Pada 30
September 59 tahun silam di Gedung PBB, New York, Amerika Serikat terjadi
peristiwa penting yang bukan saja dialami oleh Indonesia tetapi juga oleh
dunia. Pada hari itu, Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno atau yang biasa
akrab disapa Bung Karno berkesempatan menyampaikan gagasan di depan para
pemimpin-pemimpin negara di PBB. Pidato yang berjudul To Buid The World A New
(Membangun Dunia Kembali) dengan durasi sekitar 90 menit itu telah
menggemparkan dunia.
Pasalnya, isi pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan
berapi-api itu menelanjangi habis-habisan sistem atau konsep yang dibangun oleh
barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia.
To
Build The World A New Vs To Build a New World
Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam
kitab suci itu mengisyaratkan mengenai arti pentingnya pertemuan antar bangsa
dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan
wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam
bangsa.
Kitab Suci Islam
mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: “Hai, sekalian
manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki
dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia
diantara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”. Dan juga Kitab Injil
agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang
Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.
Saya sungguh-sungguh
merasa sangat terharu melepaskan pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah
buktinya akan kebenaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya,
bahwa pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya. Di sinilah
buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa beberapa kejahatan besar
sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada
Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat.
Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa
matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan,
sudah terbit di Asia dan Afrika,” sebut Bung Karno dukutip dari Buku
TUBBAPPI terbitan Departemen Penerangan RI tahun 1960.
Paragraf awal pidato tersebut menerangkan dalam Hukum Tuhan
dijelaskan manusia terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian yang
membedakan kemuliaan dari setiap manusia hanya ketakwaannya kepada Tuhan.
Sehingga dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menjadi
sunatullah jika ada bangsa yang membuat kerusakan dan ada yang membuat
perbaikan. Keduanya akan senantiasa berjalan bersamaan sampai akhir zaman.
Namun Indonesia dengan konsepsi Pancasila-nya memberikan
pandangan dan arah kepada dunia yang diawali dengan pelaksanaan Konferensi Asia
Afrika di Bandung tahun 1955. Di mana konferensi itu menghasilkan kemerdekaan
bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang kemudian disebutkan sebagai matahari
yang sudah lama diimpikan.
Menawarkan
Pancasila pada Dunia
Sejak abad 15, bangsa–bangsa barat dengan semboyan Gold, Glory,
dan Gospel (3G) telah mengarungi samudera untuk mencari daerah-daerah penghasil
rempah-rempah. Alih-alih ingin berdagang, akhirnya mereka menguasai satu per
satu hingga menanamkan suatu sistem atau konsepsi yang membuat ketidak
teraturan dunia bahkan sampai dengan hari ini. Dengan konsepsi yang ditanamkan
itu, pembentukan negara yang kuat dan perang ekonomi menjadi tujuan akhir untuk
penguasaan dunia di bawah satu kendali kaum yang sudah lama terusir dari
kampung halamannya.
Sistem yang bernama To Build The New World atau
To Build The New Order sudah didengungkan selama berabad-abad yang kelak akan
membawa titik nadir kehancuran bagi kehidupan manusia. Pada kesempatan 30
Sepetember 1960 itu, Sukarno yang merupakan jebolan perkumpulan Gang Peneleh
(Rumah HOS Tjokroaminoto) di Surabaya sudah membaca konstelasi tersebut saat
usianya masih relatif muda. Ketika tampil menjadi pemimpin bangsa Indonesia,
Sukarno bersama para tokoh atau pemuka bangsa Indonesia mulai menelurkan
gagasan untuk melakukan kontra terhadap konsepsi tersebut.
Alhasil, pada tahun 1945, konsepsi yang bernama Pancasila telah
dimufakati oleh para pemuka-pemuka bangsa Indonesia dalam sidang BPUPKI dan
PPKI menjelang kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pancasila yang
tertuang kemudian di dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi dasar terbentuknya Negara
kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 18 Agustus 1945. Meskipun di dalam
negeri, sejak awal kemerdekaan konsepsi tersebut cenderung ditinggalkan bahkan
sempat berganti konstitusi pada tahun 1949 dan 1950, namun di kancah
internasional tetap dijadikan simbol perlawanan kepada kolonialisme dan imperialisme
bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Kepercayaan diri Sukarno semakin meningkat pasca dikeluarkannya
Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 yang berisikan kembali ke UUD 1945. Dalam
kurun waktu setahun setelah dikeluarkannya dekrit, Sidang Umum PBB ke XV di New
York tanggal 30 September 1960 segera diselenggarakan. Akhirnya Sukarno yang
didaulat pula sebagai juru bicara dari negara-negara seperti Yugoslavia, Ghana,
India, Persatuan Arab, dan Birma menjadi orator di hadapan pimpinan majelis
Sidang Umum PBB.
Momentum itulah yang dijadikan kesempatan untuk melawan
konspirasi negara barat yang telah menguasai dunia dan membawa ketidak
teraturan negara-negara di dunia dengan suasana konflik yang diciptakannya.
Konflik yang berkepanjangan dari masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, kemudian
memasuki era Perang Dingin, yang sebenarnya hanyalah perang di antara mereka
yang memperebutkan lahan ekonomi dan menanamkan pengaruh untuk ikut blok-blok
yang bertikai.
Dengan kondisi demikian, pandangan Sukarno untuk menyerukan
perdamaian dunia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi tawaran
yang dibalut dengan istilah To Build The World A New. Artinya,
dengan istilah itu maka ada suatu rumusan bilamana dunia ingin damai maka hanya
Pancasila yang dapat dijadikan konsepsi bukan konsepsi seperti Kolonialisme dan
Imperialisme beserta turunannya yang sudah usang, serta telah terbukti terus
membuat kerusakan di muka bumi selama berabad-abad. Oleh karena itu, Pancasila
menjadi suatu kebenaran universal yang dapat diterima oleh setiap bangsa.
Hal itu membuktikan bahwa Pancasila sebagai Ubiquitous
Factor yakni merupakan faktor yang berada di mana-mana.
Artinya Pancasila merupakan kebenaran yang didasari dari nurani manusia atau Social
Conscience of Man. Maka dari naluri alamiah manusia itu
sejatinya menuju ke arah 5 sila yang dicetuskan oleh Sukarno pada 1 Juni 1945,
yang kemudian disempurnakan lagi oleh Panitia 9 dalam Mukadimah UUD 1945. Hal
itulah yang kemudian diurai oleh Sukarno dari sila per sila di hadapan delegasi
bangsa-bangsa di dunia secara detail dan seksama.
Jadi, dengan minta maaf
kepada Lord RusselI yang saya hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnya
terbagi dalam dua fihak seperti dikiranya. Meskipun kami telah mengambil
sarinya, dan meskipun kami telah mencoba mensintesekan kedua dokumen yang
peting itu; kami tidak dipimpin oleh keduanya itu saja. Kami tidak mengikuti
konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanya? Dari pengalaman kami
sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang
jauh lebih sesuai, sesuatu yang jauh lebih cocok. Arus sejarah memperlihatkan
dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan sesuatu konsepsi dan cita-cita. Jika
mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang,
maka bangsa itu ada dalam bahaya. Sejarah Indonesia kami sendiri
memperlihatkannya dengan jelas, dan demikian pula halnya dengan sejarah seluruh
dunia.
“Sesuatu” itu kami
namakan “Panca Sila”. Ya, “Panca Sila” atau Lima Sendi Negara kami. Lima Sendi
itu tidaklah langsung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of
Independence. Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu, mungkin sudah ada
sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa karni. Dan memang tidak
mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu
telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama
berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada
suatu saat kelemahan nasional. Jadi berbicara tentang Panca Sila dihadapan
Tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribu
tahun. (Kutipan Pidato Sukarno di PBB tahun 1960, Departemen Penerangan
RI).
Sukarno menyatakan nilai-nilai Pancasila yang dikandung baik
oleh manusia Indonesia selama dua ribu tahun maupun oleh bangsa-bangsa di dunia
telah ditenggelamkan oleh imperialisme yang memaknakan sebagai desain pemikiran
dari barat untuk merubah mindset tersebut,
sehingga tergantikan dengan mindset barat. Hal
demikian berdampak pada pola perilaku dan kehidupan manusia dari aspek budaya,
hukum, sosial, politik, dan ekonomi-nya. Pada akhirnya, peperangan dan
kerusakan lingkungan merupakan dampak yang tak dapat terbantahkan lagi dialami
oleh seluruh penduduk bumi.
Usai pidato ini, pernah ada wartawan asing yang menulis judul
pidato ini sebagai To Build a New World,
Sukarno pun langsung somasi ke media tersebut untuk mengganti tulisan itu.
Karena To
Build a New World jelas berbeda arti dengan To
Build The World A New, dan bisa menyesatkan pembacanya.
Istilah To
Build A New World pun sudah digunakan jadi tidak mungkin
Sukarno menggunakan judul yang sama agar tidak dicap plagiator. Sepintas orang
melihat ada kesamaan arti di antara kedua istilah tersebut, tetapi jika dilihat
secara epistimologi, kedua istilah itu mengandung arti yang berbeda bahkan
saling bertolak belakang.
To Build The World A
New dimaknakan sebagai memebangun dunia kembali. sedangkan To
Build a New World, membangun dunia yang baru. Membangun dunia
kembali artinya membangun fitrah manusia di dunia yang sebelumnya berperilaku
baik dan menjunjung tinggi akan Ketuhanan yang kemudian bergeser oleh arus
kolonialisme dan imperialisme. Sehingga moral dan etikanya menjadi rusak,
begitu pun dengan kehidupannya.
Ya, sejak NKRI berdiri pada 1945 dengan konsepsinya
(Pancasila-red) maka dengan itu pula negara baru ini harus siap berperang dalam
bentuk apapun, baik fisik maupun non fisik. Karena mempertahankan ajaran itu
perlu dengan peperangangan bahkan pengorbanan yang tidak sedikit. Seperti
itulah yang telah digariskan dalam Lahul Mahfudz, antara hak
dan batil yang selalu berhadapan dalam suatu front hingga
berakhirnya dunia.
Tinggal suatu pilihan, bagi Indonesia dan kita semua mau berada
di front yang
hak atau yang batil? Namun dalam suatu guratan sejarah, founding
fathers kita telah tegaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia
bukan hanya untuk bangsa Indoensia saja tetapi suatu perjuangan untuk umat
manusia.
Maka dari itu sudah sewajarnya bila Indonesia selalu menjadi
incaran dari negara-negara yang kerap membuat kerusakan di muka bumi. Tentunya
dengan berbagai cara yang mereka lakukan untuk melemahkan bahkan menghncurkan
kita.
Lihat saja dalam beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan
dikumandangkan, Indonesia sudah dibombardir oleh Sekutu, Agresi Militer Belanda
I, dan Agresi Militer Belanda II. Setelah itu ganti peperangan asimetris yang
digulirkan sejak pembentukan Negara Boneka oleh Van Mook, Perundingan Linggarjati,
Renvile, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) yang keseluruhannya tertuju pada
hancurnya NKRI beserta hancurnya ajarannya, yakni Pancasila dan UUD 1945.
Dengan tegas, kejadian demi kejadian itu harus kita ladeni
sampai benar-benar terjadinya kemenangan dari pihak kita. Sukarno pun berhasil
membuka keran kemenangan saat Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dikumandangkan dan
setahun kemudian melalui Politik Luar Negeri Bebas Aktif, Indonesia
menggelegar di Sidang PBB XV dengan konsepsi Pancasila yang ditawarkan kepada
dunia.
Praktis negara-negara yang terhimpun pada Old
Emerging Forces (Oldefo) atau negara-negara dengan kekuatan
dan konsepsi tua dibuat geram serta kebakaran jenggot. Ternyata ada negara yang
baru berusia 15 tahun ingin meruntuhkan hegemoninya, namun anehnya bukan
usianya yang belia melainkan ajaran yang dibawanya. Negara ini pun dianggap
tengah mengetahui sepak terjang suatu kaum yang berada dibalik aktor terjadinya
kekacauan dunia itu.
Tertutup
G30S/PKI
Pasca Sukarno pidato dengan heroik di tanggal tersebut, akhirnya
hanya ada 3 kata yang tersimpul dari negara-negara tersebut, yaitu Bunuh
sukarno, Matikan Ajarannya, dan Miskinkan Rakyatnya. Tahun 1965 di hari yang
sama (30 September-red), sang Designer melancarkan aksinya dan berhasil merubah
makna hari itu menjadi negatif dengan sebutan G 30 S PKI atau Gestapu yang
diambil dari nama Tentara Rahasia Nazi di era Perang Dunia II.
Akhirnya bangsa kita hanya tahu bahwa 30 September merupakan
hari naas dan tragis yang dialami oleh bangsa Indonesia. Pada malam pergantian
hari itu terjadi peristiwa diculiknya 6 Jenderal yang berbuntut pada pembubaran
PKI dan pembantaian jutaan manusia. Sehingga pidato heroik Sukarno di Gedung
PBB dalam rangka menggelorakan perang asimetris menghadapi pihak-pihak yang membuat
kerusakan pada tatanan dunia harus berakhir dan menuai kekalahan pada 5 tahun
setelah dikumandangkannya pidato tersebut.
Mulai hari ini, 30 September 2016 kita dapat mengganti istilah
Gestapu yang sarat dengan makna negatif menjadi hari digelorakannya perang
asimetris di PBB oleh Sukarno dalam rangka To Build The World A New versus To
Build a New World. Tanpa dipungkiri, perang asimetris itu masih
berjalan hingga hari ini. Saat ini dan ke depan kita semua menanggung amanah
untuk melanjutkan perang asimetris yang telah dilancarkan oleh Founding
Fathers kita. Peperangan yang akan menghasilkan antara hilang
atau tidaknya Pancasila, dan antara hancur atau tidaknya NKRI. Andaikata kita
kalah dan hancur itu lebih terhormat ketimbang diam atau balik menggerogoti
Pancasila dan NKRI, yang tentunya perbuatan itu sangat hina di sisi Tuhan Yang
Maha Kuasa.
*Artikel ini disadur
dari artikel asli berjudul Mengenang Pidato Bung Karno 30 September 1960, To
Build The World A New yang ditulis Letkol Laut (P) Salim, terbit di
Maritimnews.com tanggal 30 September 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar