Sabtu, 30 Juni 2018

Bumi Kandung Watukosek Terima Calon Brimob


Mojokerto.(30/6/2018)

Selamat datang calon" Bhayangkara Sejati d Bumi Kandung Brimob Watukosek..
Dari perut Bumi Kandung ini, 5 bln ke dpn engkau akan d gembleng d Lereng Gunung Penanggungan, shg nanti terlahir sbg Bhayangkara muda pejuang kemanusiaan penjaga dan mengabdi utk Bumi Pertiwi..NKRI..
Engkaulah yg terpilih d antara yg terbaik, sbg perwakilan Putra daerah seluruh pelosok Bumi Pertiwi...
Kuatkanlah mental n fisikmu, hilangkanlah pikiran daerahmu, teman n sanak saudaramu..

Krn skrg jiwa ragamu utk Bumi Pertiwi..
Fokuslah pd masa pendadaranmu..
Engkau akan melalui 5 bln masa yg bgitu panjang n lama dlm hidupmu..
Tiada Hari Tanpa latihan, tiap hari pagi, siang n malam akan kamu rasakan, matamu akan sulit terpejam dgn enak..
Shg kelak stelah 5 bln, dirimu akan trlahir sbg Bhayangkara sejati, yg akan tertanam dlm dirimu almamater 
Bumi Kandung tercinta..
...PADMA WIDYA CAKTI...
.........CATUR DAYA CAKTI.......
..BUDI..RAGA..WIDYA..DHARMA..
...........BIRAWIDHA.........
SEKALI MELANGKAH PANTANG MENYERAH, SEKALI TAMPIL HRS BERHASIL..
JIWA RAGAKU DEMI KEMANUASIAAN..
..B..R..I..G..A..D..E
..











Rabu, 27 Juni 2018



Polda Papua Siap Amankan Pilkada Serentak



Mewujudkan Pilkada Papua yang Aman, Damai, Demokratis, dan Bermartabat melaui penyelenggara yang independen, petugas keamanan yang netral, aparatur sipil negara yang tidak intervensi, paslon yang tidak mengerahkan massa untuk menyelesaikan masalah, 
media yang berimbang, dan tentunya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat Papua. Kami Siap! #papua #indonesia #pilkadapapua2018

Polres kabupaten Semarang Siap Amankan Pilkada




Semarang.
Dalam Rangka Pelaksanaan Pengamanan Pilkada Serentak Tahun 2018, Polres Semarang Polda Jateng melaksanakan Apel pergeseran pasukan bertempat di halaman Polres Semarang. Senin (25/06/2018)

Kapolres Semarang AKBP Agus Nugroho, SIK. MH Pimpin Apel Pergeseran Pasukan dalam rangka Pengamanan Pilgub 2018 yang dihadiri oleh Bupati Semarang, Dandim 0714/ Salatiga, Kajari atau yg mewaili, Ketua KPU, PJU Polres Semarang, Kapolsek jajaran, TNI, seluruh anggota Polres Semarang dan Linmas yang terploting dalam pengamanan tahap pemungutan suara Pilgub dan Wagub Jateng tahun 2018.


Kapolres Semarang membacakan sambutan dari Kapolda Jateng Irjen Pol Drs. Condro Kirono, M.M., M.Hum.

“Penyelenggaraan pilkada merupakan salah satu ciri yang harus melekat pada Negara yang menganut paham demokrasi maka keterlibatan pemerintah dan seluruh masyarakat sangat menentukan keberlangsungan pilkada Aman dan Damai.

Pelakasanaan Pilkada masih memiliki potensi konflik yang dipicu masalah administrasi data pemilih ,netralitas penyalenggara dan permasalahan lainnya,oleh karena itu diperlukan kerjasama seluruh elemen masyarakat untuk mendukung keberhasilan pilkada serentak dengan berpartisipasi menjadi pemilih serta terbangunnya antara penyelenggara dan pemangku kepentingan pilkada lainnya Papar Kapolres Semarang.

Humas Polres Semarang

Senin, 25 Juni 2018

Binmas Polres Semarang Giat Patroli Saat Libur Lebaran




Semarang.

Anggota Polwan Polres Semarang yang tergabung dalam satgas preemtif melaksanakan patroli di kawasan obyek wisata yang berada di wilayah Kabupaten Semarang. Rabu (20/06/2018)

Kapolres Semarang AKBP Agus Nugroho, SIK. MH melalui Kasat Binmas AKP Kristiyastuti menyampaikan, kegiatan Patroli dialogis merupakan rutinitas yang dilaksanakan oleh anggota Polwan Polres Semarang di hari libur untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat pengujung objek wisata di Kabupaten Semarang.


"Karena pada hari libur sudah tentu banyak pengunjung dari luar ataupun masyarakat sekitar yang melepas kejenuhan dengan berkunjung ke wisata yang berada di wilayah Kabupaten Semarang" terang Kapolres Semarang.

Tidak hanya memantau dan patroli saja, namun juga dilakukan imbauan kepada penjaga kolam renang dan pengunjung untuk terus memantau kolam renang ketika anak-anak sedang bermain di sekitarnya untuk menghindari adanya korban.

"Dengan kehadiran Polisi di tempat Wisata masyarakat merasa aman dan tenang, karena bisa mencegah niat orang untuk melakukan tindak kejahatan" Ujar AKP Tyas.

Humas Polres Semarang


Silaturahmi Setda Pasaman Barat




Pasaman Barat. ( BINs )

Bersama Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) YOSMAR DIFIA dalam acara HALAL BIHALAL sambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H dikediamannya, Perumahan Pasaman Baru Garden Simpang Empat, Senin (25 06 2018).
Acara ini digelar Dalam rangka  " Merekatkan silaturahmi antara awak media, aparatur sipil negara (ASN) berserta Pimpinan instansi terkait lainnya dengan Humas Setda Pasbar ".

Kebersamaan yang indah dan penuh keakraban ini, turut dihadiri Kasi Intel Kejaksaan LIMRA MESDI,SH, Kasat Intel Res Pasbar AKP. Wilson, Kapolsek Pasaman AKP. Muzhendra, Kanit Reskrim IPDA. Randia dan anggota, Junir Sutan Rajo Ameh, ALTAS MAULANA, Kabag Kesra HendrizalL. S.Ag./ Adex




Jumat, 22 Juni 2018

Aiptu Zainal Arifin Polisi Dengan Semangat Kemanusiaan





Bojonegoro.(Bhayangkara Indonesia News)

Anshori (12), pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Bojonegoro ini sejak lahir penyandang difabel. Namun, warga Desa Mayang Geneng, Kecamatan Kalitidu, tetap semangat bersekolah.


Adalah anggota Polsek Kalitidu, Aiptu Zainal Arifin yang mengantar Anshori berangkat dan pulang sekolah MI Islamiyah, berjarak 1,5 Km. Selama setahun ini Kanit Binmas Polsek Kalitidu, ini rela melakukan aktivitas antar jemput anak bungsu dari 2 bersaudara pasangan Karyo (52) dan Ny Mintri (50) tersebut.

Tak hanya mengantar di depan sekolah, Aiptu Zainal yang dikaruniai dua anak tersebut juga menggendong Anshori hingga ke bangku kelasnya. Begitu pun saat pulang sekolah, pria yang kini berusia 54 tahun itu juga menggendong Anshori dan menaikkan di atas motor dinasnya.



"Bukan apa-apa. Hanya Berharap ridho Allah," kata Aiptu Zainal Arifin saat ditemui detikcom di kantornya Jalan Raya Kalitidu, Senin (20/11/2017).

Saat wartawan kami mengikuti aktivitas Aiptu Zainal Arifin, Anshori terlihat akrab dan kadangkala bersendau gurau. Kurang lebih pukul 06.00 WIB, Aiptu Zainal tiba di rumah Anshori. Saat bertemu, Anshori tampak sudah berseragam dan duduk menunggu Aiptu Zainal. Sesekali keduanya terlihat bercanda.

Dari pantauan kami Anshori langsung membuka dua tanggannya dan memeluk leher Aiptu Zainal dari belakang. Aiptu Zainal menggendong Anshori yang tak memiliki kaki ini ke atas motor dinasnya. Dan saat motor melaju, Anshori tampak memeluk tubuh polisi tersebut dari belakang.

Iya, sudah setahun lebih mengantar Anshori cacat kaki ini dari rumah ke sekolah naik motor dinas ini," tambah pria kelahiran tahun 1963 silam.

Selain antar jemput Anshori, Aiptu Zainal juga memesan kaki palsu di Mojokerto. "Saat ini sudah saya pesankan kaki palsu di Mojokerto. Nanti Anshori tinggal kita bawa kesana untuk proses pengukuran," tuturnya. 

Sementara orangtua Anshori, Karyo mengaku senang dengan bantuan polisi tersebut. "Iya senang dibantu polisi antar jemput anak sejak setahun ini. Sebelumnya, saya yang mengantar," kata pria yang sehari-hari sebagai buruh tani. semoga lahir Bhayangkara bhayangkara sejati lainya./idris
Saat tampil di acara Hitam Putih Trans 7 (Jumat/22/6/2018 )

Polres Manggarai Siap Mengamankan Pilkada serentak






Manggarai . ( Bhayangkara Indonesia News ) .22/6/2018

Wartawan Bhayangkara Indonesia News mendapatkan kesempatan untuk mewancarai Kapolres Manggarai AKBP.Cliffry S Lapian, SIK, MH, di ruang kerjanya, dengan penuh keramahan dan menyambut baik kedatangan wartawan kami, Kapolres Manggarai saat di tanya terkait kesiapan Pilkada serentak di wilayah hukum kabupaten Manggarai , dengan jelas mengatakan “ ..bahwa polres manggarai sudah mengatur secara maksimal untuk melakukan pengamanan pilkada di Manggarai Timur. Dan polri dalam hal ini pihak Polres manggarai tetap netral karena tugas kami adalah mengayomi masyarakat , dan selalu mendekatkan diri dengan masyarakat bagi setiap jajaran polres ..” Ujar kapolres. Satu hal lagi ditambahkan oleh kapolres “ kasus yang sering terjadi di wilayah hukum manggarai adalah KDRT, perjudian, dan untuk aksi terror yang sedang menjadi isu hangat, polres manggarai siap mengantisipasi dan masyarakat diharapkan cepat melapor maka polri akan selalu siap “. Robert S Djola

Selasa, 19 Juni 2018

Ini Payung Hukum Pelantikan Komjen Pol M. Iriawan Sebagai Penjabat Gubernur Jabar





Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, melantik Penjabat Gubernur Jawa Barat, Komjen Pol Mochamad Iriawan, di Bandung.
Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) itu ditunjuk pemerintah untuk mengisi kekosongan jabatan Gubernur Jabar yang ditinggalkan Ahmad Heryawan.
Menurut Kepala Pusat Penerangan (Kaspuspen) Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, pelantikan Komjen Iriawan susah sesuai aturan. Dasar hukumnya sudah dipertimbangkan sebelum pelantikan. Bahtiar menyebut Pasal 201 UU 10/2016 tentang Pilkada sebagai payung hukum pengisian posisi penjabat gubernur.
“Dalam Pasal 201 UU Pilkada disebutkan, dalam mengisi kekosongan jabatan Gubernur diangkat Penjabat Gubernur yang berasal dari jabatan pimpinan tinggi madya, sampai dengan pelantikan Gubernur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” jelas Bahtiar kepada wartawan, Senin (18/6).
Bahtiar juga mengutip penjelasan Pasal 19 ayat (1) huruf b dalam UU 5/2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.
Dalam pasal tersebut diatur tentang ruang lingkup nomenklatur jabatan pimpinan tinggi madya. Pasal 19 ayat (1) huruf b menyebutkan yang dimaksud pimpinan tinggi madya adalah sekretaris kementerian, sekretaris utama, sekretaris jenderal kesekretariatan lembaga negara, sekretaris jenderal lembaga non-struktural, direktur jenderal, deputi, inspektur jendral, inspektur utama, kepala badan, staf ahli menteri, kepala sekretariat presiden, kepala sekretariat wakil presiden, sekretaris militer presiden, kepala sekretariat dewan pertimbangan presiden, sekretaris daerah provinsi, dan jabatan lain yang setara.
Aturan lain yang jadi payung hukum pengangkatan Penjabat Gubernur, kata Bahtiar, adalah Permendagri 1/2018 tentang Cuti Di Luar Tanggungan Negara bagi Gubernur, Wagub, Bupati, Wabup, Walikota dan Wawalikota. Dalam Pasal 4 ayat (2) dinyatakan Penjabat Gubernur berasal dari pejabat pimpinan tinggi madya atau setingkat di lingkup pemerintah pusat atau provinsi.
“Dan, Gubernur yang sudah dua kali jabatan, Plt-nya ya saat gubernur dan wakil habis masa jabatannya. Ada yang habis masa jabatan setelah selesai Pilkada serentak ya tetap ada Plt sampai pelantikan gubernur baru,” katanya.
Dalam konteks Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, masa jabatannya berakhir beberapa hari yang lalu, tepatnya 13 Juni 2018. Untuk mengisi kekosongan, Mendagri memutuskan mengangkat pelaksana harian (Plh) Gubernur Jabar, yakni Iwa Karniwa.
“Prinsipnya kami bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” kata Bahtiar.
Begitu juga dengan penunjukan Komjen Iriawan. Semua didasarkan pada aturan yang berlaku. Bahtiar akui, sempat ada pro kontra waktu Iriawan masih menjadi pejabat di Mabes Polri. Mantan Kapolda itu dipermasalahkan karena masih sebagai pejabat aktif Mabes Polri.
“Sekarang Komjen Pol Iriawan sudah tidak menjabat lagi di struktural Mabes Polri. Beliau sekarang di Lemhanas. Beliau adalah pejabat esselon satu Sestama Lemhanas atau setara Dirjen atau Sekjen di kementerian,” katanya.
Status Komjen Iriawan tambah Bahtiar, sama dengan status Irjen Pol Carlo Tewu yang diangkat menjadi Penjabat Gubernur Sulawesi Barat. Saat itu, Carlo Tewu tak menjabat di posisi struktural Mabes Polri, melainkan menjabat di Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam).
“Sesuai Keppres, Mendagri melantik sampai pelantikan Gubernur Jabar Terpilih hasil Pilkada Serentak nanti,” kata Bahtiar

Senin, 18 Juni 2018

Bung de groot



Tiga Medali Vatikan Soekarno Bikin Iri Presiden Irlandia

SEBAGAI Presiden pertama RI, Ir. Soekarno tidak hanya “mengoleksi” berbagai julukan. Mulai dari sang proklamator, putra sang fajar, pemimpin besar revolusi, hingga penyambung lidah rakyat. Tapi di sisi lain, Soekarno mengoleksi tiga medali yang tak terkira nilainya.
Bukan medali sembarangan. Presiden Soekarno mengoleksi tiga medali kehormatan tertinggi dari pemimpin umat Katolik, usai melakoni “hattrick” atau tiga kali kunjungan ke Vatikan dan bertemu tiga Paus yang berbeda.

Pada 13 Juni 1956, Soekarno menerima medali pertama dari Paus Pius XII. Medali kedua diterimanya pada 14 Mei 1959 dari Paus Yohanes XXIII dan hari ini 51 tahun silam atau 12 Oktober 1964, Soekarno disematkan medali ketiganya oleh Paus Paulus VI.
Pada kunjungannya yang ketiga kali, Soekarno bahkan dibuatkan perangko khusus oleh Vatikan dan dihadiahi cendera mata berupa lukisan mosaik Castel san Angelo Vatican.
Mungkin Soekarno satu-satunya Presiden muslim dari negara dengan mayoritas umat Islam terbesar dunia yang punya “prestasi” demikian.
Soekarno dianggap ketiga Paus tersebut lantaran di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut Islam, tetap menghormati dan menerima warganya sendiri yang beragama lain, terutama Nasrani.
“Aku orang Islam hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan,” tutur Soekarno dalam ‘Untold Story, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ karya Cindy Adams.
“Bahkan Presiden Irlandia pun mengeluh padaku bahwa dia hanya memperoleh satu,” lanjut Bung Karno.
Ya, tiga medali kehormatan Vatikan tersebut bikin iri salah satu koleganya, Presiden Irlandia, Éamon de Valera yang sedianya penduduk di negaranya 90 persen memeluk agama Katolik.
“Saya saja hanya punya satu penghargaan dari Vatikan. Saya iri dengan Anda,” keluh De Valera kala bersua dengan Soekarno pada suatu ketika.


Si Bung Besar




Apa perintah pertama Soekarno sebagai Presiden RI?

Sehari setelah kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang. Mereka menetapkan Soekarno sebagai Presiden RI pertama dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden RI. 

Tidak ada debat sengit dalam sidang di Gedung Road van Indie di Jalan Pejambon itu. Sederhana saja, PPKI memilih Soekarno sebagai presiden. Berbeda sekali dengan sidang paripurna di DPR yang penuh keriuhan, protes serta gontok-gontokan.

Kisah ini diceritakan Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007.

"Nah kita sudah bernegara sejak kemarin. Dan sebuah negara memerlukan seorang Presiden. Bagaimana kalau kita memilih Soekarno?" 

Soekarno pun menjawab, "Baiklah."

Sesederhana itu. Maka jadilah Soekarno sebagai Presiden pertama RI. Namanya negara yang baru seumur sehari, tidak ada mobil kepresidenan yang mengantar Soekarno. Maka Soekarno pun pulang berjalan kaki.

"Di jalanan aku bertemu dengan tukang sate yang berdagang di kaki lima. Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia memanggil pedagang yang bertelanjang kaki itu dan mengeluarkan perintah pelaksanaannya yang pertama. Sate ayam 50 tusuk!" ujar Soekarno.

Itulah perintah pertama presiden RI. "Sate ayam 50 tusuk!"

Soekarno kemudian jongkok di pinggir got dekat tempat sampah. Sambil berjongkok, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia itu menghabiskan sate ayam 50 tusuk dengan lahap. Itulah pesta perayaan pelantikannya sebagai Presiden RI.

Saat Soekarno pulang ke rumah, dia menyampaikan dirinya telah dipilih menjadi Presiden pada Fatmawati, istrinya. Fatmawati tidak melompat-lompat kegirangan. Fatmawati menceritakan wasiat ayahnya sebelum meninggal.

"Di malam sebelum bapak meninggal, hanya tinggal kami berdua yang belum tidur. Aku memijitnya untuk mengurangi rasa sakitnya, ketika tiba-tiba beliau berkata 'Aku melihat pertanda secara kebatinan bahwa tidak lama lagi...dalam waktu dekat...anakku akan tinggal di istana yang besar dan putih itu'. Jadi ini tidak mengagetkanku. Tiga bulan yang lalu, Bapak sudah meramalkannya," ujar Fatmawati tenang.

Soekarno memang ditakdirkan jadi orang besar dengan segala ceritanya./Merdeka




Si Bung


Cerita kesedihan Megawati saat 'Desoekarnoisasi' terjadi


Jakarta. 21/6/2018
Presiden Joko Widodo menunjuk Megawati Soekarnoputri dan delapan tokoh lainnya sebagai Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Megawati mengaku kaget atas penunjukan itu. Mega juga bercerita soal munculnya 'Desoekarnoisasi' setelah ayahnya lengser dari kursi presiden.
Pernyataan ini disampaikan dalam acara peringatan Haul Bung Karno ke-47 dan peluncuran buku 'Bung Karno, Islam dan Pancasila'. Buku tersebut ditulis oleh Ketua Fraksi PDIP yang juga anggota Komisi III Ahmad Basarah. 

Hadir pula sejumlah menteri Kabinet Kerja, kepala lembaga negara. Dari kalangan menteri terlihat hadir, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Terlihat juga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat, mantan Ketua MK Mahfud MD, Jaksa Agung M Prasetyo serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

"Saya lihat ada Pak Mahfud Md sekarang beliau bersama-sama saya baru beberapa hari yang lalu dilantik oleh bapak presiden untuk bersama berada di sebuah unit yang ketika saya pun kaget dilantik juga," kata Megawati saat memberikan sambutan di Komplek Parlemen, Senayan,  Rabu (21/6).


Jokowi sempat bertanya kesediaan Megawati untuk mengisi posisi dewan pengarah UKP-PIP. Megawati menegaskan, siap ditempatkan posisi mana pun untuk membantu membumikan Pancasila. 

"Lalu presiden bertanya kepada saya 'Ibu enggak apa-apa ya kalau jadi ketua pengarah unit' buat pancasila sih saya ditaruh dimana saja berterima kasih," ucap Mega menirukan percakapannya dengan Jokowi.

Dalam kesempatan ini, Megawati membuka kenangannya saat Proklamator sekaligus Ayahnya Soekarno dilengserkan dari jabatan Presiden RI pada tahun 1967. Dilengserkannya Soekarno ternyata memberikan pengaruh besar kepada masyarakat. 

Bahkan, kata Megawati, muncul istilah politik 'desoekarnoisasi' di masyarakat. Penyebutan nama Soekarno menjadi tabu diucapkan dan menimbulkan ketakutan bagi para pengagum Soekarno. 

"Tadi saya bilang ke Pak Arief (Ketua MK, Arief Hidayat), kenapa sampai sedemikian rupa. Karena dalam politik ada proses desoekarnaisasi, sampai Pak Arief ngomong foto saja harus diturunkan. Di kalangan rakyat itu terjadi," ulasnya. 

Fenomena itu ternyata berdampak pada diri Megawati. Megawati mengaku sampai harus dikeluarkan dari bangku perkuliahan karena diketahui anak dari tokoh berjuluk putra sang fajar itu. 

"Tapi yang jadi persoalan, secara pikiran kalau diputar bahwa hal itu benar, dalam jiwa kita dikatakan benar sehingga mendatangkan ketakutan, jangan coba sebut nama itu tabu. Sampai saya yang maunya kuliah, kebetulan karena saya anak biologis bung karno dikeluarkan tidak bisa," tambahnya. 

Lebih lanjut, Mega menuturkan, dirinya sempat ditanya oleh pihak   Badan  Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) soal Bung Karno. Megawati membela ayahnya. 


"Itulah masa-masa itu berpuluh-puluh tahun, sampai ada BP7 sampai teman saya menjadi manggala, kadang datang sembunyi-sembunyi lalu datang bertanya tentang Bung Karno. Mereka bingung. Kalau dulu saya itu selalu dikatakan membela orang tua. So what memang enggak boleh membela orang tua?" tukasnya.

Tak sampai di situ, Presiden ke 5 RI ini pernah mendapat pertanyaan menohok terkait Soekarno. Hal itu terjadi saat tahun 1993 saat memberikan kuliah umum kepada anggota ABRI di Sekolah Staf dan Komando ABRI. 

"Ketika tahun 1993 saya menjadi ketua umum PDI memberi kuliah di Sesko ABRI. Saya menyiapkan diri, berlembar-lembar saya siapkan, boleh tanya jawab. Semuanya diam, lalu saya katakan pada pimpinan kalau tidak ada yang mau bertanya tidak perlu dipaksakan. Tapi ada satu perwira yang mengangkat tangan," tuturnya.

Kala itu, ada seorang perwira yang bertanya apakah Soekarno adalah seorang pengkhianat bangsa. Megawati secara tegas membantah bahwa Soekarno adalah pengkhianat. 

"Bolehkah saya bertanya, bagaimanakah menurut Ibu orang bernama Soekarno apakah dia seorang pengkhianat? Saya betul-betul kaget, lalu saya berpikir apakah menjawab sebagai ketua partai, warga negara atau anak Bung Karno. Saya tanya pimpinan minta arahan apakah boleh menjawab," ujarnya. 

"Lalu saya jawab anak muda sekalian di sini, saya akan mencopot kostum sebagai ketua umum partai, saya katakan secara tegas, berani disumpah, saya Megawati Soekarnoputri bahwa ayah saya bukanlah seorang pengkhianat bangsa," sambungnya. 

Dia menduga pertanyaan yang disampaikan perwira tersebut titipan dari pihak tertentu. Setelah acara selesai, perwira tersebut mendatanginya dan meminta maaf atas pertanyaan yang menyangkut Soekarno. 

Megawati meminta perwira dan seluruh masyarakat tidak mengkerdilkan Soekarno. Sebab, seluruh dunia mengakui pemikiran, kewibawaan dan kepemimpinan Soekarno. 

"Setelah selesai mereka merubung saya. 'Saya minta maaf kepada ibu, kata saya minta maaflah kepada proklamatormu Bung Karno'," papar Megawati./ Merdeka

Sabtu, 16 Juni 2018

06 -06-1901 ==== 21-06-1970 Si Bung


Dengan sandal butut dan kaos lusuh, Soekarno tinggalkan istana

History Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mencabut kekuasaan Presiden Soekarno tanggal 12 Maret 1967. Sebelumnya sejak Surat Perintah 11 Maret 1966, kekuasaan memang telah beralih pada Jenderal Soeharto
memilih mengalah. Maka pelan-pelan Soekarno yang masih tinggal di Istana Negara dijadikan tahanan rumah. Pemerintahan Orde Baru mulai memerintahkan menurunkan gambar-gambar Soekarno dari kantor-kantor dan sekolah.


16 Agustus 1967, Soekarno meninggalkan Istana. Tak ada raungan sirine atau pengawalan laiknya seorang pejabat negara. Tidak ada lagi bendera kepresidenan yang 20 tahun menemani Soekarno.

"Bung Karno keluar hanya memakai piyama warna krem serta kaos oblong cap cabe. Baju piyamanya disampirkan di pundak, memakai sandal cap bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang koran yang digulung agak besar, isinya bendera sang saka merah putih," kata Perwira Detasemen Kawal Pribadi Sogol Djauhari Abdul Muchid.

Hal itu diceritakan dalam buku 'Hari-hari Terakhir 
Soekarno' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Tak ada pengawalan layaknya kepala negara, hanya seorang pria tua berusia 65 tahun terkantuk-kantuk dalam mobil tua menyusuri jalanan 
Jakarta yang macet. 

Soekarno sempat tinggal di paviliun Istana Bogor. Gerakannya masih relatif bebas. Maka tentara kemudian melarang Soekarno kembali ke Jakarta. Tentu hal ini membuat Soekarno menderita. Dia mulai sakit-sakitan.

Akhirnya Agustus 1967, Soeharto juga mengeluarkan ultimatum bagi anak-anak 
Soekarno. Mereka disuruh meninggalkan Istana Negara. Terpaksa mereka tinggal mengontrak, sementara sebagian tinggal bersama Fatmawati di Kebayoran Baru.

Desember 1967, giliran 
Soekarno dan Hartini yang diperintah meninggalkan paviliun Istana Bogor. Kondisi kesehatan Soekarno makin buruk. Dia kemudian pindah ke Batutulis, sebelum akhirnya menjadi tahanan rumah di Wisma Yasoo, Jakarta.

Di Wisma Yasoo inilah 
Soekarno diperlakukan sebagai pesakitan. Kondisinya terus memburuk. Tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan nafas terakhir. Berakhirlah hidup Proklamator, pejuang dan presiden pertama Indonesia ini. Ironisnya, dalam status tahanan rumah. Dia ditahan oleh bangsanya sendiri. /Merdeka


OJK, BEI, DAN KSEI TUNTASKAN EMPAT AGENDA REFORMASI TRANSPARANSI PASAR MODAL INDONESIA

SIARAN PERS BERSAMA Nomor: SP 64/OJK/DKPU/IV/2026 Nomor: 28/BEI.SPR/04-2026 Nomor: PR-005/KSEI/SKE/0426 Jakarta -  2 April 2026. Otoritas ...