Oleh : Puput Purwanti
Bahaya politik Identitas, Salah satu hal yang membuat Hitler dan
NAZI menjadi berkuasa di Jerman.. Ialah eksploitasi politik identitas. Baik
dengan mengglorifikasi bangsa arya dan mensetankan orang yahudi. Padahal ya
soal identitas ini sifat inheren sesuatu hal yang tidak bisa kita pilih-pilih.
Bahkan agama sekalipun, ada beberapa orang yang gak menjalankan agama nya
dengan baik namun meyakini agama tetap menjadi identitas dirinya. Sehingga
disini lah problem dari politik identitas tersebut.
Identitas sebagai politik pada dasarnya tidak masalah, karena itu
bagian dari realita dari mana kita berasal, yang menjadi problem dikala
identitas ini di amplifikasi, dimanipulasi untuk target-target politik sembari
membenturkan dengan identitas lawan. Padahal kita hidup dalam sebuah pluralitas
atau kemajemukan yang tidak bisa kita hindari. Dan kita juga tidak hidup dalam
logika zero sum, bila yang satu menang maka yang lain kalah sebagaimana apa itu politik terbuka.
Dan yang paling berbahaya ialah politik identitas bisa
mengesampingkan rasionalitas, dari hal ini akan banyak sekali rentetan akibat
nya, bisa kebijakan yang tidak tepat, kebijakan yang sekadar populis. Isu-isu
yang menyertai jelang pemilu menunjukkan kian brutalnya klaim pihak-pihak yang
berkepentingan sebagaimana cara memberi hukuman kepada anak. Opini-opini
menyesatkan disebar layaknya virus-virus yang siap menyerang kewarasan. Sisi
universal kemanusiaan dicerabut demi mencapai hasrat kelompok. Kita seperti
digiring untuk melupakan kodrat manusia yang dianugerahi identitas primordial
yang personal sebagai bentuk kesempurnaan ciptaan Sang Maha Kuasa.
Berikut merupakan rangkuman dari beberapa bahaya politik identitas
bagi keutuhan bangsa, selengkapnya dapat disimak dalam uraian berikut ini :
1.
Mengancam keutuhan NKRI
Saat ini ancaman terhadap keutuhan bangsa semakin mengkhawatirkan
karena politik identitas yang mengedepankan identitas agama menjadi semakin
mengental. Bukan hanya politik identitas, bahkan, saat ini ada
kelompok-kelompok yang mulai mempersoalkan ideologi bangsa. Tentunya hal ini
menjadi ancaman yang sangat besar bagi keutuhan bangsa. sangat ironis, kenapa
pada Pemilu 2019 ini muncul pihak-pihak yang mempersoalkan ideologi bangsa.
Padahal dulu tidak ada, bahkan hingga era Orde Baru dan beberapa pemilu
langsung di era reformasi hingga pemilu 2014 tidak ada yang mempersoalkan
ideologi bangsa, pemahaman mengenai bahaya dari politik identitas di tengah
masyarakat. Perlu diberikan sebab isu SARA itu menyangkut emosi massa yang
sebagian bahkan tidak mengetahui fakta sebenarnya seperti contoh pelanggaran norma sosial dan
contoh pelanggaran nilai nilai Pancasila..
2.
Menimbulkan adu domba
Sejatinya politik yng mengtasnamankan identitas akan dapat membawa
dampak adu domba antara pihak stud an lainnya. Terlebih lagi jika berkaitan
dengan identitas baik isu agama atau personal maka hal ini akan dirasa lebih
sensitive. Karena politik identitas itu sejatinya kejam dan tajam karena bisa
menjerumuskan mereka mereka kedalam jurang permusuhan yang pada akhirnya akan
membawa berbagai dampak yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
3.
Hilangnya pluralitas
Pluralisme (bahasa Inggris: pluralism), terdiri dari dua kata
plural (=beragam) dan isme (=paham) yang berarti paham atas keberagaman.
Definisi dari pluralisme seringkali disalahartikan menjadi keberagaman paham
yang pada akhirnya memicu ambiguitas. Pluralisme juga dapat berarti kesediaan
untuk menerima keberagaman (pluralitas), artinya, untuk hidup secara toleran
pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, gologan, agama,adat, hingga
pandangan hidup. Pluralisme mengimplikasikan pada tindakan yang bermuara pada
pengakuan kebebasan beragama, kebebasan berpikir, atau kebebasan mencari
informasi, sehingga untuk mencapai pluralisme diperlukanadanya kematangan dari
kepribadian seseorang dan/atau sekelompok orang.
4.
Menimbulkan Polarisasi
Polarisasi isu pribumi dan
non-pribumi juga tak bisa dianggap angin lalu. Memori kita masih segar
mengingat kerusuhan yang menelan korban jiwa tak terperikan di hari-hari jelang
runtuhnya rezim Orde Baru. Isu non-pribumi dikoar-koarkan untuk menyerang
mereka yang berkulit putih dan bermata sipit, identitas yang kini sering
disebut dengan istilah ‘aseng’. Padahal, jika masyarakat peduli literasi dan
diberikan informasi yang proporsional, akan menemukan jejak-jejak pribumi yang
tak hanya dimiliki oleh satu suku atau ras saja. Deretan pejuang kemerdekaan
nasional lahir dari identitas yang berbeda-beda. Jika tetap ngotot dengan
sentimen pribumi, maka sesuai sejarah, kita akan kembali ke era homo erectus sejuta tahun silam sebagaimana hukuman bagi pelanggaran ham ringan..
5.
Membawa perselisihan
Perselisihan soal agama dan klaim ketuhanan tentu tak akan pernah
selesai. Bahkan, seorang yang mengaku atheis pun pada hakikatnya tak mungkin
menyangkal keberadaan Zat Ilahiah. Penjelasan yang sangat rasional dari
Dostoevsky, “bila dinyatakan bahwa di alam semesta ini tidak ada Tuhan, menjadi
jelaslah bahwa semua perbuatan apapun akan dibenarkan.” Kalimat ini memberikan
penjelasan bahwa kebenaran bisa hadir pada setiap kelompok, tapi yang berhak
menentukan kebenaran universal hanya Tuhan. Artinya, untuk dimensi ketuhanan,
bisa saja sekelompok orang memegang teguh kebenarannya, sama halnya dengan
kelompok lain. Semua bisa benar, juga bisa salah.
Sejatinya , Jika benturan identitas primordial ini terus-menerus
dibiarkan, maka demokrasi kita tak ubahnya rimba belantara, yang kuat yang akan
menerkam yang lemah, dan yang banyak yang akan berkuasa. Menggoreng isu
primordial dalam Pilkada sama halnya mengadu seekor domba dengan serigala
lapar, atau membiarkan seekor anak ayam sekandang dengan ular piton.
Mengerikan.
Itulah tadi, 5 bahaya politik identitas bagi NKRI. Semoga dapat
bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar