadap sisi non materi). Maka terciptalah
kejayaan sebuah wangsa Mataram Kuno (sebab selalu
dan selalu setiap ada penemuan situs, candi, dan
yang lainnya yang sangat dimungkinkan semua itu
berasal dari masa jauh sebelum masehi, semua
dikebiri ‘diklaim’ menjadi benda–benda Mataram
Kuno). Sangat tragis sekali tentunya. Sejarah Asli
Tanah ini semakin terkubur.
KIDHUNGAN PADANGHYANGAN
Para ratuning lelembut ing nungsa Jawa Kinidungake
sinom
1. Apuranen sun angetang,lelembut sanungsa Jawi,
kang rumeksa ing nagara, para ratuning dedemit,
agung sawabe ugi,yen apal sadayanipun, apan dadya
tetulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah
sangar dadi tawa.
Maafkan aku menghitung lelembut (sesuatu yang
bersifat lembut/halus/rahasia/samar) seluruh pulau
Jawa yang berkuasa di Negara, para ratunya dedemit,
besar dayanya juga, jika hafal semuanya, bisa
dijadikan penolak, bisa juga untuk
menunggu/mengobati orang sakit, kayu angker tanah
mengerikan jadi tawar (-Ravie Ananda-)
2.Kang rumiyin ing bang wetan, Durganeluh Maspahit
aran raja Bahureksa,iku ratuning dedemit,
Balambangan winarni,awasta pun Balabatu,kang
rumeksa Blambangan,Buta Locaya Kediri,pun Sikorep
lelembut ing Panaraga.
-Yang pertama di sebelah timur, Durganeluh
Majapahit bernama Raja Bahureksa, itu ratunya
dedemit,Balambangan bermacam–macam, yang dikenal
yaitu Balabatu yang menguasai Blambangan, Buta
Locaya di Kediri, sedangkan Sikorep lelembut di
Panaraga (Ponorogo) (-Ravie Ananda-)
-Buta Locaya adalah Patih dari Prabu Jayabaya yang
pada masa hidupnya bernama Kyai Daha (cikal bakal
pendiri daerah Kediri). Setelah mokshanya Prabu
Jayabaya,Kyai Daha pun ikut moksha dan memilih
menjadi semara bumi (tidak sampuna jati) dengan
tujuan untuk menjaga tanah Kediri (-Ravie Ananda-)
3.Sidakari ing Pacitan, Kaduwang si Klentingmungil,
Endrayeksa ing Magetan,Jenggala si Tunjungpuri,
Prangmuka Surabanggi, Pananggungan Abur-abur,
Sapujagad ing Jipang, Madiun si Kalaseksa, ingkang
Prabuyekti aneng pasuruhan,
-Sidakari di Pacitan, Kaduwang si Klentingmungil,
Endrayeksa di Magetan, Jenggala si Tunjungpuri,
Prangmuka Surabanggi (Surabaya), Pananggungan
Abur–abur, Sapujagad di Jipang, Madiun si
Kalaseksa, si Prabu sesungguhnya di Pasuruhan,
(-Ravie Ananda-)
4. Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi,
Macan Guguh Garobogan, Kalajonggo, Singasari,
Sarengat Barukuping, Balitar Sang Kalakatung,
Butakuda ing Rama, Kalangbretsi Sekargambir, Carub
amor ingkang ana ing Lamongan.
-Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi,
Macan Guguh Garobogan (Grobogan), Kalajonggo
Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar (Blitar)
Sang Kalakatung (Betara Katong),Butakuda di Rama,
Kalangbretsi Sekargambir, Carub menyatu dengan yang
ada di Lamongan,(-Ravie Ananda-)
5.Gurnita ing Puspalaya, si Lampuran Pilangputih,
Kacokan aneng Balora, Gambiran Sang Kaladurgi,
Kedunggede Nyi Jenggi,ing Babad Si Klewer, Lasem
Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap
ing Candi kahyanganira,
-Gurnita di Puspalaya, siLampuran Pilangputih,
Kacokan di Balora (Blora), Gambiran Sang Kaladurgi,
Kedunggede Nyi Jenggi, di Babad Si Klewer, Lasem
Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap di
Candi kratonnya, (-Ravie Ananda-)
6.Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, ing
Pajang Buta Salewah, manda–manda ing Matawis,
Paleret Bojogdesi, Kutagedhe Nyai Panggung, ing
Dabu Butakarta, ing Jombor Setan Kubarsi, Jurutaman
kang rumeksa ing Tunjungbang,
-Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, di
Pajang Buta Salewah, manda–manda di Matawis,
Paleret (Pleret) Bojogdesi, Kutagedhe (Kotagedhe)
Nyai Panggung, di Dabu Butakarta, di Jombor
(perbatasan Magelang – Jogja) Setan Kubarsi,
Jurutaman yang berkuasa di Tunjungbang, (-Ravie
Ananda-)
ps:-Dadung Awuk adalah nama tokoh manusia yang
pernah hidup dan masih terukir sejarahnya di
Purworejo (kemungkinan tokoh ini juga mengambil
pilihan moksha pada akhir hidupnya) (Ravie Ananda)
-Setan Kubarsi juga merupakan seorang tokoh yang
kemudian pusakanya terkenal dengan sebutan Keris
Setan Kober(Ravie Ananda)
7. Semarang Baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni,
Pacalang Ki Sembungyuda, Suwanda ing Sukawati, ing
Jadem Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Giling
ing Canggal, ing Kendal si Guntinggeni, Kaliwungu
Kutuk Api kang rumeksa,
-Semarang Baratkatiga,Pekalongan
Gunturgeni,Pacalang KiSembungyuda,Suwanda di
Sukawati,di Jadem Nyai Ragil,Jayalelana di Suruh,
Buta Giling di Canggal, di Kendal si Guntinggeni,
Kaliwungu Kutuk Api yang berkuasa.
8.Raradenok aneng Demak,si Batiti aneng Tubin,
Juwal Payal ing Talsinga, Sukrama Guyang nenggani,
Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cemarasewu,
Kaladadung Kantungan,siAsmara aneng Taji, Bagus
Anom ing Kudus kahyanganira,
-Raradenok di Demak,siBatiti di Tubin (Tuban),
Juwal Payal di Talsinga, Sukrama Guyang yang
menunggu, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta
Cemarasewu,Kaladadung Kantungan, si Asmara di Taji,
Bagus Anom di Kudus Kahyanganira (istananya),
ps:Bagus Anom
dimungkinkan sebagai nama salah satu
tokoh yang berkuasa di
Kudus pada masa lampau yakni
saat Kudus masih
menjadi kerajaan besar dimana
kerajaan/kraton
tersebut kemudian beralih fungsi
menjadi Masjid dan
Menara Kudus setelah dikuasai oleh
Sunan Kudus.
9. Logenjeng aneng Juwana, Ngarambang si Bajulbali,
si Lontar ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang
aneng ing Matesih Jaran Panoleh aranipun. Si Lontir
Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar–andir ing
Jatimalang,
-Logenjeng di Juwana, Ngarambang si Bajulbali,
siLontar di Wirasaba, Madura Buta Garigis, yang ada
di Matesih Jaran Panoleh namanya. Si Lontir
Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar–andir di
Jatimalang (Klirong Kebumen),
10.Sunan Lawu ing Arga Dilah (Hargo Dumilah),
Tembayat si Malanggati, ing Taji si Cucukdandang,
Gigirtasik aneng Wedi (Klaten), Kali Opak winarni,
Sanggabuwana aranipun, si Megek Pajagalan,
Cengkorek ing Kalibening, Sendahrama Karangwelang
kang rumeksa,
-Sunan Lawu di Arga Dilah (Arga Dumilah), Tembayat
si Malanggati, di Taji si Cucukdandang, Gigirtasik
di Wedi (klaten), Kali Opak
bermacam-macam,Sanggabuwana namanya,siMegek
Pajagalan, Cengkorek di Kalibening (Wonosobo),
Sendahrama Karangwelang yang berkuasa.
ps:Sunan Lawu adalah
Brawijaya terakhir (Ayah Raden
Patah) yang kemudian Moksha
di Gunung Lawu, dan
dikenal dengan sebutan
Sunan Lawu. Banyak pendapat
yang mengatakan bahwa
Pamoksan Brawijaya tersebut
bukan di Arga Dumilah
melainkan di Arga Dalem, akan
tetapi sesungguhnya
pamokshan Beliau ada di sebuah
gua yang letaknya di
balik sebuah air terjun yang
terdapat di gunung Lawu
11.Setan
Karetek ing Kendal, Baleberan Sapuangin,
Singapada
ing Ngrangkudan, Pandansari ing Sarisig,
kang
ana Wanapeti Malangkarsa wastanipun, si
Sanding
ing Sawangan, Winasuhan Dudukwarih,
Butatakang
ingkang aneng Tegallayang,
-Setan
Karetek di Kendal,Baleberan Sapuangin,
Singapada
di Ngrangkudan, Pandansari di Sarisig,
yang
ada di Wanapeti (Hutan Cemeti, atas Kawah
Candradimuka
Banjarnegara) Malangkarsa julukannya,
si
Sanding di Sawangan (Wonosobo), Winasuhan
Dudukwarih,
Butatakang yang ada di Tegallayang
(Tegal).
12.Rara
Segaluh ing Jenar, Wewasi Banjaransari, si
Talengkung
Watupura,si Pura ana ing Rukmi,
Sapujengges
Pujenggi ingkang aneng ing Lowano, Kala
Ngadang
ing Tuntang, Kalabancur Ni Bancuring, kang
rumeksa
sukune ardi Baita,
-Rara
Segaluh di Jenar, Wewasi Banjaransari, si
Talengkung
Watupura, si Pura ada di Rukmi,
Sapujengges
Pujenggi yang ada di Lowano
(Purworejo),
Kala Ngadang di Tuntang, Kalabancur Ni
Bancuring,
yang berkuasa di kaki gunung Prahu
(Dieng
Wonosobo)
13.
Gnawati Wana Siluman, Ragawati Ringinputih,
Sapuranta
ing Jakarta, Pureges Jajaran Singgih,
Parusa
awor angin, Palenti neng gunung Agung, Ki
pulo
ngawang–ngawang, Pralapa ardi Merapi, Ni
Daluki
kang aneng ardi Ungaran,
-Gnawati
Wana Siluman (Alas Roban), Ragawati
Ringinputih,
Sapuranta di Jakarta, Pureges Jajaran
Singgih
(Pajajaran), Parusa awor (campur) angin,
Palenti
di gunung Agung, Ki pulo ngawang–ngawang,
Pralapa
gunung Merapi, Ni Daluki yang ada di gunung
Ungaran.
14.Kang
aneng Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni,
Bagus
Karang aneng Roban, Kasujayan Widamamrih,
Widanangga
Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, kang
ana
Kabareyan, Citranaya kang neggani, gunung
Kendeng
kang aran Aji Dipa.
-Yang
ada di Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni,
Bagus
Karang di Roban, Kasujayan Widamamrih,
Widanangga
Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, yang
ada
di Kabareyan, Citranaya yang menunggu, gunung
Kendeng
yang disebut Aji Dipa (Aji Saka),
ps:Bagus
Karang (Bagus Banteng) dahulunya adalah
seorang
pemuda yang terkenal nakal, hingga akhirnya
dia
menjadi seorang siluman yang menguasai daerah
Roban
yang terkadang suka menggangu orang–orang dan
kereta
api (jaman Belanda) yang lewat di sekitar
daerah
tersebut (tepatnya di wilayah perkebunan
kopi/Randu/Coklat
milik Pabrik Siluwok Sawangan
Gringsing
Pekalongan)(Ravie Ananda)
15.
Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng
Pening,
Ni Margi ing Butawiyah, Buta Gigil aneng
Tegil,
Barebes Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu,
Pemalang
Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni,
Kaliwungu
kang aran Setan Gorekan,
-Arya
Tiron di Lodaya, Sarpabangsa di Pening, Ni
Margi
di Butawiyah, Buta Gigil di Tegil (Tegal),
Barebes
(Brebes) Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu,
Pemalang
Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni,
Kaliwungu
yang bernama Setan Gorekan,
16.
Ingkang aneng Surakarta/Salakerta, Rahaden
Banjaransari
ngalangkungan winarsita, awasta sang
Kalasekti,
Kartasura winarni,aran Raden
Gunungsantun,Pengging
Ki Kalamuka, Pratamanan Raja
Putri,
ing Kalaten awasta Sang Kaladremba,
-Yang
ada di Surakarta/Salakerta, Rahaden (Raden)
Banjaransari
yang lebih dikenal dengan nama Sang
Kalasekti,
Kartasura bermacam – macam, bernama
Raden
Gunungsantun, Pengging Ki Kalamuka,
Pratamanan
Raja Putri, di Kalaten (Klaten) bernama
Sang
Kaladremba,
17.
Si Sendul aneng Gambiran, Pacabakan Dodolsawit,
ing
Atasangin punika R. Jengkala wastaneki,
Tangsulrema
Gandasuli, Widapeksa ing Delanggu, si
Kluntung
ing Jepara, Gambiranom aneng Taji,
Kadilangu
si Kecubung kang rumeksa,
-Si
Sendul di Gambiran, Pacabakan Dodolsawit, di
Atasangin
yaitu R.Jengkala namanya, Tangsulrema
Gandasuli,
Widapeksa di Delanggu, si Kluntung di
Jepara,
Gambiranom diTaji, Kadilangu si Kecubung
yang
berkuasa.
18.
Teluk Braja ing Talacap, Jerambah Ni
Buratwangi,
ing Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan
Geni,
Demit ing Kandang Wesi Ki Panatas wastanipun,
Tetela
aneng Ngayah, Durgabahu Jeruk legi, Nusa
brambang
kang aran Ki Mangsadurga,
-Teluk
Braja di Talacap (Cilacap), Jerambah Ni
Buratwangi,
di Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan
Geni,
Demit di Kandang Wesi Ki Panatas namanya,
Tetela
di Ngayah (Ayah Kebumen), Durgabahu Jeruk
Legi
(Klirong Kebumen), Nusa Brambang
(Nusakambangan)
yang bernama Ki Mangsadurga,
Di
gua
lain,
tepatnya di Gua Masjid Sela, dimana sejak
jaman
dahulu kala hingga zaman Mataram Islam
digunakan
sebagai penjara bagi lawan politik sang
Raja
Penguasa.
19.
Sela Warna Kali Krawang, Carebon Sang Kala
Srenggi,
ardi Lawet Kyai Baka, Gunung Sumbing
Wirakreti,demit
Telagapasir ingkang aran Ki
Jalikung,
si Klengset ing Pasundan, ing Pancer Sang
Bagaspati,
pan ing Kedu kang aran Ki Mamanmurka,
-Sela
Warna Kali Krawang, Carebon (Cirebon) Sang
Kala
Srenggi, ardi Lawet (Banjarnegara) Kyai Baka,
Gunung
Sumbing Wirakreti, demit Telagapasir yang
bernama
Ki Jalikung, si Klengset di Pasundan, di
Pancer
Sang Bagaspati, sedangkan di Kedu yang
bernama
Ki Mamanmurka,
PS:Ardi Lawet pada masa sebelum Islam
bernama Sapta
Arga/Martawuj, tempat bertapanya
hingga
sapurnajatinya Pangeran Palasara dan
Begawan
Abiyasa (nama Tua dari Prabu Kresna
Dipayana).
Setelah kedatangan Islam, oleh para
wali tempat
tersebut diubah nama menjadi Ardi
Lawet.
Nama
Tokoh Pewayangan sendiri hingga
saat
ini dianggap sebagai sebuah fiksi belaka,
padahal
sesungguhnya Tokoh–tokoh tersebut nyata
adanya,
akan tetapi sejarah peradabannya telah
hilang
(jaman Kejayaan Tanah Dhawa Kuno), kemudian
nama–nama
tersebut beserta nama–nama tempat yang
ada
diambil sebagai nama tokoh dan tempat dalam
pewayangan.
Yang merupakan fiksi sesungguhnya
adalah
kisah pewayangan itu sendiri. Kisah
pewayangan
adalah kisah fiksi yang mengandung arti,
makna
dan pesan Filosofis hidup Masyarakat Tanah
Dhawa
Kuno yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Demi
menjaga
sebuah peradaban agar tidak hilang
sepenuhnya
dari sejarah keluhuran bangsa ini, maka
Tokoh–tokoh
dan tempat–tempat yang nyata dan pernah
hidup
serta mengukir sejarah peradaban Kuno Tanah
Dhawa
NKRI tersebut diambil sebagai pelaku kisah
pewayangan
yang sebenarnya fiktif, sehingga
akhirnya
muncullah dua pencitraan yakni:
1.
Wayang sepenuhnya adalah kisah fiktif (baik
tokoh
maupun tempatnya)
2.
Wayang sepenuhnya adalah kisah non fiktif (baik
tokoh
maupun tempatnya)
Kedua
pencitraan itu adalah pencitraan yang keliru.
Pencitraan
yang sebenarnya adalah nama Tokoh dan
tempat
dalam pewayangan adalah nyata, akan tetapi
sejarahnya
telah hilang, dan kisah pewayangan
itulah
yang fiktif akan tetapi mengambil nama tokoh
dan
tempat yang nyata dan pernah ada di Tanah Dhawa
yang
dahulunya memang bertujuan untuk menjaga agar
sejarah
Tanah Dhawa Kuno tidak hilang sepenuhnya
(minimal
masih terpatri nama–nama tokoh dan
tempatnya).
Hingga sekarang pun situs berupa Candi–
candi
(tempat perabuan/ditanamnya sesuatu yang
berharga
dari tokoh–tokoh tersebut), gua, mata air,
nama
tempat serta desa di daerah Dieng Wonosobo
hingga
Banjarnegara masih ada seperti yang tersebut
dalam
cerita pewayangan sedangkan di India sendiri
nama–nama
tokoh, situs dan tempat yang sesuai
dengan
kisah pewayangan tersebut tidak pernah ada
(harusnya
lebih lengkap, sebab India mengklaim
bahwa
Mahabarata adalah karya aslinya). Menurut
sasmita
yang penulis dapat saat bermalam dan
bersemadhi
di candi Bima dan Semar pada beberapa
waktu
yang lalu, bahwa peradaban Dieng lebih tua
dibandingkan
dengan peradaban Gunung Lawu, bahkan
dahulu
kala sudah menjadi tradisi peradaban Lawu
berziarah
ke Candi–candi Dieng. Hal ini kiranya
tidak
berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam
kitab
Darmagandhul bahwa dikarenakan babad–babad
asli
(kitab–kitab asli) Tanah Dhawa Kuno telah
hilang
dibakar oleh para pendatang yang silih
berganti,
akhirnya Sunan Kalijaga pun berusaha
melestarikan
yang masih bisa diketahui dari
sisa–sisa
sejarah masa lampau itu dengan wayang.
Begitu
juga para Penguasa Mataram yang kemudian
memerintahkan
para pujangganya untuk menulis
riwayat
Babad Tanah Dhawa, akan tetapi karena babad
yang
asli benar–benar telah hilang, maka
kitab–kitab
baru dari pujangga–pujangga tersebut
pun
mau tidak mau berpedoman pada kitab lama yang
masih
ada (tentunya bukan kitab Babad Asli Tanah
Dhawa,
melainkan kitab gubahan yang telah
disesuaikan
dengan penguasa/faham penguasa yang
terakhir
masuk di Jawa. Dengan paparan–paparan ini
maka
bisa kita ketahui dengan gamblang bahwa memang
telah
terjadi penjajahan Sejarah Asli Tanah dhawa
NKRI
oleh para pendatang yang berkuasa dengan cara
mengubah
babad asli dan menyesuaikannya dengan
faham
mereka. Fakta yang menguatkan mengenai hal
ini
juga terdapat dalam Pustaka Raja Purwa dan
Babad
Syekh Subakir. Pustaka Raja Purrwa mengatakan
bahwa
Tanah Dhawa belum ada manusianya saat Ajisaka
datang
ke Jawa (Hangejawi). Dialah yan berjasa
mengisi
Tanah Dhawa ini dengan manusia setelah
sebelumnya
dilakukan penumbalan terlebih dahulu
karena
tanah ini sangat angker dan penuh dengan
lelembut.
Babad Syekh Subakir berkata lain. Dalam
babad
ini diceritakan bahwa Syekh Subakirlah yang
pertama
kali masuk ke Jawa dan menumbal tanah ini (
tepatnya
di gunung Tidar Magelang hingga bertemu
dengan
ratu lelembut yang bernama Semar. Setelah
terjadi
kesepakatan, barulah Syekh Subakir ini
mengisi
pulau Jawa dengan manusia dari Negara lain.
-Terlihat
dalam dua babad tersebut betapa dua
kepentingan
kekuasaan dengan paham yang berlainan
saling
memperebutkan sebagai cikal bakal pengisi
Tanah
Dhawa.
20.
Magiri si Manglarmanga, ing Gading siPuspasari,
Katanggungan
Kluntungwelah, Barengkelan Banaspati
kang
wasta Raden Dewi, ing Tengah pun Sabuk alu.
Nagri
Kedungerika awasta Sang Raja Putri, ing
Bahrawa
Baruklinting kang rumeksa,
Magiri
(Imogiri Yogyakarta) si Manglarmanga, di
-Gading
si Puspasari, Katanggungan Kluntungwelah,
Barengkelan
(Brengkelan Porworejo) Banaspati yang
bernama
Raden Dewi, di Tengah (Pangenjurutengah
Purworejo
) ialah Sabuk alu. Nagri Kedungerika
bernama
Sang Raja Putri, di Bahrawa (Ambarawa)
Baruklinting
yang berkuasa.
21.Si
deleng ing Pamancingan, Guwa Langse Raden
Dewi,
ana dene Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi,
ngulon
turut pasisir kulawarga Nyai Kidul sampun
pepak
sedaya, para ratuning dedemit sampun nglempak
kang
aneng ing tanah Jawa.
-Si
deleng di Pamancingan, Guwa Langse Raden Dewi,
sedangkan
Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi, ke
barat
sepanjang pesisir keluarga Nyai Kidul sudah
lengkap
semua, para ratunya dedemit sudah terkumpul
yang
ada di tanah Jawa .
PS:Pelurusan Sejarah mengenai Nyai
Roro Kidul
Masyarakat pada umumnya telah terbiasa
dan
terkondisi oleh pencitraan masa Islam
bahwa Ratu
Kidul adalah Nyai Roro Kidul.
Pemahaman ini
sangatlah keliru. Penulis akan
menjelaskan sedikit
riwayat mengenai dua tokoh tersebut.
Nyai Roro Kidul
Jaman dahulu kala, jauh sebelum adanya
kerajaan
Kediri, lelembut/mahluk halus di
seluruh Nusantara
dirajai oleh ratu yang juga asli
lelembut yang
bernama Nyai Ageng Rara Kidul yang
singgasananya di
tengah samudra pantai selatan.
Eyang Ratu Kidul
Pada masa kerajaan Kediri, seorang
adik dari prabu
Jayabaya (putri) yang menyandang cacad
fisik
diasingkan dari kerajaan di pantai
selatan,
tujuannya tidak lain agar mempercepat
kematiannya.
Akan tetapi, karena ia mempunyai darah
luhur, di
pantai selatan tersebut ia bertapa
mati raga dalam
waktu yang lama, hingga sampai pada
suatu saat yang
telah dikehendaki oleh Yang Maha
Kuasa, akhirnya
dia moksha (Rijalul Ghaib) dan menjadi
Manusia
Bangsa Halus/Rijalulghaib/Siluman.
Karena dayanya
yang luar biasa (dari badan kasar
menjadi badan
halus) akhirnya ratu lelembut yang
bernama Nyai
Ageng Rara Kidul tersebut kalah daya
dan kemudian
jabatan ratu lelembut Nusantara
beralih pada Eyang
Ratu Kidul. Adapun Nyai Ageng Rara
Kidul (yang asli
bangsa halus tadi) kemudian menjadi
patih dari
Eyang Ratu Kidul.
Eyang Ratu Kidul sendiri diizinkan
oleh Yang Maha
Kuasa menjadi bangsa Halus, dimana dia
ditugaskan
untuk mengayomi seluruh manusia Tanah
Dhawa yang
masih menggunakan Jawanya (Njawani)
agar tidak
diganggu oleh bangsa halus dalam
bentuk apapun.
Dari beberapa pemaparan penulis,
mengenai jati diri
beberapa nama tokoh/Ratu lelembut yang
disebutkan
dalam kidung di atas, bisa disimpulkan
bahwa Ratu–
ratu Lelembut tersebut adalah nama
tokoh manusia
yang sebenarnya berkaitan erat dengan
sejarah Tanah
Dhawa RI, bukan sebagai sosok Ratu
Bangsa Halus
yang tidak memiliki kaitan apapun
dengan sejarah
dan cenderung bermakna negatif. Sayang
sekali
sejarah–sejarah keluhuran Tanah Dhawa
NKRI yang
melekat dalam tokoh–tokoh yang telah
moksha
tersebut kini ikut hilang ditelan bumi,
seperti
juga sejarah mengenai sosok Gajah Mada
yang
jatidiri dan keturunannya hingga kini
masih
terselubung misteri. Semoga sejarah
yang hilang
tersebut segera muncul kembali
bersamaan dengan
bangkitnya keluhuran Tanah Dhawa NKRI.
Rahayu.
Salam Pancasila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar